Harapan

Siapa yang sanggup bicara berkali kali tentang harapan.

Seakan tubuhmu menolak cahaya lampu taman ini, yang remangnya melepas gigil anak2 penjaja roti, yang muramnya penuh misteri bagi perempuan2 berpayung melintas tergesa di jalan ini.

Mengapa tubuhmu menolak senja yang damai, mengantar kekasih2 pulang ke pangkuan rumah, anak2 yang berpencar selepas sekolah dan burung2 yang lelah terbang menyalip cahaya di pepohonan.

Mengapa matamu menolak kenangan, yang baunya menyebar seperti manis cinta yang membuat mabuk, yang hangatnya membuat jari2 beradu menyusup sepi.

Sejak kapan harapan jadi karibmu? Bukankah kau yang berulang berkata, ‘Lepas harap jiwamu bebas’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s