celoteh

hingga saat ini saya masih mencoba memahami mengapa ada perpisahan yang kemudian menyisakan kepedihan yang mendalam. ketika kenangan-kenangan manis selama bertahun-tahun itu justru menjadi sesuatu yang getir, yang mewujud dalam perasaan sendiri, sepi, dan hampa.

saya pernah patah hati tapi satu peristiwa bisa mengubah segala kepahitan, dan membuat saya sadar bahwa pintu kebahagian itu telah terbuka.

tapi saya merasa sungguh egois jika kemudian ketika kebahagiaan itu telah ada dalam genggaman saya abai pada sesuatu yang tertinggal di masa lalu.

bulan dan tahun lewat, lekas sekali, hanya menyisakan fragmen-fragmen kisahan tertentu yang apik tersembunyi. dalam sekian waktu itu saya merasa pernah menjadi bagian itu, bagian yang hilang, the lost side. sedang peristiwa sesungguhnya adalah bayangan-bayangan peristiwa yang masih gegap gempita dalam diri–yang akhirnya kini sendu menjadi sesuatu yang melulu muncul dalam ingatan.

ingin berkata setiap hari setiap waktu untuk kepiluan itu bahwa sesuatu yang luar biasa hebatnya tengah menunggu di satu sudut, menunggu untuk dibuka. perempuan yang hebat, yang tangguh, yang padanya kekuatan cinta itu ada, kesetiaan yang senyatanya itu miliknya.

lihatlah, bukan mawar saja yang indah, tapi juga krisan atau tulip. lihat saja betapa sakura atau peoni pernah menaklukkan waktu untuk bersetia. maka, raihlah kuntum-kuntum yang penuh gelora kesegaran itu. maka mawar akan kau lihat sebagai mawar yang indahnya bukan keabadian. mawar itu hanya abadi ketika kenangan muncul menyembul dari sebuah gambar atau tulisan.

Advertisements

Agustus

Betapa tak tentu, malam yang memanggil-manggil. Senyap kenangan di kejauhan. Bagaimana mungkin waktu tetap mempertautkan kerinduanmu padanya. Apakah hari yang lewat masih belum mampu membiasakan kesepian padamu.

Lihat kuntum kamboja yang masih berembun itu. Berulang kali datang padanya keindahan, berkali-kali pula waktu merenggut segalanya. Tapi bukankan dengan demikian lahir keindahan yang lain, keindahan yang akan disaksikan oleh hari-hari mendatang.

Mengapa masih saja terpaut hatimu pada tahun-tahun silam itu. Yang senyumnya menggetarkan namun kalah oleh langit kiasan matahari terbit. Yang wajahnya bulat cerah memenuhi ruang gagumu namun kalah oleh mendung yang mencurahkan hujan untuk sejukmu.

Sedang aku hanya bisa bertanya. Baik itu untuk kisah yang panjang atau jejakmu yang tak sengaja kutemukan.