Hari-hari Salamander

Berikut salah satu cerpen saya yang terangkum dalam antologi cerpen perempuan “Hari-hari Salamander”
Dongeng Ibu
Dulu, setiap malam ibuku selalu bercerita tentang sepasang kekasih bernasib malang. Mereka hanya dapat bertemu sekali dalam satu tahun penuh. Hampir tiap malam aku dan saudara – saudaraku meminta ibu menceritakan kisah itu. Terkadang pada bagian di mana sang putri mengorbankan dirinya demi kekasihnya, aku memergoki mata adik perempuanku berkaca – kaca saking terharunya. Lalu aku dan saudara lelakiku akan mengejeknya hingga dia menangis sungguhan. Kemudian, ibu akan menjewer telinga kami. Akhirnya, kami tertawa bersama-sama, sampai ibu menyuruh kami untuk segera tidur.
***
Pada suatu hari di negeri yang jauh, hiduplah seorang putri yang sungguh cantik. Kulitnya putih dan lembut, persis seperti warna awan di musim semi, bola matanya hitam dan jernih, seakan ada kolam bening yang memantulkan bayang-bayang yang tak terjelaskan namun menyenangkan, bibir mungilnya berwarna merah muda, rambutnya panjang dan indah, seakan tiap kali ia melangkah, helai rambutnya akan bergerak indah seirama langkah kakinya. Setiap hari ia berjalan – jalan ke taman yang penuh dengan bunga, tepat di belakang istana. Di sana terdapat sebuah kolam berwarna hijau tempat sepasang angsa berenang dengan riang. Aneka macam bunga, warna warni menghiasi tiap sudut taman. Sang putri sangat menyukai taman itu.
Di luar istananya yang megah, tanpa diketahui oleh sang putri, terdapat padang rumput yang sungguh luas. Para gembala sering membawa domba – domba mereka ke sana. Sambil menunggui piaraan itu merumput, para gembala akan beristirahat di bawah pohon-pohon yang tumbuh rimbun di sisi tenggara padang rumput itu. Di tengah gerombolan gembala, ada salah seorang gembala muda yang tampan dan baik hati namun penyendiri. Ia sangat pandai meniup seruling. Suara yang muncul dari seruling si pemuda selalu saja dapat menenangkan hati orang – orang yang tengah gundah gulana di sana.
Sesekali sang putri hanya mendengar suara seruling gembala itu, yang mengalun lembut ke telinganya. Sang putri mengira itu adalah suara angin di pepohonan yang begitu indah.
Pada bulan keempat di tahun itu, bunga bunga mekar menghiasi tiap sudut taman. Sang putri yang mengenakan gaun hijau muda yang sangat menawan, berkali kali memimpikan seorang peniup seruling. Tanpa ia sadari sang putri yang cantik itu telah jatuh cinta pada si peniup seruling. Tiap malam ia bermimpi tertidur dalam pangkuan si peniup seruling. Karena begitu ingin bertemu dengan si peniup seruling, ia mencari cari arah suara yang selalu didengarnya itu. Semakin dekat sang putri pada arah suara itu hatinya kian berdebar. Setelah lama berjalan, ia berada di pagar pembatas taman. Namun ia tak putus asa. Ia menaiki tembok pembatas dengan akar akar rambat yang tumbuh lebat.
Begitu melihat keluar, sang putri terpukau melihat hijaunya padang rumput, ia tak pernah mengira ada taman yang lebih luas dan indah dari taman miliknya. Ia menari nari di sana di tengah alunan seruling yang kini terdengar sangat jelas, lalu sang putri berlari ke arah peniup seruling yang ia lihat di kejauhan.
Si peniup seruling yang pendiam itu tersenyum bahagia melihat kekasih yang ditunggunya saban hari datang. Dan sang Putri menyadari bahwa selama ini ia telah jatuh cinta pada si peniup seruling. Mereka pun memutuskan bersama dan hidup bahagia. Namun sang raja murka mengetahui putrinya menghilang dan menikah diam diam dengan seorang pengembala. Sang raja memerintahkan untuk menghukum mati si gembala, sang putri yang mengetahui hal ini menyamar menjadi suaminya, dan ia memberikan obat tidur yang diberikan pelayan setianya kepada sang suami sehingga selama setahun sang suami tertidur. Ketika pemuda gembala bangun kembali, ia membaca surat yang ditinggalkan istrinya. Orang orang di sekitarnya menghibur si gembala. Pemuda itu sangat sedih dan tiap hari hanya meniup seruling.
Suatu hari pemuda itu menghilang, tak ada yang tahu kemana dia, orang orang menemukan serulingnya teronggok di bawah pohon. Kini, setiap bulan keempat orang orang akan melihat sebuah pelangi meski tak ada hujan, lalu tampak bayangan sepasang kekasih yang sedang bercumbu di atas pelangi itu.
***
Usai menceritakan bagian terakhir kisah itu, semua saudaraku sudah tertidur, termasuk adik perempuanku. Biasanya ibu menyuruhku mengambil selimut dan membawakannya segelas air. Sampai ia tertidur di samping saudaraku aku masih belum bisa lelap. Kuperhatikan adik perempuanku. Napasnya teratur dan mulutnya yang mungil, persis seperti putri, membuka sedikit. Aku selalu mengecup keningnya sampai akhirnya aku terlelap di sampingnya.
***
Suatu hari di bulan Juli yang dingin kakak lelakiku membawa kabar gembira. Setelah merampungkan kuliahnya dengan nilai tertinggi ia langsung diterima di perusahaan transnasional impiannya di Irian Jaya tentu dengan pertimbangan karier yang mantap dan gaji yang besar. Semenjak itu ia memang tak pernah pulang sama sekali. Bahkan di hari pemakaman ibu ia hanya mengirimkan selembar telegram mengatakan ia tak bisa pulang. Karena itu pula aku tak lagi menunggu kabar darinya. Jauh di hatiku ada kekecewaan yang mendalam, sebab satu per satu saudaraku kini telah meninggalkan rumah lengkap dengan impiannya masing – masing. Sedang aku masih di rumah ini, berkutat menyelesaikan novel yang menjadi deadline pekerjaan tahun ini. Gairahku menjadi jurnalis pun tergantikan menjadi seorang penulis novel sejak tiga tahun lalu.
Suatu hari di pertengahan Oktober, aku seperti melihat bayangan ibu tengah menanak nasi di dapur. Tapi aku tahu itu hanya bayangan semata. Ilusi yang tercipta dari kerinduanku padanya. Namun alangkah terkejutnya sebab sore harinya, ketika aku bangun dari tidur, ada sebakul nasi di atas meja tertata lengkap dengan lauk dan sayur asemnya.
Setengah ragu aku cicipi hidangan masa kanakku itu. Astaga, rasanya sama persis seperti buatan ibuku, asin sayurnya dan sambal tempe penyetnya. Semua sama. Apakah ini kebetulan saja. Apakah semua ini sungguh ilusi semata.
Rasa pening tiba – tiba menjalar ke seluruh kepalaku, nyerinya memberat hingga ke leher dan bahu. Kemudian aku rebahkan tubuhku. Entah berapa lama tak sadarkan diri.
Ketika terbangun, masih kubutuhkan beberapa lama untuk mengenali waktu, apakah ini malam atau siang hari. Tiba – tiba aku teringat mimpi itu. Ibu mengatakan padaku tentang sesuatu yang berkaitan dengan dongeng dan novelku. Ya, rasa – rasanya ia menyuruhku menjadikan dongeng Ibu menjadi cerita novel. Dengan semangat yang tiba – tiba bangkit, kuambil notebook di atas meja dan mulai menulis di beranda.
Ibu semakin sering datang ke mimpiku. Dia memintaku membenahi taman di depan rumah. Ia juga menyuruhku memasang foto keluarga yang kusimpan di lemari sepeninggalnya. Rumah ini memang kubiarkan sebagaimana mulanya. Hanya atap dan catnya yang sesekali kuperbaharui.
Semenjak kedatangan ibu di mimpiku setelah sepuluh tahun kematiannya, tak pernah lagi kurasakan kesepian. Tak peduli Mirna marah karena ketakacuhanku, terus saja kutulis novelku. Namun meski marah gadis ini selalu datang padaku, membawakan makanan. Walaupun kudiamkan saja kedatangannya dia akan merangkulku manja lalu malamku sebentar diisi dengan percintaan yang penuh gairah.
Barangkali aku memang mencintai dia. Tapi aku masih demikian yakin bahwa cintanya belumlah sepadan dengan apa yang diberikan ibu padaku.
Setelah berbulan – bulan bergulat dengan cerita – cerita dongeng masa kanakku, selesai sudah semuanya. Seminggu lagi bukuku ini akan diluncurkan di sebuah galeri ternama di Jakarta. Sambutan yang paling meriah sekaligus pujian – pujian kudapat dari para kritikus dan penggiat sastra ibukota. Namun sebelum acara berakhir, kembali kurasakan pening yang sama seperti ketika pertama kali ibu datang ke mimpiku. Di sana, sembari menangis Ibu berkata, “Kembalilah jadi pewarta, Nak.”
Sejak itu, kembali kupekerjakan diri sebagai wartawan. Kunikahi Mirna yang terlihat begitu cantik dalam balutan gaun pengantinnya pada hari pernikahan tepat menjelang usiaku 40 tahun. Entah kenapa saat hari pernikahan, kubayangkan diri sebagai gembala pemain seruling dan Mirna adalah puteri cantik jelita yang akan hidup bersama selamanya. Kuyakinkan diri itu bukan bayangan ilusi semata.
Ketika Mirna mengandung anakku, aku ditugaskan meliput berita tentang demonstrasi buruh pabrik di sebuah perusahaan transnasional di Irian. Siapa sangka di sana aku bertemu Kakak yang hampir 20 tahun tidak kutemui. Aku melihatnya tengah berdiri di podium, bicara panjang lebar, mencoba meredam gejolak demonstrasi para buruh dengan menjanjikan kenaikan gaji dan tunjangan kepada mereka.
“Kak, tidakkah kau rindu Ibu?”, sekelebat aku berpikir demikian.
Tiba – tiba dari arah barat, suara derap yang riuh menerobos masuk. Puluhan orang berbadan besar mengenakan topi proyek kuning tua cerah datang bagai sepasukan hantu yang tak punya perasaan, mereka mendesak masuk ke kerumunan orang yang sedang mendengarkan omongan kakakku. Semua terjadi begitu cepat. Mereka berlari ke arah podium, menjatuhkan kakakku dari tempatnya berdiri, menyeretnya. Aku mencoba mendekat ke arah mereka. Aku terjatuh dan beberapa orang menginjakku. Sekilas mata kami bertemu. Dari pandangnya yang kuyu aku merasa dia berkata, “Aku ingin menemui Ibu.”
***
Di hari pemakaman kakak pertamaku, semua saudaraku berkumpul. Adik perempuanku masih menyimpan kesedihan mendalam setelah bercerai dengan suaminya dan kini mesti menerima kematian kakak tertua kami. Kakak keduaku pun baru saja kehilangan putra pertamanya karena kecelakaan, sedangkan aku telah mendapatkan putri yang cantik sekali. Saudara – saudaraku masing – masing bercerita bahwa pertengahan Oktober tahun lalu seperti melihat Ibu menanak nasi di dapur mereka. Anehnya keesokan paginya ada sayur asam dan lauk di meja, tetapi mereka terlalu sibuk untuk memikirkan lebih jauh kejadian itu apalagi sempat memakannya. Sampai akhirnya kamu bertemu di sini dan baru sempat saling bercerita.
Aku tertegun dengan penuturan mereka. Istri kakakku pun mengatakan bahwa sang suami sempat bercerita hal yang sama kepadanya. Usai saling bicara, kuberikan mereka novel baruku. Menerima itu, kulihat saudara perempuaku berkaca – kaca persis ketika ia kecil dulu. Ingin rasanya kukecup keningnya, tapi buru – buru kuhentikan niatku. Kami akhirnya berjanji akan selalu bertemu setahun sekali di tempat Ibu dimakamkan. Dalam hati aku berkata, “Terima kasih, Bu. Kauingatkan kami untuk terus bersama.”

Bagi yang berminat dengan bukunya bisa komen disni ya. Mari dukung penerbitan independen penulis-penulis perempuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s