Obituari

Aku hanya sepandang bayang
Di antara lekuk hari meredup sayang

Cahaya merah di langit luas
Seperti perayu gagah berani
Menyingkap senja yang penuh rahasia

Dan senja pun lenyap
bagai musafir putus asa
yang rindu bau jati kampung halaman

Laut bergetar sepanjang kata
Gulungan ombak seisian pinggiran
Seakan hendak berujar
mereka pemilik paling sahih keluasan samudra

Tapi matahari terbit tak urung menepati janji
Pada embun yang melekaskan dirinya untuk pagi
Pada burung yang meninggalkan sarang mencari musim semi
Di kaki langit yang lain
Di waktu yang terbatas mata

Aku hanya sepandang kenangan
Hari berpagut berulang sayang
Berseri saja hati ini

Advertisements

Harapan

Siapa yang sanggup bicara berkali kali tentang harapan.

Seakan tubuhmu menolak cahaya lampu taman ini, yang remangnya melepas gigil anak2 penjaja roti, yang muramnya penuh misteri bagi perempuan2 berpayung melintas tergesa di jalan ini.

Mengapa tubuhmu menolak senja yang damai, mengantar kekasih2 pulang ke pangkuan rumah, anak2 yang berpencar selepas sekolah dan burung2 yang lelah terbang menyalip cahaya di pepohonan.

Mengapa matamu menolak kenangan, yang baunya menyebar seperti manis cinta yang membuat mabuk, yang hangatnya membuat jari2 beradu menyusup sepi.

Sejak kapan harapan jadi karibmu? Bukankah kau yang berulang berkata, ‘Lepas harap jiwamu bebas’.