Dan November…

Jika benar bayangan di hadapanku adalah seribu kupu-kupu yang kautawarkan padaku, maka biarkanlah mereka beterbangan, ke langit yang jauh, yang tak pasti muaranya. Atau biarkan mereka berteduh di taman kecil kita, dimana bunga-bunga mekar tak mengenal musim gugur. Kita cukup melihat mereka dari beranda.

Jika sungguh inilah jalan menuju rumah kecil itu, biarkan lelahku menguap bersama waktu. Namun jika ini bukanlah yang sungguh sejati, biarkan aku di sini seperti saat pertama kali kau temukan aku di ujung jalan ini. Sebab waktu tak pernah jadi milikku.

Bagaikan ratusan burung yang beterbangan dari tempat yang jauh di ujung dunia sana, mencari-cari pohon tertinggi, berharap itulah sarang terbaik yang dapat mereka bangun. Kau dan aku mengudara antara angan dan mimpi-mimpi yang tak pernah selesai. Kau dan aku sama-sama membiarkan sayap-sayap kasat mata ini berlarian. Berharap suatu hari mereka akan berhenti di satu waktu yang sama. Menemukan rumah mungil dengan pohon-pohon yang tak mengenal musim gugur, juga halaman kecil dengan kolam jernih dimana sepasang angsa menikmati dunianya seolah tak pernah ada lara.

Kita hanya satu bagian dari sesuatu yang bernama hampa. Sebab kita tak pernah tahu, apa yang mungkin terjadi hari ini boleh jadi adalah bayangan dari masa-masa lampau yang tak disadari. Atau mungkin saja, kita tak sungguh-sungguh paham untuk apa matahari terbit lagi, sementara hari pasti kembali terulang dengan rinci.

Lalu dengan apa kita namai hari-hari di depan kita? Yang beradu bersilang, susul menyusul, saling seberang, kadang penuh gairah kadang hanya berdiam, pasrah berserah.

Dan kita lihat langit, tak sebagaimana adanya ia. Warna biru cerah yang berubah mendung tak terduga, lalu tiba-tiba menjadi kelabu kelam, menyempurnakan lirik hujan di musim ini. Apa yang kaurindukan dari langit yang tak terterka itu. Kau dan aku sama-sama tahu, tak ada apapun di situ selain, benda angkasa yang kita beri nama, seolah mereka adalah punya kita.

Dan november berakhir, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Advertisements

22 November 2009


Apakah kini, yang merisaukanmu kembali. Kilasan cahaya yang tiba-tiba jatuh di ujung jalan tempatmu berdiri, atau suara-suara hari yang tak henti memanggil seakan ia adalah peluit tua dan kau penumpang keretanya yang terakhir.

Masa lalu, betapa pasi. Satu satu lewat bergegas, datang berganti. Bagaikan serpihan kertas yang berserakan penuh arti, yang tak mungkin lagi terbaca, kecuali kau susun ia, tiap serpihnya.

Jika pada saatnya kau pun pergi, maka tak akan kukenang kedatangan seperti saat pertama kali kita bertemu di sudut ini. Sebab hari telanjur indah, dan tak ingin kubagi kelu dengannya.

Bagaimana ku katakan padamu, bahwa aku pun mengagumi pagi. Namun tak dapat kutinggalkan malam yang senantiasa mendekapku dalam kehangatan yang tak biasa. Saat tak ada siapapun yang bicara, atau hanya sekadar lirih menyapa.

Pada akhirnya, kubayangkan diriku duduk bersama di sampingmu, menikmati pagi yang sama-sama kita kagumi. Memandang pijar kecil yang pelan-pelan benderang dari ufuk yang paling timur. Dan saling menyentuhkan tangan di ujung daun yang penuh embun.

Aku telah datang, meski setelahnya, membawa banyak cerita pengantar tidur, tapi tak satupun yang membuatmu bergegas lelap. Kau masih terjaga, melihat langit seperti anak kecil yang menunggu hari ulang tahunnya. Dan seperti biasa, aku tahu, kau tengah membayangkan suatu hari yang indah, dimana malam tak pernah kuasa menampakkan kelamnya.

Lalu di sana mungkin akan ada kau dan aku, saling menggenggam, bersiap menuju pagi yang paling benderang. Sambil berkata dengan pasti, masa lalu, hanya titik kecil yang paling dekat dengan hari depan, namun tak selamanya ada untuk dikenang.