DAYA ‘JUANG’ KARYA

Oleh : Ni Putu Rastiti

Disampaikan dalam Bali Emerging Festival 2011

Sudah seharusnya penulis memiliki keterlibatan dengan dinamika kehidupan masyarakat beserta problematikanya. Keterlibatan ini mestilah nampak dalam karya-karya sastra, entah itu puisi, cerpen, esai, ataupun novel. Lebih jauh, perasaan terlibat boleh jadi menumbuhkan rasa peka penulis yang muaranya tentu saja inspirasi baru bagi karya-karya selanjutnya. Dalam hemat saya, pergulatan kreatif itu tidak berhenti sampai di situ. Karya sastra mutakhir dan dikenang di tiap zaman bukan soal pencapaian estetik yang mendalam melainkan daya ‘juangnya’ dipandang memberi perubahan bagi public, perubahan ke arah kemajuan, perubahan ke arah penyadaran.

Ada ungkapan “tentara berkekuatan tank dan bedil, sedangkan kekuatan penulis pada bahasa”. Wiji Tukul pada masanya, ditangkap bahkan tidak pernah kembali ke keluarganya karena apa yang ditulisnya sebagai ekspresi diri dianggap subversive dan berbahaya. Majalah Tempo dan surat kabar lain yang intens melakukan kritisi terhadap pemerintahan di era Orba dibredel, tak punya ruang sama sekali untuk menyiarkan informasi. Namun justru pada masa itu lahir karya-karya mumpuni baik secara teknik berbahasa dan bercerita serta tema yang gencar menyuarakan keinginan rakyat. Rendra dengan puisi pamfletnya tidak hanya menjadi penulis puisi dan actor hebat di masanya tapi juga kerap menuliskan keniradilan pemerintah. Karya Pramoedya lengkap dengan latar hidupnya sebagai tahanan politik di tiga decade pemerintahan tidak hanya dianggap penulis yang ‘membangkang’ dari kezaliman penguasa tapi juga teladan bagi penulis-penulis generasi lanjutannya untuk melakukan olah kreatif yang lebih kaya secara tema juga gaya bahasa.

Dengan demikian terbukti sudah sastra punya kewajiban tersendiri dalam upaya menggapai perubahan yang lebih baik. Lalu, saat ini sudahkan karya sastra menunaikan ‘tugasnya’? Bagaimana tulisan yang ada sekarang ini bisa menjadi ‘tonggak’ perubahan?

Tema Karya : Perkaya Batin atau Unjuk Populer

Bahasa atau kalimat ucap penulis dapat bersifat ekpresif sugestif, tapi tidak menutup kemungkinan penuh kedalaman batin yang kontemplatif. Yasunari Kawabata adalah penulis Jepang yang menampilkan tema-tema absurditas manusia dengan pilihan bahasa yang minimalis dan detail bahkan terkesan introvert. Gabriel Garzia Marques menuliskan tema-tema serupa dengan kalimat yang ekspresif, mengandung banyak sekali kemungkinan bagi pembaca untuk menafsirkan maksudnya. Indonesia pun melahirkan banyak penulis yang karyanya dapat disejajarkan dengan sastrawan tingkat dunia, AA Navis, Pramoedya, dan lain-lain.

Namun belakangan ini muncul kekhawatiran bahwa sastra dianggap terlampau serius dan mulai ditinggalkan oleh anak muda karena tema-tema karya yang penuh nilai itu melulu soal kepahitan hidup, pencarian jati diri yang hakiki, absurditas manusia, perenungan yang mendalam—topik yang jauh dari keseharian anak muda yang menyukai kesenangan serta menjadi eksis/trend dalam pergaulan.

Di sisi lain kemunculan penulis-penulis muda dengan novel teenlitnya yang sangat beraneka, menumbuhkan harapan baru bahwa sastra tidak akan punah. Namun yang menjadi persoalan adalah keseragaman tema yang dihadirkan. Novel teenlit dianggap bukanlah karya sastra sehingga tidak pernah ada perdebatan yang mendalam mengenai potensi penulis-penulis novel jenis ini untuk memajukan sastra itu sendiri. Padahal semangat dan gairah kreatif mereka merupakan modal besar untuk menumbuhkan kecintaan pada dunia tulis menulis—tradisi warisan luhur generasi pendahulu.

Seringkali penulis novel teenlit itu juga dijadikan role model oleh remaja penggemarnya. Mulai dari gaya hidup yang ditawarkan lewat cerita-ceritanya sampai pada cara menyikapi permasalahan seputar persahabatan atau hubungan percintaan. Pendapat yang lebih ekstrim adalah bagaimana mungkin tema-tema cengeng seputar cinta-cintaan anak muda bias jadi penyambung lidah rakyat atau pembawa perubahan. Bukankah saat ini penulis entah tua muda mesti lebih intens mengkritisi keadaan social di  masyarakat. Apa jadinya jika anak muda dijejali kisah-kisah picisan yang tidak merangsang kepekaan dan empati mereka terhadap situasi terkini masyarakat mereka.

Perkara ini kian menjadi-jadi ditambah dengan kecanggihan teknologi yang kian berkembang. Saat ini banyak orang dapat menyalurkan perasaan dan pikirannya secara lebih terbuka dan berani tentang beragam hal melalui blog, twitter, dll—beda sekali pada era Orba—keterbukaan berarti pemberangusan. Di bidang sastra sendiri kualitas karya-karya itu menjadi perdebatan pelik sebab tidak ada system kuratorial yang diakui dalam pempublikasian karya-karya dalam media online yang bejibun jumlahnya.

Dengan demikian beberapa kalangan justru menyimpulkan banyaknya karya tulis fiksi yang dapat diakses dengan mudah tidak memberikan jaminan bahwa perubahan yang baik akan terjadi. Kemungkinan lain yang berkembang justru efek negative yang tidak menguntungkan sama sekali bagi public yang membaca. Bahkan ekses negative ini melaju pada kecenderungan ‘perseteruan’ antara karya yang dipublikasikan secara digital-independen dan cetak-formal. Bukankah perdebatan macam ini justru menghabiskan energy kreatif kita untuk sesuatu yang tak nyata?

Kembali ke soal garapan tema. Pilihan tema ‘ringan’ memang mudah sekali menjadi popular di masyarakat apalagi di kalangan anak-anak muda. Percintaan, hubungan persahabatan, cerita tentang situasi kampus dan sekolah lengkap dengan latar guru/dosen ‘killer’ dapat dicerna secara mudah oleh siapapun. Sedangkan topic menyoal kekerasan hidup, pencarian jati diri yang hakiki, problema kemelaratan menjadi terasingkan alih alih mendapat tempat yang layak di hati pembaca atau setidaknya menjadi semacam bahan renungan.

Anton Chekov, cerpenis luar biasa itu pernah berkata “Penulis bukanlah pembuat manisan, dealer kosmetik, atau penghibur. Dia adalah orang yang telah sadar dan bertanggungjawab menandatangani kontrak dengan-Nya”. Secara lebih gamblang ia menyatakan bahwa proses kreatif menulis atau menjadi seorang penulis adalah mengikat diri dalam suatu hubungan personal dengan Tuhan. Maka itu, menjadi kewajibannya untuk menyiarkan hal-hal tertentu dengan tujuan kebaikan kemanusiaan.

Pendapat yang hamper serupa diserukan oleh Victor Hugo, penulis kenamaan itu,  “Jika seorang penulis menulis hanya untuk menghabiskan waktunya, Anda harus mengistirahat pena dan membuangnya”. Ya, jika saat ini kita menulis hanya untuk menyenangkan diri pribadi, maka baiknya mulai sekarang kita berpikir bagaimana tulisan kita mampu memberi nilai/esensi bagi orang lain.

Lihat saja di era tahun 2000-an Andrea Hirata dengan ‘Lascar Pelangi’ telah menjadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk berkarya tidak hanya di bidang sastra tetapi juga di bidang lainnya. Perjuangan yang dikisahkan secara apik itu membius remaja untuk tetap mempertahankan mimpinya sekaligus berupaya mewujudkannya. Meskipun novel tersebut memang belum dinominasikan dalam penghargaan sekelas nobel prize tapi kisahan macam ini bias menjadi ‘suntikan’ semangat baru bagi kita semua.

Menjadi penulis adalah pilihan, tapi menulis untuk kebaikan kemanusiaan adalah keharusan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s