esai kacau

PERKEMBANGAN ILMU ANTI PENUAAN DINI
SEBAGAI SEBUAH BUDAYA TANDING GAYA HIDUP SERBA INSTAN DI ERA GLOBALISASI

Oleh : Ni Putu Rastiti
Mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana

Penuaan dan Gaya Hidup di Era Globalisasi
Lahir, hidup, menjadi tua, dan akhirnya mati. Sepertinya perjalanan manusia memang sangat sederhana. Semuanya terjadi, hampir tanpa disadari. Kenyataannya adalah semakin hari, manusia kian menjadi tua. Mulanya, tiap orang menikmati limpah anugrah dalam hidup mereka. Menjalani keseharian, menikmati keremajaan, dan mewujudkan impian. Kemudian ada masanya manusia mulai memikirkan usia yang terus menerus bertambah, terutama ketika penyakit mulai menggerogoti, menipisnya rambut di kepala, kerutan di kulit yang mulai kentara atau naiknya berat badan yang tak terduga. Di samping itu, orang – orang juga merasakan penurunan tenaga, nyeri di persendian, penurunan kemampuan memori, perubahan fungsi saluran cerna, hingga masalah saluran kemih. Dan proses tersebut, di era sekarang, telah berlangsung semakin cepat.

Menyadari kenyataan tersebut, orang – orang tak pernah berhenti berjuang untuk melawan fenomena ini. Penelitian dilaksanakan di aneka segi, di bidang nutrisi, estetika, hormonal (endokrin), hingga kedokteran olahraga. Dari penelitian tersebut, diperoleh fakta bahwa kebiasaan seseorang sangat mempengaruhi kualitas hidupnya. Oleh karena itu, dilakukan pengkajian yang lebih intensif mengenai bagaimana membentuk pola – pola tindakan pencegahan yang mampu mengatasi proses penuaan, utamanya di era globalisasi seperti sekarang ini.

Globalisasi yang disepakati sebagai medan pergulatan yang justru membentuk kesadaran palsu mengenai kenyataan dan trend keseharian (Lorraine Gamman dan Margaret Marshment, 1998), dinilai telah mengakibatkan pergeseran gaya hidup masyarakat di seluruh dunia. Dominique Wolton menyatakan bahwa setelah globalisasi politik dan ekonomi, umat manusia tengah memasuki globalisasi budaya. Globalisasi, disadari atau tidak, telah membawa percepatan perubahan yang tak tertolak. Hal ini, menurut Anthony Giddens, menjadikan bumi sebagai sebuah kampung global (global village). Ruang – ruang pribadi seakan tak berjarak oleh karena pesatnya perkembangan teknologi. Belum lagi, telepon genggam yang semakin mempermudah arus informasi dan keintensifan berkomunikasi.

Orang – orang lebih disibukkan oleh pekerjaan untuk membeli berbagai macam hal, yang pertimbangan utamanya bukanlah soal kebutuhan melainkan pengaruh trend budaya populer yang cenderung konsumtif. Selain itu, telah terbentuk mental instan dimana tiap orang berupaya mencari jalan termudah untuk memenuhi keinginannya, dengan kata lain, tidak mau repot.

Globalisasi memang telah membentuk masyarakat modern dengan intensitas kesibukan yang tinggi. Segala hal diusahakan terlaksana dengan waktu singkat. Hal ini mengakibatkan perubahan kebiasaan makan masyarakat, dari pola makan tradisional yang tinggi karbohidrat, tinggi serat, dan rendah lemak, ke pola makan modern yang tinggi lemak, tapi rendah serat dan karbohidrat. Di tengah kesibukan tersebut, makanan cepat saji menjadi pilihan yang banyak diminati. Selain cepat, menyantap junk food seakan memberi kesan modern karena sangat mengedepankan keinstanannya. Pola makan inilah yang terkait erat dengan masalah kolesterol, yang menjadi penyebab utama penyakit jantung dan stroke. Orang yang mengkonsumsi makanan tinggi kalori, protein, karbohidrat dan lemak beresiko tinggi mengidap diabetes, hipertensi, asam urat, dan lain – lain.

Globalisasi juga menyebabkan perubahan jenis pekerjaan masyarakat. Di era kini, sebagian besar masyarakat lebih berminat pada sedentary job, yakni pekerjaan yang tidak banyak mengeluarkan tenaga, semisal programmer, designer, entrepeneur, serta profesi yang berhubungan dengan teknologi informasi. Berdasarkan penelitian, rata – rata orang Indonesia bekerja selama kurang lebih 8 jam sehari. Dan aktivitas yang biasanya dilakukan setelah bekerja adalah istirahat, misalnya menonton televisi, mendengarkan musik, pergi ke mall, duduk – duduk sambil mengobrol di emperan toko 24 jam, menghabiskan waktu senggang berjam – jam di depan komputer dan kegiatan – kegiatan yang cenderung mencerminkan budaya populer, yang hedonis, yang dicirikan dengan adanya MacWorld, yakni ikon MTV, Macintosh, dan McDonald.

Tak salah kiranya seiring berjalannya waktu, aktivitas yang tidak membutuhkan tenaga yang dibarengi dengan kebiasan konsumsi makanan tinggi kalori, dan lemak sangat mempengaruhi pergeseran jenis penyakit dewasa ini, yakni dari penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif. Penyakit – penyakit degeneratif inilah yang mengiringi sekaligus mempercepat proses penuaan.

Anti Penuaan Dini : Ilmu yang Universal
Globalisasi tentu telah menjadi faktor pendorong tercetusnya suatu bidang ilmu yang diharapkan mampu menjawab kecemasan banyak orang perihal proses penuaan. Dalam perkembangannya, konsep ilmu anti penuaan sangat universal. Ia mencakup berbagai cabang ilmu kedokteran seperti endokrin, sport medicine, nutrition medicine, spa medicine, estetik medicine, biokimia, fisiologi, anatomi, biologi molekuler, genetik, neurologi, dan lain sebagainya.

Konsep anti penuaan dini tidak hanya soal perawatan dan pengobatan medis tetapi juga bagaimana menerapkan gaya hidup yang baik dan sehat, sebagai upaya preventif atau pencegahan penyakit, utamanya penyakit degeneratif, yang pada akhirnya mampu menghambat proses penuaan. Ragam pola perilaku yang dikaji dalam ilmu inilah yang diharapkan mampu menjadi budaya tanding gaya hidup serba instan yang konsumtif dan cenderung hedonis di era globalisasi.

Pengobatan anti penuaan didasarkan atas beberapa prinsip, yakni mengoptimalkan gaya hidup yang didokumentasikan berdasarkan data medis, menggunakan teknologi terbaru untuk mendeteksi, mencegah, dan melakukan terapi terhadap penyakit terkait dengan penuaan, peer-review, menitikberatkan pada pencegahan, ilmiah, dan evidence based medicine. Ragam program anti penuaan dini pun mulai marak. Detoksifikasi, diet, terapi ozone, latihan fisik, pengurangan stres, suple¬mentasi, harmonisasi hormon, dan perawatan untuk memperbaiki penampilan fisik dan estetika. Di samping juga, kegiatan edukatif yang berupaya mempromosikan perilaku hidup sehat.

Penuaan, Tidak Melulu Soal Fisik
Prinsip pengobatan anti penuaan, seperti yang disampaikan di atas, dilakukan dengan mengoptimalkan gaya hidup masyarakat yang disinergikan dengan data – data medis. Persoalannya adalah, di masyarakat masih berkembang anggapan bahwa penuaan hanya dilihat dari kemampuan fisik yang menurun. Jadi, sebelum terjadi penurunan kemampuan fisik, orang – orang cenderung abai pada kebiasaan hidup sehat. Dengan kata lain, sebelum terjadi keluhan – keluhan fisik yang mengganggu aktivitas sehari – hari, masyarakat seakan tidak peduli pada apa yang dimakan, atau kegiatan apa yang dilakukan untuk mengisi waktu luang.

Memasuki usia 40-an tahun, seseorang telah mulai mengalami proses penuaan. Kulit mulai tampak berkeriput dan kering sebab produksi kelenjar keringat pada kulit mulai menurun. Kemudian, diikuti proses pigmentasi kulit yang semakin meningkat dan rambut mulai beruban. Gejala negatif lainnya adalah keluhan penyakit jantung, hipertensi, katarak dan penyakit degenaratif lainnya. Sementara itu, gejala perubahan kejiwaan yang tampak dalam proses penuaan penurunan daya ingat. Gejala lainnya adalah sulit membedakan dan mengingat sesuatu seperti nama orang, tempat, dan ruang.

Dalam dunia anti penuaan dini, dikenal dua macam usia, yaitu usia kronologis dan usia fisiologis atau biologis. Usia kronologis ialah usia sebenarnya sesuai tahun kelahiran, sedangkan usia fisiologis atau biologis ialah usia sesuai dengan fungsi organ tubuh. Usia kronologis tidak selalu sama dengan usia fisiologis. Normalnya, ada tiga fase penuaan yang didasarkan pada kemampuan fungsi organ, yakni :
– Fase subklinis (25-35 tahun):
• Hormon mulai menurun
• Terjadi pembentukan radikal bebas, yang diiringi dengan kerusakan Bel dan DNA
• Kondisi fisik masih normal.
– Fase Transisi (35-45 Tahun) :
• Penurunan hormon mencapai 25 %
• Massa otot tubuh menurun
• Lemak tubuh meningkat
• Elastisitas kulit mengendur, dan terjadi pigmentasi
• Radikal bebas mulai merusak dan muncul gejala awal penyakit
• Kondisi fisik mulai mengalami penurunan
– Fase Klinis (45 Tahun Ke Atas)
• Produksi hormon menurun
• Kemampuan menyerap nutrisi, vitamin, dan mineral berkurang
• Massa tulang semakin berkurang
• Mulai muncul gangguan dalam beraktivitas sehari-hari
• Gangguan fungsi seksual

Ketiga fase tersebut akan berlangsung semakin cepat jika tidak diikuti dengan gaya hidup sehat. Terutama dengan adanya globalisasi yang menyebabkan pergeseran kebiasaan yang mengakibatkan perubahan penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif, seperti yang telah disampaikan di atas.

Cowers pada tahun 1902 menekankan bahwa proses penuaan dan terjadinya penyakit degeneratif memiliki siklus dasar yang sama, yakni adanya penurunan daya tahan sel neuron (sel saraf), yang menyebabkan kematian dini. Pada perkembangan selanjutnya, Spatz menggambarkan penyakit degeneratif sebagai suatu proses kerusakan sel neuron secara cepat yang juga mengakibatkan kerusakan sel, jaringan dan organ, yang pada akhirnya menyebabkan penyakit – penyakit gangguan metabolik. Kemunduran fungsi susunan saraf yang disertai gangguan metabolik inilah yang mempercepat proses penuaan.

Anti Aging : Tetap Semangat di Usia Tua
Tidak dapat dipungkiri, manusia selalu ingin tampil lebih muda. Bahkan, orang – orang Mesir pada jaman dahulu rela berkubang di lumpur untuk mengencangkan kulit mereka. Ada pula yang rela berendam berlama – lama di kolam dingin, agar tubuh tetap terlihat segar. Ada anggapan jika tampil lebih muda, maka gairah untuk berkarya tetap terjaga. Selalu ada semangat untuk melakukan berbagai hal. Namun, kenyataan yang terjadi sungguh berseberangan. Hal ini khususnya terjadi di Indonesia. Memasuki usia 40-an, orang – orang seakan kehilangan asa untuk berbuat sesuatu. Banyak orang mulai mengeluhkan banyak hal. Sakit pinggang, cepat lelah, letih, lesu dan bahkan mesti menjalani pengobatan karena penyakit – penyakit seperti diabetes, jantung, kanker, dll. Hal ini diperkuat oleh penelitian, bahwa terjadi penurunan fungsi organ sekitar satu persen setiap tahunnya ketika seseorang berusia 30 tahun. Penurunan fungsi organ

Berdasarkan ilmu ini, ada banyak cara untuk memperlambat penuaan. Misalnya dengan menghindari stres berlebih, mengatur pola makan, kebiasaan berolahraga, tidak merokok, menjauhi minuman beralkohol, serta tidak menggunakan narkoba, dan tidur yang cukup. Cara – cara di atas sangat terkait erat dengan gaya hidup. Oleh karena itu, anggapan bahwa anti aging hanya soal kosmetik dan estetik saja adalah salah besar. Prinsipnya adalah mental yang sehat dibarengi dengan gaya hidup yang baik di tengah kecendrungan globalisasi yang mengedepankan pola hidup konsumtif dan hedonis yang tidak sehat.

Kita semua paham bahwa globalisasi terbukti memberi keuntungan utamanya di bidang teknologi. Dalam keseharian, kita begitu akrab dengan internet, makanan cepat saji, hiburan dan budaya populer lainnya. Namun, tidakkah ini merupakan suatu hal yang mesti kita kritisi bersama. Bagaimana segala informasi yang tak terbendung hadir di tengah ruang – ruang pribadi kita, melalui televisi, telepon genggam, internet tanpa kita sadari telah menjadi bagian dari keseharian kita. Hal tersebut juga telah membentuk pola – pola perilaku yang cenderung mengarah pada konsumerisme dan gaya hidup yang serba instan. Oleh karena itu, marilah menjadi tua dengan anggun, dengan membiasakan diri hidup sehat.

Sejak awal 1990-an di Amerika dan Eropa, telah dilakukan penelitian mengenai anti penuaan dini. Berbagai organisasi ilmiah untuk bidang tersebut pun mulai bermunculan. Misalnya, WAAAM (World Anti Aging Academy of Medicine), A4M (American Academy of Anti Aging Medicine), ESAAM (European Society of Anti Aging Medicine). Hal ini tentu saja semakin membangkitkan harapan bagi umat manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Jadi, penuaan seperti halnya penyakit dapat dicegah. Bahkan, dengan sangat optimis seorang pakar anti penuaan dini menyatakan bahwa risiko penyakit yang dihadapi sepuluh tahun mendatang dan bagaima¬na mencegahnya, dapat ditangani dengan pengobatan anti penuaan pada saat ini yang bertumpu pada pola perilaku hidup sehat yang menjadi prinsip utamanya. Harapan untuk dapat hidup layak di usia tua bukan lagi sekadar angan yang sia – sia, melainkan dapat diwujudkan oleh setiap orang, khususnya di Indonesia, yang umur hidup masyarakatnya rata – rata hanya 65 tahun. Ini tentu sangat rendah jika dibandingkan dengan rata – rata orang Amerika dan Jepang, yaitu sekitar 75 tahun.

Dengan perkembangan ilmu anti penuaan dini, beberapa tahun ke depan, meski seseorang berumur 70 tahun, manusia bisa tetap produktif, melakukan banyak hal dengan mental yang sehat dan kreatif. Oleh karena itu, sedini mungkin, kita ubah pola prilaku, dari perilaku konsumtif menjadi produktif, dan dari mental instan menjadi mental kreatif. Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa, perkembangan ilmu anti penuaan dini merupakan budaya tanding gaya hidup serba instan di era globalisasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s