Mulanya…

Pada akhirnya kau memang memilih menapak jejak di jalan setapak bersama wanita hebat yang kautemui di ujung lelahmu. Seperti diriku, kau pun membenci waktu, yang diam-diam menguntit kita, lalu pada satu titik melenakan kita dalam kehampaan yang pasrah. Tapi, seperti telah kunyatakan sebelumnya, kau elang tangguh dengan sayap-sayap tegar yang melekat erat di tubuhmu. Kau melampaui segala kelu.

Dan aku menyadarinya, tepat saat kukenali lagi sudut-sudut terkelam yang pernah kau lalui. Lalu kini mungkin kau telah menemukan beranda sederhana dengan kemewahan di dalamnya, yang tentu sudah kauterka sebelumnya.

Ya, aku seperti seorang penonton sebuah drama yang kadang ingin masuk ke dalam lakon yang dilihatnya, menggodanya untuk ikut serta menyisakan sedikit saja jejak atau aroma tubuh di sana. Tapi kau maupun aku sama-sama tahu, aku hanyalah penonton bisu, bukan bagian riang dari drama yang kaumainkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s