Desemberku

berapa jarak berselang antara kita berdua. dinding – dinding aneka warna memisah mengaburkan gurat kelabu sendu yang membuat kita penuh duka. tapi derita apa yang disayat – sayat waktu hingga irisan paling halusnya adalah kenangan tersembunyi di balik gurat bibir pilu itu.

ada yang tak sengaja terasa di hati. seperti lamunan malam hari, tapi lekas saja terlupakan. betapa gugup merindu hati ini. tapi mengapa kukenang kekalahan seakan hari baru tak akan terbit kembali. bukankah kau yang mengajarkan, hidup adalah sekian kisahan dan sudah takdir kita melewatinya meski pedih perih rasa hampa dan putaran waktu henti pada saatnya.

saat kaulihat awan awan bergerak sedikit demi sedikit hingga tiba masanya matahari membuatnya tenggelam dalam kelabu, barangkali akan kaulihat lagi tawa ceriaku yang tak tertahan itu. jangan lupakan itu, sebab satu – satunya yang paling kurindu adalah menertawakan kenangan denganmu.

maka saat butir hujan tak sengaja menyelinap ke lindap kamarku ulang kali kukatakan pada diri, kau terlampau rupawan dalam kesedihan atau kekosongan sehingga masuknya dirku justru membuat nganga ruang itu penuh luka.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s