AKU BERMIMPI

*dimuat di BaliPost edisi Minggu.

Aku masih berada di sini. Melihat gelembung udara yang berbunyi gemerisik di ruangan persegi empat bercat biru muda ini. Hampir – hampir kuakrabi semua yang tampak di hadapanku. Berat juga rasanya menyadari bahwa aku mulai terbiasa dengan keadaan di sekelilingku terutama aroma harum aneh pembersih lantai yang awalnya sangat tidak kusukai.

Aku sedikit lupa sejak kapan aku mulai rajin mengunjungi tempat ini. Bahkan pada beberapa waktu,  berminggu – minggu kuhabiskan disini. Tiap hari beberapa orang datang, membuka paksa bajuku, lalu menempelkan semacam alat ke tubuhku lalu mengangguk – anggukan kepala dan mengatakan sesuatu kepada orang di sebelahnya. Barulah kutau alat itu bisa memperdengarkan bunyi jantungku. Aneh.

Saat itu, bulan November, 2 minggu sebelum perayaan hari ulang tahunku yang kesembilan. Waktu itu, aku dan beberapa kawan menghabiskan waktu istirahat dengan bermain petak umpet di halaman sekolah. Meski guru – guru sering menasehatiku agar lebih banyak bermain dengan kawan perempuan, tetap saja aku lebih suka menghabiskan waktu istirahat dengan teman – teman lelaki., bermain lari – larian dan tentu saja petak umpet.

Saat itu, matahari begitu terik. Panasnya seakan bisa menusuk – nusuk kulit tubuhku. Tapi permainan ini membuatku tak peduli pada semua itu. Namun, sesaat sebelum bel tanda masuk kelas berbunyi. Sesuatu yang hangat mengalir lancar dari hidungku. Ketekankan tanganku ke hidung, ternyata darah segar dengan warna merahnya yang melimpah seakan jatuh begitu saja dari hidungku. Semakin lama cairan darah itu merembes dari hidung, ke dagu lalu ke seragam sekolahku. Beberapa waktu kemudian, ibu dan beberapa orang guru membawa aku kemari. Saat itulah aku datang pertama kali ke tempat ini.

Rasa – rasanya selama sebulan, aku diam disini. Makan, mandi, berpura – pura mengerjakan PR, semuanya kulakukan di ruangan ini. Lagi pula aku malas keluar. Ada saja sekelompok orang yang kulihat menangis di sudut luar kamarku, bahkan mengumpat mencaci entah apa. Mereka beringas. Aku tak suka melihat kelakuan buruk itu. Bukankah mereka seharusnya bersikap manis di depan anak – anak, apalagi anak kecil yang tengah sakit sepertiku. Suatu kali kudengar si dokter berkata pada Ayah dan Ibu bahwa aku mengidap leukemia. Artinya apa, aku tidak tahu.

Sebenarnya aku benci di sini. Sangat benci. Bayangkan tiap pagi, mereka ambil darahku. Belum lagi menahan rasa sakit ketika jarum tajam itu menusuk kulitku. Rasa dingin ketika ujungnya menyentuh kulitku lalu ketika keseluruhan bagiannya menembus kulit dan cairan merah segar dari tubuhku mengalir bebas seakan tanpa paksa, ke dalam tabung kecil warna ungu yang menakutkan itu.

Baru kutau, sejak saat itu, waktu telah memilihkan nasibnya untukku. Usia bagiku bukan lagi soal ketidakpastian atau prasangka, terlebih pengharapan dan impian. Aku sudah terlampau paham bagianku di dunia. Tak ada yang kuperjuangkan lagi memang, tapi entah kenapa itu memberikanku gairah untuk melakukan banyak hal. Saat aku memahami semua itu, usiaku sudah sebelas tahun.

Ibu menyarankanku membuat buku harian. Sedang kakakku, lelaki terbaik yang sempat kutemui, memberikan hadiah pena yang bagus sekali di hari ulang tahun. Dan dia memintaku membawanya tiap hari. Namun aku kasian sekali jika harus membawa pena sebagus itu kemana-mana. Aku takut menghilangkannya atau lupa menaruhnya dimana.

Maka kutulis semuanya di buku harian yang manis itu.

***

Dari jendela itu, kulihat langit sebagaimana adanya ia. Di pagi hari, menjelang pukul 6, warna jingga pudar perlahan terbit dari ujung timur langit. Pagi membawa perasaannya sendiri. Menyaksikannya seperti melihat sendiri bagaimana seekor kupu – kupu dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari kungkung kepompongnya. Lalu tempias cahaya membuat warna sayapnya kian penuh pesona. Melihat pagi juga seperti menyimak seorang balita yang hati – hati mencoba berdiri, menegakkan kakinya. Semuanya itu sungguh memberikan semangat yang luar biasa untukku.

Barangkali sebuah anugrah sampai saat ini aku masih bisa merasakan kenikmatan macam itu meski hanya dari ruangan segi empat dengan harum aneh yang khas ini. Sudah sebulan aku diam di sini. Kata dokter, observasi ketat harus dilakukan. Teman – teman SMP ku sering juga datang dengan cerita – cerita konyol seputar guru sekolah kami yang masih saja kolot dan konyol. Boleh dikata aku senang dan tidak pernah sedikit pun merasa bosan. Apalagi selama ini pagi seakan selalu memberikan kesegaran yang lain.

Namun ada satu hal yang merisaukanku. Ini berawal dari mimpi dua malam lalu. Mimpi tentang kunang – kunang yang lahir dari sebuah kepompong hitam. Rupa kunang – kunang itu jelek sekali. Abu – abu dan penuh lendir.

Suatu pagi di bulan Februari, aku dikejutkan kabar bahwa ibuku hamil lagi. Baru dua bulan, katanya. Senyum ibu dan tangisnya tumpah bersamaan ketika menyampaikan kabar itu padaku. Sungguh bahagia mendengarnya. Terbayang sudah, kesepian ayah, ibu juga kakakku tak akan berlarut lama setelah kepergianku. Tapi sebuah perasaan yang kuat menjalar pelan dan dalam di hatiku. Perasaan yang tidak dapat kujelaskan namun seakan tak tertolak dari hari ke hari.

Lebih dari seminggu tidurku tak nyenyak. Tak lagi dapat kunikmati pagi, yang semakin lama kuanggap sebagai karibku sendiri. Orang – orang masih ramai berdatangan. Sedang di luar, sedikit pun tak dapat kudengar suara, bahkan sepasang cecak sekalipun. Karena itu, semuanya jadi seakan menyiksa. Rasa bubur yang tak enak, jus buah hambar dengan warna mencolok yang menjijikkan, dan obat – obat yang tambah banyak saja jumlahnya. Ada vitamin, penambah darah, penghilang sakit, antibiotic entah apa lagi. Tak banyak yang bisa kulakukan untuk menolak semua itu. Bukankah aku memang tak punya pilihan selain menikmati semua perlakuan yang diberikan orang – orang padaku.

Seraya memikirkan hal itu aku mulai sering menggambar wajah – wajah bayi di buku harianku. Bayi lelaki itu kubayangkan sebagai adikku sendiri. Menyenangkan memikirkan betapa bahagianya memiliki seorang adik lelaki yang tampan dengan rambut ikal tipis di kepalanya, bibir mungil yang menguap manja, dan suara tangis yang menggema kemana – mana.

Ibu mulai jarang datang menjenguk dan itu tak merisaukanku. Begitu juga dengan ayah dan kakakku. Sementara mimpi – mimpi buruk yang tiap malam datang jauh lebih membuatku terpuruk.

***

Tidak terasa kini Ibu sudah hamil 9 bulan. Sejak belasan minggu yang lalu aku hanya berbaring. Menggerakkan badan sedikit saja susah rasanya. Makan pun aku minta bantuan perawat. Kadang karena kesusahan bernapas aku harus memakai bantuan oksigen. Jujur saja, aku sangat tak suka pada suara gelembung yang muncul dari tabung air yang menghubungkan selang dengan tabung oksigen itu. Saat kulihat sekumpulan semut yang terjebak di cangkir setengah kosong di atas meja, baru kusadari, ketaksukaan itu semacam rasa takut terhadap kematian. Melihat semut – semut yang bergerak – gerak tanpa daya dalam kubangan cairan itu lalu seketika sesuatu yang besar entah apa membuat mereka tak lagi bergerak, hening dalam kelembamam yang tak terpikirkan. Itukah yang terjadi jika nanti aku mati.

***

Tak dapat lagi kubedakan yang mana mimpi atau kenyataan. Baru saja aku merasa sedang berada di padang rumput yang sejuk. Beberapa domba tengah berkumpul merumput. Ada sungai kecil di tengah – tengahnya, meliuk entah menuju kemana, lalu aku mandi di tengahnya dalam ruapan air yang jernihnya luar biasa. Tiba – tiba seorang anak lelaki rupawan datang, minta izin mendekat dan memanggilku kakak. Saat ia memasukkan kaki – kaki kecilnya yang ramping, seketika semua itu seolah berputar – putar dan aku sudah berbaring kembali di sini melihat ibu memegangi perutnya yang membesar sambil memandang kosong ke arahku, seperti orang melamun.

Suatu pagi aku merasa berada di hamparan sawah yang luas, menghijau dengan sempurna. Matahari terlihat terik bersinar tapi tak kurasakan sedikitpun rasa panas atau gerah. Aku berjalan – jalan sesuka hati disana. Sesekali beberapa burung hinggap di sebatang padi hingga batangnya tampak terkulai di pematang. Ketika aku mendekat kesana burung – burung itu bergegas pergi. Tiba – tiba kudengar celoteh seorang anak lelaki. Kembali dia panggil aku dengan sebutan kakak. Saat aku mendekat ke arahnya selalu saja kudapati diriku tengah berbaring di sini, melihat ibuku yang memandang jauh entah pada apa.

***

Suatu pagi aku merasa sangat segar. Tapi masih terlalu lemah untuk bangun dari tempat tidur. Ibu tak ada di tempat duduk biasanya. Hanya ada kakak yang memandang asyik entah apa ke luar jendela. Saat menyadari aku telah bangun dari tidur ia segera menghambur ke arahku dan bercerita banyak sekali tentang hari – harinya. Tak ada yang kuingat satupun tentang cerita itu bahkan aku telah lelap kembali di sela – sela obrolan yang seakan begitu panjang tak ada habisnya. Belum juga sempat kutanyakan keadaan Ibu, sebab minggu ini sebenarnya adalah perkiraan kelahiran adikku.

Kali ini aku sangat sadar kalau aku bermimpi. Aku berada di sebuah ruangan yang sepertinya merupakan bagian dari bangunan yang luar biasa besar. Seluruhnya berwarna putih. Bersih sekali seakan tak ada satupun butir debu di sana. Aku kitari seluruh sudutnya, tapi kurasa ruangan itu berbentuk lingkaran karena tak kutemukan pertemuan antara sudut – sudut di tembok – temboknya. Semakin kukitari semakin luas saja kurasakan ruangan itu. Entah berapa lama berselang, aku hamper – hamper lupa apakah saat itu siang atau malam hari, sebab tak ada jendela di sana. Desir angin pun lamat – lamat tak dapat kurasakan. Sedikit demi sedikit aku merasa bingung bercampur takut. Dimanakah ujung ruangan itu, dimanakah pintu atau sedikit celah tempat bisa kulihat dunia luar.

Di tengah rasa nelangsa itu, suara anak lelaki memanggilku halus sekali. Tapi tak dapat kulihat rupanya. Berulang ia berkata, “Lewat sini, Kak. Lewat sini, Kak. Jangan kesana nanti kakak salah jalan. Cepatlah Kak. Aku disini.” Tanpa ragu sedikitpun aku ikuti ke arah mana suara itu, namun tak dapat kuterka kemana suara itu akan membawaku. Sampai di sebuah ruangan yang lebih kecil, aku mendapati seorang anak lelaki, telanjang, memandangku riang. Wajah anak itu seperti sangat akrab di mataku tapi tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya.

“Kak, aku takut sendiri disini, temani aku ya.” Ada nada riang tapi juga kemanjaan yang tak biasa dalam permohonannya. Tiba – tiba seperti ada sesuatu yang besar tengah menarik masuk ruangan itu ke dalam putaran angin yang kuat dan mencoba menarikku juga. Segera kuraih anak itu mencoba menyelamatkan diriku dan dirinya. Anehnya, anak itu lalu berkata, “Sudahlah Kak tak usah takut. Kini saatnya Kakak bertemu dengan paman yang baik hati itu. Dia berjanji memberikan sayap untuk kita berdua. Jadi kita bisa bermain sepanjang hari di awan – awan putih yang kita lihat setiap pagi.”

Aku turut saja pada anak lelaki itu. Sebab kini aku merasa seluruh tubuhku sangat ringan. Seakan bisa terbang dengan sedikit hentakan kaki. Aku biarkan saja sesuatu yang besar luar biasa itu membawaku masuk ke putaran angin sambil menggendong anak lelaki yang memanggilku kakak itu. Aku biarkan saja hawa sejuk yang lembut menyusup perlahan ke tubuhku. Aku biarkan saja semuanya. Bukankan ini hanya mimpi belaka. Tunggu saja sampai Ibu atau Kakak membangunkanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s