Semenit Lalu Itu

Semenit lalu kita bebaskan kelu itu. Bicara tak henti tentang apa saja yang kita lewati. Sekilas saling memandang, lalu tersenyum dan membiarkan keheningan mengalunkan ceritanya sendiri.

Lalu jalanan seolah mengisahkan kesenduannya masing-masing. Dan kita dengarkan dengan seksama, sebab kadang kita tak lagi punya cerita.

Diam-diam kulihat rona merah muda wajahmu, selintas senyum yang mengakhiri tiap kalimat yang kauucapkan. Lalu kusimpan satu fragmen itu dalam ingatan yang hangat dan menyenangkan.

Semenit lalu, kita bebaskan sendu itu dalam gurau yang tak juga selesai meski malam sepenuh larut dan berulang kali kita menguap dalam gaduh tawa bersama.

Dengan apa kita akhiri menit yang sejenak ini. Masih ada ribuan jalan yang ingin kita susuri. Tapi waktu telanjur berhenti di tengah kita, dan dengan senang hati ia tunjukkan jalan dimana seharusnya kita menepi.

Mungkin malam ini memang bukan punya kita sepenuhnya, sebab waktu masih saja membuat kita ragu untuk pulang tepat pada saat yang kita inginkan.

Tapi bukankah waktu pula yang menggoda kita untuk melewati tiap jengkal perjalanan dengan suka cita dan juga cerita-cerita.

Mungkin malam ini adalah sepenuhnya milik waktu, yang berulang datang tapi tak pernah pergi dari sini.

Lalu dengan apa kita ulangi semenit lalu itu.

Advertisements

Penikmat Waktu


Bagaimana dapat kulupakan dingin angin petang yang datang bersusulan ketika kita sama-sama mencoba menikmati waktu yang sejenak riang. Ketika langit terlalu enggan menampakkan biru cerah yang menggoda, dan matahari masih saja menyusup di celah hari yang sama.

Bagaimana dapat ku lupakan cerita tentang hujan yang seakan menarikan bayang-bayang masa silam. Untuk kedua tangan kita yang terbuka dan wajah kita tengadah penuh harap entah pada apa. Sebab kaulah gerimis tipis yang tiba-tiba menderas di ujung pasrah. Dan akulah jalanan yang tak kenal ujung pangkal.

Hari-hari datang seolah dari masa yang jauh. Meninggalkan bekas tipis yang kadang begitu manis tapi bergegas pula berubah pahit. Barangkali bibir kita yang kelu sudah demikian akrab padanya hingga tak begitu kita nantikan rasa manis yang itu, rasa yang datang pelan seperti nada-nada ritmis pemain seruling yang ditinggalkan ibunya, atau begitu pelan seperti permainan musik terakhir pianis tua yang telah kehilangan satu-satu muridnya.

Kau dan aku bukan seorang yang piawai mengubah dera rasa jadi kata-kata indah penghilang resah. Kita hanyalah kupu-kupu, yang terbang hingga batas terlelah sayap-sayap rapuh ini, hinggap di tanah setengah basah dan membiarkan waktu meluluhkan tiap jengkal jejak yang tak sengaja kita tinggalkan di seluruh taman masa silam itu.

Bagaimana dapat kulupakan lambai panjang di depan rumahku. Seakan waktu berhenti di situ dan membenamkan kita dalam genang kenangan yang selalu saja menggoda untuk kembali ke yang lampau. Lalu bagaimana kita artikan perjumpaan, jika kau dan aku sama-sama tau, yang ada kemudian hanyalah sapaan riang selamat pagi yang jemu, dan kuinginkan lebih dari itu. Tapi kau tahu, perjumpaan telah melampaui masa, keriangannya telah beku di sudut waktu yang entah dimana, dan kau hanya akan menjawab sapaan selamat pagi dengan kalimat yang itu-itu saja.

Ya, pada akhirnya ada sekian jarak yang belum juga usai ditempuh, ada sekian waktu yang kian tak tentu. Ada kau dan aku, sama-sama mencoba menjadi penikmat waktu. Sebab kita berdua tahu, hanya dengan itu segala hampa mendapati dirinya.