Anak Ayam Mati di Lumbung Padi

 

Barangkali kita telah terlalu terbuai dengan pernyataan bahwa Bumi adalah Planet Air. Nyatanya meski dua per tiga wilayahnya berupa lautan, terlampau banyak daerah yang masih kekurangan air. Banyak orang di suatu Negara mesti berjalan berpuluh kilometer hanya untuk mendapatkan seember air minum. Kebersihannya pun belum tentu terjamin. Bukankah miris rasanya, ibarat peribahasa “Anak ayam mati di lumbung padi”.

 

Bali merupakan contoh yang cukup jelas dimana persoalan air kini sungguh – sungguh telah terjadi di depan mata. Sebagai warga Pulau Dewata awalnya saya tidak terlampau akrab dengan peristiwa banjir. Paling – paling bencana macam itu hanya terjadi di kota – kota besar berpenduduk super padat sekelas Jakarta dan sekitarnya. Namun alangkah mengejutkan, beberapa tahun belakangan ketika musim hujan datang sudah dipastikan banyak wilayah terendam air. Macet dimana – mana karena genangan air dari yang Cuma setinggi jempol sampai seukuran lutut. Bahkan peristiwa banjir beberapa waktu lalu telah memakan korban jiwa.

 

Di satu sisi banjir melanda, di bagian lain, krisis air jadi masalah yang luar biasa. Aliran air mati di siang bolong kini seakan – akan menjadi keseharian masyarakat. Mau complain pada perusahaan penyedia layanan bersangkutan, mereka sepertinya tidak dapat berbuat banyak. Alhasil, saya dan warga Bali lainnya seakan menerima saja keadaan bahwa kita semua kini sedang paceklik air.

 

Krisis air tidak hanya terjadi di kota – kota semacam Denpasar, tetapi juga pedesaan seperti di kabupaten Karangasem. Dari informasi yang saya dapat, di suatu daerah jarak sumber air bersih dengan pemukiman penduduk berkisar antar 4 – 7 km. Belum lagi jalan perbukitan terjal yang harus ditempuh untuk mencapainya. Perusahaan air minum belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di sana terhadap air.

 

Saya kemudian berpikir, apa yang kira – kira membayang di benak kita saat mandi dengan luapan air melimpah sementara seusai mandi kita lihat tayangan berita mengenai kekeringan di satu daerah. Bukankah terkesan konyol sekali. Tepat ketika kita menghabiskan satu gallon air dalam sehari cuma untuk membersihkan badan, ribuan orang tengah berjalan berkilo – kilo hanya untuk minum.

 

Lalu, solusinya apa?

Saya kira, kita patut merefleksikan semboyan salah satu produk penyedia air minum, yang sangat akrab di telinga kita, dalam keseharian. Mengambil dari alam seraya menjaga kelestariannya. Sederhana memang, tapi bukankah di sana intisari pemecahannya. Segala yang ‘terambil’ dari alam mesti ‘terkembalikan’ pula. Proses pengembaliannya tidak lain tidak bukan adalah dengan cara pelestarian itu sendiri.

 

Seperti yang dilakukan oleh Hira Jamtani. Ia merintis sebuah upaya filterisasi air limbah rumah tangga dengan cara tradisional. Berbekal kerikil dan paku – pakuan, wanita ini berhasil menciptakan teknologi sederhana pengolahan limbah menjadi sumber air alternative. Sayangnya usahanya ini masih belum sampai ke kalangan masyarakat yang lebih luas. Ya, satu orang saja memang belum dapat memecahkan persoalan yang besar. Jika sekarang Cuma ada satu Hira, besok atau lusa perlu orang – orang tangguh yang penuh dedikasi seperti ini lebih banyak lagi.

 

Bagaimana jika mulai detik ini, kita mengurangi waktu untuk internetan. Misalkan dalam sehari kita menghabiskan 3 – 5 jam untuk browsing, facebook’an, twitter’an, coba kita sisihkan 1 jam saja untuk merintis apa yang telah dilakukan Hira. Mulai dari membentuk tim, menggalang dana kecil – kecilan, survey lokasi dan perlengkapan. Jadi, siap – siap hubungi teman – teman sekelas, sekampus, sekantor untuk memulainya. Sekarang!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s