Mungkin di Suatu Hari


 

I.

Suatu hari kutemukan diriku berdiri di pinggiran jalan, di tengah kerumunan. Angin sore hari belum terlalu dingin, seakan ada sesuatu di ujung sana yang meniupkannya pelan ke arahku. Sesekali menggugurkan daun-daun akasia, yang ragu-ragu memekarkan bunganya, sebab tak ada yang tahu, musim semikah saat itu.

 

Dan kesepian tiba-tiba menyergap, mendekap dalam kelam yang sempurna. Cahaya terakhir telah jatuh di ranting terendah pohon-pohon di sini. Gelap hampir menyatu dengan sekian benda-benda.

 

Lalu entah kenapa, ada dirimu di seberang sana. Seolah dimunculkan dari kelam yang hampa, menjadi ada begitu saja. Ada peta di tanganmu. Juga sebuah buku dengan pinggiran coklat muda, seperti tak pernah terbaca.

 

Kita hapalkan nama jalan, berpeluk sungguh, meski kau dan aku sama-sama tahu, di ujung tikungan, entah yang mana, di satu perempatan, entah di mana, kita harus memilih masing-masing, akan kemanakah kita. Dan langkah-langkah ini masihkah akan saling terpaut satu sama lain.

 

Jalan-jalan kecil kita lewati satu demi satu. Tak pernah bisa kita kenali, pohon-pohon yang tumbuh berjarakan, ilalang liar yang tak teratur di tiap sisi jalan, dan udara yang selalu berubah, mengikuti gerak cuaca yang tak pernah bisa kita terka.

 

Kita hanya berjalan, seolah Cuma itu yang membuat kita tak asing dengan tiap benda yang terlewat, tiap orang yang lalu lalang, juga keheningan, yang membuat kita berdekapan dengan tenang.

 

Kemudian, kita dengarkan suara angin dengan seksama, pelan-pelan menjalin aneka nada-nada. Sesekali melantun pelan, seperti suara alir sungai, lalu menderu bagai suara hujan yang datang tiba-tiba. Kadang sayup-sayup lembut seperti tembang lirih seorang ibu yang menidurkan anaknya. Suara-suara itu membujuk kita menghentikan langkah di sana. Sedang jalan-jalan di depan, penuh kelap kelip lampu yang menawan, riuh oleh aneka penanda yang tertera dalam peta yang ternyata masih terselip di saku bajumu.

 

Kau berkata, kita berjalan saja. Dan kita tinggalkan suara-suara yang menyenangkan itu tanpa satu kehampaan pun yang tersisa.

 

II.

 

Setelah pagi ini apa yang dapat kita temui, selain embun yang setengah tak rela meleleh di balik daun-daun yang berguguran, di antara cahaya yang berdatangan. Diantara taman penuh bunga juga kupu-kupu aneka warna. Ada angin tipis yang lembut bertiup dari tempat jauh. Ada hijau semak dan pepohonan. Ada gugur daun-daun yang menyebarkan warna coklat pudar di tanah. Ada kau dan aku duduk di satu sudut.

 

Setelah pagi ini apa yang dapat kita saksikan selain langit yang berubah warna, membiarkan matahari melukis harinya sendiri, dan kumpulan awan pergi mengikuti arah angin yang entah mau kemana. Burung-burung beriringan, hinggap di puncak tinggi cemara-cemara, tanpa nyanyian, tanpa kepakan sayap yang sebelumnya riang.

 

Hari-hari pergi seperti ranting kering yang berjatuhan dihembus angin akhir tahun. Hari-hari berganti seperti warna bulan, berlainan di tiap nampaknya. Dan kita tetap di sana, menengadahkan wajah, berharap embun jatuh di atasnya, memberi kesegaran yang menyenangkan. Memandang segalanya seolah semua milik kita.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s