Semenit Lalu Itu

Semenit lalu kita bebaskan kelu itu. Bicara tak henti tentang apa saja yang kita lewati. Sekilas saling memandang, lalu tersenyum dan membiarkan keheningan mengalunkan ceritanya sendiri.

Lalu jalanan seolah mengisahkan kesenduannya masing-masing. Dan kita dengarkan dengan seksama, sebab kadang kita tak lagi punya cerita.

Diam-diam kulihat rona merah muda wajahmu, selintas senyum yang mengakhiri tiap kalimat yang kauucapkan. Lalu kusimpan satu fragmen itu dalam ingatan yang hangat dan menyenangkan.

Semenit lalu, kita bebaskan sendu itu dalam gurau yang tak juga selesai meski malam sepenuh larut dan berulang kali kita menguap dalam gaduh tawa bersama.

Dengan apa kita akhiri menit yang sejenak ini. Masih ada ribuan jalan yang ingin kita susuri. Tapi waktu telanjur berhenti di tengah kita, dan dengan senang hati ia tunjukkan jalan dimana seharusnya kita menepi.

Mungkin malam ini memang bukan punya kita sepenuhnya, sebab waktu masih saja membuat kita ragu untuk pulang tepat pada saat yang kita inginkan.

Tapi bukankah waktu pula yang menggoda kita untuk melewati tiap jengkal perjalanan dengan suka cita dan juga cerita-cerita.

Mungkin malam ini adalah sepenuhnya milik waktu, yang berulang datang tapi tak pernah pergi dari sini.

Lalu dengan apa kita ulangi semenit lalu itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s