Melamun

bahkan langit yang bergegas malam begitu paham betapa kerinduan seperti ranting yang tak rela jatuh dari pohonnya. waktu tak sama dengan gelas kosong yang tetap di atas meja, tak beda pula dengan suara-suara udara yang menjadi liar di sekitar kita.

hujan tiba, menderas saja dalam diamnya, tak pernah mengira betapa gairahnya langit yang menjadi kelabu dan gelap sama sekali. membiarkan payung-payung berputar hampa, menjelma wajah-wajah kekasih yang mengucap janji tapi pergi di ujung hari.

siapa sangka, kenangan yang singgah, mimpi yang terlupakan dan jam di dinding hanya mengesahkan kepedihan yang tenggelam, lalu menggenang ke ruang renung ini.

barangkali hanya dengan pergi ke kota asal dimana peri masih sembunyi, aku akan temukan itu, seperti matahari menemukan pagi, seperti sungai melepas segala yang ada di samudra,  juga seperti waktu yang beku di jarum jam yang pertama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s