Yawn

Ketika kita melihat langit sebagai biru yang biasa, maka mari bayangkan betapa banyak  macam warna tecampur disana, dibawa awan ke negeri – negeri jauh hingga seberang samudra, tempat – tempat yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ketika kita melihat awan seputih saja, kadang pasi dalam bungkamnya, mari bayangkan gambar – gambar putri cantik dari negeri malaikat, pangeran tampan berkuda putih, atau kurcaci – kurcaci lucu nan riang menghibur kita yang tampak kusam.

Ketika hari – hari berganti, lebih dari yang bisa kita harapkan, maka tidur saja dalam angan, bayangkan kita mengunjungi tempat – tempat impian, Paris, Ohio, Sakura, salju, betapa menyenangkan bukan?!

Maka ketika dunia tampak bermusuhan dengan kita, ambil saja sehelai selimut, mari tidur di bawah pohon teduh. Bermimpi kita tengah menjadi idola semesta.

Advertisements

Kompetisi WEB Kompas MuDa & AQUA

Berhubung deadline kompetisi web kompas MuDa & AQUA sebentar lagi, berikut saya sharing lagi deh persyaratannya :

  1. Tema : It’s About Us : Air untuk Masa Depan
  2. Peserta : 15 – 22 tahun (pelajar SMA/mahasiswa)
  3. Peserta perseorangan atau tim boleh mengirimkan lebih dari satu alamat web atau blog
  4. Bisa menggunakan domain blog sendiri atau memanfaatkan blog gratisan (wordpress, blogspot dkk)
  5. Disertai kata kunci Kompetisi WEB Kompas MuDa & AQUA
  6. Penilaian meliputi kualitas tulisan dan desain
  7. Penyaringan 200 besar finalis ditentukan lewat peringkat di mata mesin pencari Google
  8. Mencantumkan tautan balik ke www.mudaers.com
  9. Boleh web lama atau baru
  10. Memuat tulisn terkait tema minimal 3000 karakter
  11. Karya dikirim ke email : lombaweb@mudaers.com. Pada subjek dicantumka nama web / blog dan lampirkan data diri.

Nah, yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara agar blog ini bisa masuk 200 besar di mesin pencari Google. Ada yang bisa bantu ga???

Anak Ayam Mati di Lumbung Padi

 

Barangkali kita telah terlalu terbuai dengan pernyataan bahwa Bumi adalah Planet Air. Nyatanya meski dua per tiga wilayahnya berupa lautan, terlampau banyak daerah yang masih kekurangan air. Banyak orang di suatu Negara mesti berjalan berpuluh kilometer hanya untuk mendapatkan seember air minum. Kebersihannya pun belum tentu terjamin. Bukankah miris rasanya, ibarat peribahasa “Anak ayam mati di lumbung padi”.

 

Bali merupakan contoh yang cukup jelas dimana persoalan air kini sungguh – sungguh telah terjadi di depan mata. Sebagai warga Pulau Dewata awalnya saya tidak terlampau akrab dengan peristiwa banjir. Paling – paling bencana macam itu hanya terjadi di kota – kota besar berpenduduk super padat sekelas Jakarta dan sekitarnya. Namun alangkah mengejutkan, beberapa tahun belakangan ketika musim hujan datang sudah dipastikan banyak wilayah terendam air. Macet dimana – mana karena genangan air dari yang Cuma setinggi jempol sampai seukuran lutut. Bahkan peristiwa banjir beberapa waktu lalu telah memakan korban jiwa.

 

Di satu sisi banjir melanda, di bagian lain, krisis air jadi masalah yang luar biasa. Aliran air mati di siang bolong kini seakan – akan menjadi keseharian masyarakat. Mau complain pada perusahaan penyedia layanan bersangkutan, mereka sepertinya tidak dapat berbuat banyak. Alhasil, saya dan warga Bali lainnya seakan menerima saja keadaan bahwa kita semua kini sedang paceklik air.

 

Krisis air tidak hanya terjadi di kota – kota semacam Denpasar, tetapi juga pedesaan seperti di kabupaten Karangasem. Dari informasi yang saya dapat, di suatu daerah jarak sumber air bersih dengan pemukiman penduduk berkisar antar 4 – 7 km. Belum lagi jalan perbukitan terjal yang harus ditempuh untuk mencapainya. Perusahaan air minum belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di sana terhadap air.

 

Saya kemudian berpikir, apa yang kira – kira membayang di benak kita saat mandi dengan luapan air melimpah sementara seusai mandi kita lihat tayangan berita mengenai kekeringan di satu daerah. Bukankah terkesan konyol sekali. Tepat ketika kita menghabiskan satu gallon air dalam sehari cuma untuk membersihkan badan, ribuan orang tengah berjalan berkilo – kilo hanya untuk minum.

 

Lalu, solusinya apa?

Saya kira, kita patut merefleksikan semboyan salah satu produk penyedia air minum, yang sangat akrab di telinga kita, dalam keseharian. Mengambil dari alam seraya menjaga kelestariannya. Sederhana memang, tapi bukankah di sana intisari pemecahannya. Segala yang ‘terambil’ dari alam mesti ‘terkembalikan’ pula. Proses pengembaliannya tidak lain tidak bukan adalah dengan cara pelestarian itu sendiri.

 

Seperti yang dilakukan oleh Hira Jamtani. Ia merintis sebuah upaya filterisasi air limbah rumah tangga dengan cara tradisional. Berbekal kerikil dan paku – pakuan, wanita ini berhasil menciptakan teknologi sederhana pengolahan limbah menjadi sumber air alternative. Sayangnya usahanya ini masih belum sampai ke kalangan masyarakat yang lebih luas. Ya, satu orang saja memang belum dapat memecahkan persoalan yang besar. Jika sekarang Cuma ada satu Hira, besok atau lusa perlu orang – orang tangguh yang penuh dedikasi seperti ini lebih banyak lagi.

 

Bagaimana jika mulai detik ini, kita mengurangi waktu untuk internetan. Misalkan dalam sehari kita menghabiskan 3 – 5 jam untuk browsing, facebook’an, twitter’an, coba kita sisihkan 1 jam saja untuk merintis apa yang telah dilakukan Hira. Mulai dari membentuk tim, menggalang dana kecil – kecilan, survey lokasi dan perlengkapan. Jadi, siap – siap hubungi teman – teman sekelas, sekampus, sekantor untuk memulainya. Sekarang!