ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HEMATOMA AURIKULER

 

KONSEP DASAR PENYAKIT

DEFINISI

Hematoma adalah koleksi (kumpulan) dari darah diluar pembuluh darah. Hematoma  terjadi karena dinding pembuluh darah, arteri, vena atau kapiler, telah dirusak dan darah telah bocor kedalam jaringan-jaringan dimana ia tidak pada tempatnya. Hematoma mungkin adalah kecil, dengan hanya satu titik darah atau ia dapat menjadi besar dan menyebabkan pembengkakan yang signifikan.

 

Hematoma aurikuler adalah hematoma daun telinga akibat suatu rudapaksa yang menyebabkan tertimbunnya darah dalam ruang antara perikhondrium dan kartilago.

Perdarahan daun telinga yang diikuti oleh pembengkakan dan orang yang beresiko 40% pada atlet.

 

EPIDEMIOLOGI

Hematoma biasanya terjadi pada remaja atau orang dewasa yang mempunyai kegiatan yang melibatkan kekerasan, namun bisa saja dijumpai pada usia lanjut dan anak-anak. 40%  berpeluang terjadi pada atlet. Menurut penelitian yang dilakukan oleh H. Soekerman DSTHT yang dilakukan di RSU Banjarmasin Propinsi Kalimantan selatan selama periode 1989 s/d 1994 didapatkan data dari 100% penderita hematoma aurikuler berjenis kelamin laki-laki, penderita anak dari 0-4 tahun hanya 1 orang (5%). Usia lanjut > 50 tahun hanya satu orang (5%).

 

ETIOLOGI

Hematoma aurikurel biasanya disebabkan oleh rudapaksa atau taruma. Dimana taruma ini biasanya terjadi olahraga yang berhubungan dengan kekerasan seperti tinju. Dengan adanya taruma ini bisa menyebabkan tertimbunnya darah dalam ruang antara perikhondrium dan kartilago. Jika terjadi penimbunan darah pada daerah tersebut, maka akan terjadi perubahan bentuk telinga luar dan tampak massaa berwarna ungu kemerahan. Darah yang tertimbun ini bias menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago sehingga dapat terjadi perubahan bentuk telinga. Selain karena trauma, hematoma aurikula bisa juga disebabkan karena gigitan serangga. Dimana gigitan serangga ini dapat menembus pembuluh darah dan dapat merusak pembuluh darah yang ada di daun telinga sehingga bisa terjadi hematoma aurikula.

MANIFESTASI KLINIS

  1. Pembengkakan (karena ada gumpalan darah).
  2. Perubahan bentuk telinga (deformitas).
  3. Ada/tidak ada rasa nyeri.
  4. Perubahan warna (tampak massa berwarna ungu).
  5. Ada rasa  panas.
  6. Kemerahan.
  7. Benjolan di aurikula (daun telinga).
  8. Fluktuasi/ kenyal

 

PEMERIKSAAN FISIK

  • Inspeksi

Pada hematoma aurikuler biasanya ditemukan benjolan pada aurikular bagian depan pada daerah cekungan, pembengkakan karena ada gumpalan darah, adanya  perubahan bentuk  pada  telinga atau deformitas, perubahan warna dimana biasanya tampak massa berwarna ungu, kemerahan dan benjolan di aurikula (daun telinga).

 

  • Palpasi

Kaji adanya nyeri tekan, benjolan di aurikula (daun telinga) dan adanya  fluktuasi atau terasa kenyal.

 

TINDAKAN  PENANGANAN ATAU TERAPI

Mengeluarkan isi hematoma yaitu bisa secara aspirasi atau insisi. Aspirasi dilakukan dengan jarum aspirasi nomor 18 untuk mencegah reakumulasi dari hematoma. Prinsip selanjutnya setelah dilakukan aspirasi atau insisi dilakukan penekanan untuk mencegah reakumulasi antara lain dengan cara : pembalutan seperti pemasangan perban, penekanan paksa mastoidektomi, penekanan lokal dengan blaster yang dijahit. Menggunakan penekanan gips yang dipasang di depan dan di belakang. Menggunakan perban gipsona yang melingkari daun telinga. Disamping kedua tahap ini, juga penting pemberian antibiotik yang adekuat (Fariz, 2006).

Selain itu ada beberapa cara atau metode dalam penanganan hematoma aurikuler, yaitu:

  1. Bebet tekan melingkar
  2. Bantalan kapas atau kasa dijahitkan menembus aurikula
  3. Bantalan kasa yang jenuh dengan salep antibiotika dan pipa karet yang masing-masing didepan dan dibelakang aurikulum dijahit menembus aurikuler
  4. bantalan kapas atau kasa yang dicelupkan dalan cairan kolodion dan diletakkan pada telinga yang sakit(Stuteville)
  5. white wool atau webrig yang dicelupkan dalam cairan kolodion dan diletakkan pada telinga yang sakit
  6. gips yang dicampur air secukupnya dan dicetakkan pada telinga yang sakit
  7. penekanan dengan memakai bloster yang  dijarit
  8. bantalan kasa yang padat dibasahi betadine masing-masing didepan dan dibelakang aurikula dijahit menembus aurikula dan difiksasi dengan pipa plastik dan bekas selang infus pada bagian belakang aurikula(soekirman 1995).

 

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

Data Subjektif:

  1. pasien mengeluh nyeri
  2. pasien mengeluh panas didaerah daun telinga

Data Objektif:

  1. Pembengkakan (karena ada gumpalan darah).
  2. Perubahan bentuk telinga (deformitas).
  3. Perubahan warna (tampak massa berwarna ungu).
  4. Kemerahan.
  5. Benjolan di aurikula (daun telinga).
  6. Fluktuasi/ kenyal

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan.
  2. Ansietas derhubungan dengan krisis situasional.
  3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder akibat kehilangan bagian tubuh.
  4. Resiko infeksi berhubungan dengan sisi masuknya mikroorganisme sekunder akibat incisi

 

RENCANA TINDAKAN

Dx1     : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan

Tujuan  :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x… menit nyeri dapat teratasi atau terkontrol dengan kriteria hasil :

1)      Pasien melaporkan nyeri berkurang

2)      Skala nyeri tingkat ringan ( 0-3 )

3)      Wajah tidak meringis

4)      Tidak gelisah

5)      TTV stabil (suhu : 36-37,30C, nadi: 60 – 100 x/menit, RR : 18 – 24 x/menit, tekanan darah : 120-140/80-100mmHg)

Intervensi

Mandiri

  1. Observasi dan catat keluhan lokasi beratnya (skala 0-10) dan efek yang ditimbulkan oleh nyeri

Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan atau perbaikan penyakit, terjadinyaa komplikasi dan keefektifan intervensi.

  1. Pantau tanda-tanda vital

Peningkatan nyeri akan meningkatkan tanda-tanda vital

  1. Ajarkan untuk menggunakan teknik relaksasi dan nafas dalam atau teknik distraksi seperti mendengarkan musik atau membaca buku

Membantu atau mengontrol mengalihkan rasa nyeri, memusatkan kembali perhatian dan dapat meningkatkan koping

Kolaborasi

  1. Pemberian obat analgetik sesuai indikasi

Menurunkan nyeri

Dx 2 :        Ansietas b/d krisis situasional

Tujuan :      Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x… jam kecemasan pasien berkurang hingga hilang dengan kriteria hasil :

  • Mengakui dan mendiskusikan rasa cemas
  • Mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi
  • Pasien tampak rileks dan melaporkan kecemasan berkurang sampai tingkat dapat diatasi

Intervensi :

  1. Bina kerjasama pasien dengan keluarganya

Pasien merasa lebih tenang bila dekat dengan keluarganya

  1. Catat petunjuk perilaku, mis: gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak mata, perilaku menarik perhatian.

Indikator derajat ansietas atau stres, mis: pasien dapat merasa tidak terkontrol dirumah, kerja atau masalah pribadi. Stres dapat terjadi sebagai akibat gejala fisik, kondisi, juga kondisi lain.

  1. Dorong menyatakan perasaan. Berikan umpan balik.

Membuat hubungan terapeutik. Membantu pasien atau orang terdekat dalam mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stres.

  1. Akui bahwa ansietas dan masalah mirip dengan yang diekspresikan orang lain. Tingkatkan perhatian mendengar pasien.

Validasi bahwa perasaan normal dapat membantu menurunkan stres.

  1. Berikan informasi yang akurat dan nyata tentang apa yang dilakukan, mis: tirah baring, pembatasan masukan peroral, dan prosedur.

Keterlibatan pasien dalam perencanaan perawatan memberikan rasa kontrol dan membantu menurunkan ansietas.

  1. Berikan lingkungan tenang dan istirahat.

Memindahkan dari stres luar meningkatkan relaksasi: membantu menurunkan ansietas

  1. Pertahankan kontak sering dengan pasien

Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri

 

 

Dx3 :    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder akibat kehilangan bagian tubuh.

Tujuan  :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x .. jam diharapkan pasien tidak merasa malu terhadap penampilannya dengan kriteria hasil:

  • Pasien koperatif selama menjalani pemeriksaan
  • Menerima situasi secara konstruktif

Intervensi

Mandiri

  1. Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan khususnya mengenai pikiran, perasaan, pandangan dirinya.

Membantu pasien untuk menyadari perasaannya yang tidak biasa

  1. Catat prilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan, manipulasi atau tidak terlibat pada perawatan

Dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi tindak lanjut dan terapi yang lebih ketat.

  1. Pertahankan pendekatan positif selama aktivitas perawatan

Bantu pasien/orang terdekat untuk menerima perubahan tubuh dan merasakan baik tentang diri sendiri.

 

Dx4 :   Resiko infeksi berhubungan dengan sisi masuknya mikroorganisme sekunder akibat incisi

Tujuan  :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x .. jam diharapkan penyebaran infeksi dapat dikontrol dengan kriteria hasil :

  • Tidak terdapat tanda-tanda imflamasi
  • Tanda-tanda vital normal (suhu : 36-37,30C, nadi: 60 – 100 x/menit, RR : 18 – 24 x/menit, tekanan darah : 120-140/80-100mmHg)

Intervensi

Mandiri

  1. Observasi dan catat keluhan lokasi beratnya (skala 0-10) dan efek yang ditimbulkan oleh nyeri

Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan atau perbaikan penyakit, terjadinyaa komplikasi dan keefektifan intervensi.

  1. Pantau tanda-tanda vital

Peningkatan nyeri akan meningkatkan tanda-tanda vital

  1. Ajarkan untuk menggunakan teknik relaksasi dan nafas dalam atau teknik distraksi seperti mendengarkan musik atau membaca buku

Membantu atau mengontrol mengalihkan rasa nyeri, memusatkan kembali perhatian dan dapat meningkatkan koping

Kolaborasi

  1. Pemberian obat analgetik sesuai indikasi

Menurunkan nyeri

EVALUASI

Dx1    :    Nyeri berkurang atau terkontrol

Dx2    :    Ansietas berkurang

Dx3    :    Pasien tidak merasa malu terhadap penampilannya

Dx4    :    Penyebaran infeksi dapat dikontrol

 

 

Advertisements

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ISI PIKIR : WAHAM

 

  1. 1. KAJIAN TEORI
    1. A. PENGERTIAN
      1. Waham adalah keyakinan yang salah yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita sosial (Stuart dan Sunden, 1990 : 90).
      2. Waham adalah suatu kepercayaan yang salah/ bertentangan dengan kenyataan dan tidak tetap pada pemikiran seseorang dan latarbelakang sosial budaya (Rowlins, 1991: 107)
      3. Waham adalah bentuk lain dari proses kemunduran pikiran seseorang yaitu dengan menca,puri kemampuan pikiran diuji dan dievaluasi secara nyata (Judith Heber, 1987: 722).
      4. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikir yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan biarpun dibuktikan kemustahilannya itu (W. F.Maramis 1991 : 117).

Berdasarkan pengertian di atas maka waham adalah suatu gangguan perubahan isi pikir yang dilandasi adanya keyakinan akan ide-ide yang salah yang tidak sesuai dengan kenyataan, keyakinan atau ide-ide klien itu tidak dapat segera diubah atau dibantah dengan logika atau hal-hal yang bersifat nyata.

 

  1. B. RENTANG RESPON

Rentang respon gangguan adaptif dan maladaptif dapat dijelaskan sebagai berikut :

Rentang respon neurobiologis

Respon adaptif

 

Respon maladaptif
²     Pikiran logis persepsi akurat

²     Emosi konsisten dengan pengalaman

²     Prilaku sesuai dengan hubungan social

²     Kadang-kadang isi pikir terganggu ilusi

²     Reaksi emosional ber-lebihan atau kurang

²     Prilaku ganjil atau tidak lazim

²     Gangguan isi pikir waham halusinasi

²     Ketidakmampuan untuk mengalami emosi

²     Ketidakmampuan isolasi sosial

 

Rentang respon neurobiologis di atas dapat dijelaskan bila individu merespon secara adaptif maka individu akan berpikir secara logis. Apabila individu berada pada keadaan diantara adaptif dan maladaptif kadang-kadang pikiran menyimpang atau perubahan isi pikir terganggu. Bila individu tidak mampu berpikir secara logis dan pikiran individu mulai menyimpang maka ia akan berespon secara maladaptif dan ia akan mengalami gangguan isi pikir : waham

 

  1. C. FAKTOR PREDISPOSISI

Faktor predisposisi dari perubahan isi pikir : waham kebesaran dapat dibagi menjadi 2 teori yang diuraikan sebagai berikut :

  1. 1. Teori Biologis
    1. Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan suatu kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain).
    2. Secara relatif ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan skizofrenia mungkin pada kenyataannya merupakan suatu kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian hipokampus otak. Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari sel-sel pramidal di dalam otak dari orang-orang yang menderita skizofrenia.
    3. Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamin neurotransmiter yang dipertukarkan menghasilkan gejala-gejala peningkatan aktivitas yang berlebihan dari pemecahan asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis.
    4. 2. Teori Psikososial
      1. Teori sistem keluarga Bawen dalam Lowsend (1998 : 147) menggambarkan perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara suami istri mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak akan menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansielas dan suatu kondsi yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya suatu hubungan yang saling mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan anak-anak. Anak harus meninggalkan ketergantungan diri kepada orang tua dan anak dan masuk ke dalam masa dewasa, dan dimana dimasa ini anak tidak akan mamapu memenuhi tugas perkembangan dewasanya.
      2. Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh akan kecemasan. Anak menerima pesan-pesan yang membingungkan dan penuh konflik dan orang tua tidak mampu membentuk rasa percaya terhadap orang lain.
      3. Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari suatu ego yang lemah. Perkembangan yang dihambat dan suatu hubungan saling mempengaruhi antara orang tua, anak. Karena ego menjadi lebih lemah  penggunaan mekanisme pertahanan ego pada waktu kecemasan yang ekstrim menjadi suatu yang maladaptif dan perilakunya sering kali merupakan penampilan dan segmen diri dalam kepribadian.

 

  1. D. FAKTOR PRESIPITASI

Faktor presipitasi dari perubahan isi pikir : waham, yaitu :

  1. Biologis

Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis yang maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur perubahan isi informasi dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.

  1. Stres lingkungan

Secara biologis menetapkan  ambang toleransi terhadap stres yang berinterasksi dengan sterssor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku.

  1. Pemicu gejala

Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis yang maladaptif berhubungan dengan kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur, infeksi, keletihan, rasa bermusuhan atau lingkungan yang penuh kritik, masalah perumahan, kelainan terhadap penampilan, stres gangguan dalam berhubungan interpersonal, kesepain, tekanan, pekerjaan, kemiskinan, keputusasaan dan sebagainya.

 

 

 

 

  1. E. JENIS-JENIS WAHAM

Waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu :

  1. Waham Kejar

Individu merasa dirinya dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang yang bermaksud berbuat jahat kepada dirinya, sering ditemukan pada klien dengan stres anektif tipe depresi dan gangguan organik.

  1. Waham Kebesaran

Penderita merasa dirinya paling besar, mempunyai kekuatan, kepandaian atau kekayaan yang luar biasa, misalnya adalah ratu adil dapat membaca pikiran orang lain, mempunyai puluhan rumah, dll.

  1. Waham Somatik

Perasaan mengenai berbagai penyakit yang berada pada tubuhnya sering didapatkan pada tubuhnya.

  1. Waham Agama

Waham dengan tema agama, dalam hal ini klien selalu meningkatkan tingkah lakunya yang telah ia perbuat dengan keagamaan.

  1. Waham Curiga

Individu merasa dirinya selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya sehingga ia merasa curiga terhadap sekitarnya.

  1. Waham Intulistik

Bahwa sesuatu yang diyakini sudah hancur atau bahwa dirinya atau orang lain sudah mati, sering ditemukan pada klien depresi.

 

  1. F. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala dari perubahan isi pikir waham yaitu : klien menyatakan dirinya sebagai seorang besar mempunyai kekuatan, pendidikan atau kekayaan luar biasa, klien menyatakan perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang, klien menyatakan perasaan mengenai penyakit yang ada dalam tubuhnya, menarik diri dan isolasi, sulit menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, rasa curiga yang berlebihan, kecemasan yang meningkat, sulit tidur, tampak apatis, suara memelan, ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis sendiri, rasa tidak percaya kepada orang lain, gelisah.

 

  1. G. SUMBER KOPING

Ada beberapa sumber koping individu yang harus dikaji yang dapat berpengaruh terhadap gangguan otak dan prilaku kekuatan dalam sumber koping dapat meliputi seperti : modal intelegensi atau kreativitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif mendidik anak-anaknya, dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dan pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, finansial yang cukup, ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan.

 

  1. H. POHON MASALAH

Kerusakan komunikasi verbal                           Akibat

 

 

  1. 2. TEORI ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ISI PIKIR : WAHAM
    1. A. Pengkajian
      1. 1. Pengumpulan Data

Hal-hal yang perlu dikaji pada klien dengan gangguan isi pikir : waham kebesaran yaitu :

  1. Data Subjektif

Klien merasa dirinya sebagai orang besar, mempunyai kekuatan, kepandaian yang luar biasa, misalnya dapat membaca atau membawa pikiran orang lain, dialah ratu adil.

 

  1. Data Objektif

Klien kadang-kadang tampak panik, tidak mampu untuk berkonsentrasi, waham atau ide-ide yang salah, ekspresi muka kadang sedih kadang gembira, tidak mampu membedakan khayalan dengan kenyataan, sering tidak memperlihatkan kebersihan diri, gelisah, tidak bisa diam (melangkah bolak-balik), mendominasi pembicaraan, mudah tersinggung, menolak makan dan minum obat, menjalankan kegiatan agama secara berlebihan atau tidak sama sekali melakukannya, merusak diri-sendiri dan orang lain serta lingkungannya, jarang mengikuti atau tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, sering terbangun pada dini hari, penampilan kurang bersih.

 

  1. 2. Daftar Masalah

Masalah yang lazim muncul pada klien dengan perubahan isi pikir : waham kebesaran, yaitu :

  1. Kerusakan komunikasi verbal.
  2. Perubahan isi pikir : waham kebesaran
  3. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri

  1. B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang sering muncul, yaitu :

  1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan isi pikir : waham
  2. Perubahan isi pikir : waham berhubungan dengan kerusakan interaksi sosial : menarik diri.
  3. Kerusakan interaksi sosial : menaruh diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah.

 

  1. C. Perencanaan dan Intervensi

Tindakan keperawatan yang lazim dilakukan pada klien dengan perubahan isi pikir: waham kebesaran yaitu :

  1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan isi pikir : waham kebesaran :
    1. Tujuan umum : klien mampu berkomunikasi verbal dengan baik sehingga klien dapat melakukan hubungan dengan orang lain.

 

  1. Tujuan khusus :
  • Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
  • Dapat mengidentifikasi pikiran yang realita, mengarahkan pikiran yang realita.

Intervensi dan Rasional

  • Bina hubungan saling percaya dengan klien, ciptakan lingkungan yang hangat dan bersahabat.

Rasional : dengan rasa saling percaya, klien dapat mengungkapkan perasaannya sehingga akan mempermudah melakukan tindakan keperawatan.

  • Diskusikan dengan klien penyebab perubahan isi pikirnya.

Rasional : dengan mengetahui penyebab, maka akan mempermudah dalam melakukan tindakan keperawatan.

  • Diskusikan, anjurkan serta arahkan klien berpikir secara realita.

Rasional : klien dapat melakukan hal-hal yang realita sesuai dengan kenyataan.

  • Libatkan keluarga dalam perawatan klien terutama terhadap perubahan isi pikir klien.

Rasional : keluarga merupakan support sistem yang baik untuk mendukung penyembuhan klien.

  1. Perubahan isi pikir : waham kebesaran berhubungan dengan menarik diri
    1. Tujuan umum : klien tidak mengalami perubahan isi pikir : waham kebesaran
    2. Tujuan khusus :
  • Klien dapat menyebutkan penyebab dirinya menarik diri dengan kriteria evaluasi, klien dapat mengetahui penyebabnya.
  • Klien dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian berhubungan dengan orang lain.

Intervensi dan rasional

  • Kaji pengetahuan klien dengan prilaku menarik diri sehingga dapat mengenali tanda-tanda menarik diri.

Rasional : klien dapat menyadari tanda-tanda menarik diri sehingga memudahkan perawat memberikan intervensi selanjutnya.

  • Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya terutama penyebab prilaku menarik diri.

Rasional : klien dapat mengungkapkan penyebab prilaku menarik diri dapat membantu perawat dalam mengidentifikasi tindakan yang dilakukan.

  • Berikan pujian terhadap kemampuan berhubungan dengan orang lain dan kerugian bila tidak mau berhubungan dengan orang lain.

Rasional : pujian akan dapat memotivasi klien untuk mau berhubungan dengan orang lain.

  1. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan konsep diri, harga diri rendah.

a. Tujuan umum : klien mau berinteraksi sosial dan tidak menarik diri.

  1. Tujuan khusus : dapat meningkatkan kemampuan yang dimiliki dan digunakan dengan kriteria evaluasi, dapat mengungkapkan kemampuan yang dimiliki.

Intervensi dan rasional

  • Diskusikan dan anjurkan klien untuk melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang masih dapat dipergunakan selama sakit.

Rasional : memberi kesempatan pada klien untuk melakukan kegiatan sesuai kemampuan hingga klien merasa harga dirinya meningkat.

  • Anjurkan klien meminta obat pada petugas dan dapat merasakan manfaat.

Rasional : memastikan klien minum obat.

  1. Gangguan konsep diri harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri tidak realistis dan gambaran diri yang terlalu tinggi.
    1. Tujuan umum : klien tidak merasa harga diri rendah
    2. Tujuan khusus :
  • Mengenal masalah, mengidentifikasi sikap menyebut masalah mengetahui pemecahannya.
  • Mampu mengenal harapan-harapan nyata dan tidak nyata.

Intervensi dan rasional

  • Bimbing keluarga untuk menghargai kemampuan hal-hal yang dimiliki klien walaupun tidak sebanding dengan kemampuan anggota keluarga lain.

Rasional : dengan menghargai kemampuan klien akan meningkatkan harga diri rendah.

  • Identifikasi bersama kilen tentang prilakunya yang maladaptif.

Rasional : klien dapat mengenal, mengungkapkan serta menerimanya

  • Identifasi bersama klien cara untuk memecahkan masalah.

Rasional : dapat meningkatkan kemampuan klien.

  • Beri tanggapan dan dengarkan harapan yang diinginkan.

Rasional : membuat klien menjadi terbuka.

  • Dorong individu untuk mengungkapkan harapan yang dimilikinya.

Rasional  : memudahkan perawat dalam melakukan harapan yang dimiliki.

  • Tunjukkan pada klien harapan yang nyata.

Rasional  : menunjukkan pada harapan yang bersifat nyata sehingga dapat menerima kenyataan.

  • Alihkan  pada harapan yang tidak sesuai keaktivitas sesuai hoby.

Rasional  : dapat membimbing untuk melakukan tindakan sesuai kemampuannya.

 

  1. D. Evaluasi

Hasil yang diharapkan setelah melakukan intervensi pada klien dengan perubahan isi pikir : waham kebesaran yaitu :

  1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
  2. Klien dapat mengendalikan isi pikir : waham kebesaran.
  3. Klien dapat mengekspresikan perasaannya.
  4. Klien dapat mengembangkan persepsi diri yang positif.
  5. Klien dapat berhubungan dengan lingkungan.
  6. Klien dapat terlibat dalam perawatannya.

 

 

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN ALAM PERASAAN : DEPRESI

 

 

A.     Kajian Teori

  1. I. Pengertian
  2. Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, keindahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan, Sadock, 1998).
  3. Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kekecewaan pada alam perasaan, (affective atau mood disorder) yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa (Dadang Hawari, 2001)
  4. Depresi ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung tidak bersemangat, merasa tak berguna, merasa tak berharga, merasa kosong dan tak ada harapan berpusat pada kegagalan dan bunuh diri, sering disertai ide dan pikiran bunuh diri klien tidak berniat pada pemeliharaan diam dan aktivitas sehari-hari (Budi Anna Kaliat, 1996)

Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi adalah gangguan alam perasaan yang disertai oleh komponen psikologik dan komponen somatik yang terjadi akibat mengalami kesedihan yang panjang.

 

  1. II. PENYEBAB TERJADINYA DEPRESI
    1. Kekecewaan.

Karena adanya tekanan dan kelebihan fisik menyebabkan seseorang menjadi jengkel tak dapat berfikir sehat atau kejam pada saat–saat khusus jika cinta untuk diri sendiri lebih besar dan pada cinta pada orang lain yang menghimpun kita, kita akan terluka, tidak senang dan cepat kecewa, hal ini langkah pertama depresi jika luka itu direnungkan terus-menerus akan menyebabkan kekesalan dan keputusasaan.

  1. Kurang Rasa Harga Diri

Ciri–ciri universal yang lain dari orang yang depresi adalah kurangnya rasa harga diri sayangnya kekurangan ini cenderung untuk dilebih-lebihkan menjadi estrim, karena harapan-harapan yang realistis membuat dia tak mampu merestor dirinya sendiri hal ini memang benar khususnya pada individu yang ingin segalanya sempurna yang tak pernah puas dengan prestasi yang dicapainya

  1. Perbandingan yang tidak adil

Setiap  kali kita membandingkan diri dengan seseorang yang mempunyai nilai lebih baik dari kita dimana kita merasa kurang dan tidak bisa sebaik dia maka depresi mungkin terjadi

  1. Penyakit

Beberapa faktor yang dapat mencetuskan depresi adalah organik contoh individu yang mempunyai penyakit kronis seperti ca. mamae dapat menyebabkan depresi.

  1. Aktivitas Mental yang  Berlebihan

Orang  yang produktif dan aktif sering menyebabkan depresi.

  1. Penolakan

Setiap manusia butuh akan rasa cinta, jika kebutuhan akan rasa cinta itu tak terpenuhi maka terjadilah depresi.

 

  1. III. GEJALA-GEJALA DEPRESI
    1. Gejala Fisik dari Depresi

Gangguan tidur, kelesuan fisik, hilangnya nafsu makan dan penyakit fisik yang ringan.

  1. Gejala Emosional dari Depresi

Kehilangan kasih sayang, kesedihan, hilangnya kekuatan, hilangnya konsentrasi, rasa bersalah, permusuhan dan hilangnya harapan.

 

  1. IV. PATOPSIKOLOGI

Alam perasaan adalah kekuatan/ perasaan hati yang mempengaruhi seseorang dalam jangka waktu yang lama setiap orang hendaknya berada dalam afek yang tidak  stabil tapi tidak berarti orang tersebut tidak pernah sedih, kecewa, takut, cemas, marah dan sayang emosi ini terjadi sebagai kasih sayang  seseorang terhadap rangsangan yang diterimanya dan lingkungannya baik interenal maupun eksternal. Reaksi ini bervariasi dalam rentang dari reaksi adaptif sampai maladaptif.

 

 

 

 

Rentang Respon

Respon adaptif                                                                          Respon maladaptif

 

 

 

 

Responsif Reaksi kehilangan yang wajar Supresi Reaksi kehilangan yang memanjang Mania/ Depresi

 

  1. Reaksi Emosi Adaptif

Merupakan reaksi emosi yang umum dari seseorang terhadap rangsangan yang diterima dan berlangsung singkat. Ada  2 macam reaksi adaptif :

  1. Respon emosi yang responsif

Keadaan individu yang terbuka mau mempengaruhi dan menyadari perasaannya sendiri dapat beradaptasi dengan dunia internal dan eksternal

  1. Reaksi kehilangan yang wajar

Reaksi yang dialami setiap orang mempengaruhi keadaannya seperti :

  • Bersedih
  • Berhenti kegiatan sehari–hari
  • Takut pada diri sendiri
  • Berlangsung tidak lama.
  1. Reaksi Emosi Maladaptif

Merupakan reaksi emosi yang sudah  merupakan gangguan respon ini dapat                dibagi 2 tingkatan yaitu :

  1. Supresi

Tahap awal respon maladaptif à individu menyangkal perasaannya dan menekan atau menginternalisasi aspek perasaan terhadap lingkungan

  1. Reaksi kehilangan yang memanjang

Supresi memanjang à  mengganggu fungsi kehidupan individu

Gejala : bermusuhan, sedih terlebih, rendah diri.

  1. Mania/ Depresi

Gangguan alam perasaan kesal dan dimanifestasikan dengan gangguan fungsi sosial dan fungsi fisik yang hebat dan menetap pada individu yang bersangkutan

 

 

 

  1. V. TINGKAT DEPRESI
    1. Depresi Ringan

Sementara, alamiah, adanya rasa pedih perubahan proses pikir komunikasi sosial dan rasa tidak nyaman.

  1. Depresi Sedang
    1. Afek : murung, cemas, kesal, marah, menangis
    2. Proses pikir : perasaan sempit, berfikir lambat, berkurang komunikasi verbal komunikasi non verbal meningkat.
    3. Pola komunikasi : bicara lambat, berkurang komunikasi verbal, komunikasi non verbal meningkat
    4. Partisipasi sosial : menarik diri tak mau bekerja/ sekolah, mudah tersinggung
    5. Depresi Berat
      1. Gangguan afek : pandangan kosong, perasaan hampa, murung, inisiatif berkurang
      2. Gangguan proses pikir
      3. Sensasi somatik dan aktivitas motorik : diam dalam waktu lama, tiba-tiba hiperaktif, kurang merawat diri, tak mau makan dan minum, menarik diri, tidak peduli dengan lingkungan

 

  1. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN

I.      PENGKAJIAN

1. Faktor Predisposisi

  1. Faktor Genetik

Dikaitkan dengan faktor keturunan

  1. Teori Agresi Berbalik pada Diri

Diawali dengan proses kehilangan → terjadi ambivalensi terhadap objek yang hilang → tidak mampu mengekspresikan kemarahan → marah pada diri sendiri

  1. Kehilangan Objek

Pada masa kanak–kanak jika terjadi kehilangan → trauma  → faktor predisposisi terjadi gangguan pada masa remaja jika terjadi kehilangan

 

 

  1. Model Kognitif

Depresi terjadi karena gangguan proses pikir → penilaian negatif terhadap diri, lingkungan dan masa depan

  1. Teori Belajar Ketidakberdayaan

Keadaan prilaku dan ciri kepribadian seseorang yang percaya bahkan dirinya kehilangan kontrol terhadap lingkungan

Ditandai : tampak pasif, tidak mampu menyatakan keinginan, opini negatif  tentang diri.

2. Faktor Presipitasi

  1. Putus/ Kehilangan hubungan

Kehilangan pada kehidupan dewasa → faktor predisposisi terjadi gangguan kehilangan nyata/ samar-samar

  • Kehilangan orang yang dicintai
  • Kehilangan fungsi tubuh
  • Kehilangan harga diri
  1. Kejadian besar dalam kehidupan
  • Peristiwa tak menyenangkan
  • Pengalaman negatif dari peristiwa kehidupan → depresi
  1. Perubahan peran

Peran sosial yang menimbulkan stressor : bertetangga, pekerjaan, perkawinan, pengangguran, pensiunan.

  1. Sumber koping tidak adekuat
  • Sosial ekonomi, pekerjaan, posisi sosial, pendidikan
  • Keluarga → kurang dukungan
  • Hubungan interpersonal isolasi diri/ sosial
  1. Perubahan Fisiologik

Gangguan alam perasaan terjadi sebagai respon terhadap perubahan fisik oleh karena :

  • Obat-obatan
  • Penyakit fisik (infeksi, virus, tumor) → timbul nyeri sehingga membatasi fungsi individu berinteraksi → depresi

 

 

 

3. Prilaku

Prilaku yang berhubungan dengan depresi :

  1. Afektif

Marah, anxietas, apatis, perasaan dendam, perasaan bersalah, putus asa, kesepian, harga diri rendah, kesedihan.

  1. Fisiologis

Nyeri perut, anorexia, nyeri dada, konstipasi, pusing, insomnia, perubahan menstruasi, berat badan menurun.

  1. Kognitif

Ambivalen, bingung, konsentrasi berkurang motivasi menurun, menyalahkan diri, ide merusak diri, pesimis, ragu–ragu.

  1. Prilaku

Agitasi, ketergantungan, isolasi sosial, menarik diri.

4. Mekanisme Koping

Reaksi berduka yang tertunda mencerminkan penggunaan eksagregasi dari mekanisme pertahanan penyangkal (denial) dan supresi yang berlebihan dalam upayanya untuk menghindari distress hebat yang berhubungan dengan berduka. Depresi adalah suatu perasaan berduka abortif yang menggunakan mekanisme represi, supresi, denial dan disosiasi..

 

II.      DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Pohon Masalah

Resiko tinggi terjadi kekerasan

Yang diarahkan pada diri sendiri

Depresi

Harga diri rendah

Koping individu tak efektif

Koping keluarga tak efektif

 

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri berhubungan dengan depresi yang ditandai dengan ide bunuh diri.
    2. Depresi berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan perasaan tak berhjarga tidak ada harapan, murung dan merasa kosong.
    3. Harga diri rendah berhubungn dengan koping individu tak efektif ditandai dengan keputusan, berpusat pada kegagalan
    4. Koping individu tak efektif berhubungan dengan koping keluarga tak efektif.

  1. III. PRIORITAS INTERVENSI

Pada dasarnya intervensi difokuskan pada :

1.  Lingkungan

Prioritas utama dalam merawat klien depresi adalah mencegah terjadinya kecelakaan, jauhkan dari benda–benda berbahaya seperti : gunting, pisau, ciptakan lingkungan yang aman, kurangi rangsangan dan suasana terang.

2.  Hubungan perawat klien

Intervensi      :

  • Bina hubungan saling percaya dan hangat
  • Bersikap empati
  • Beri waktu pada klien untuk berfikir dan menjawab
  • Variabel harus bersedia menerima, diam, aktif dan jujur.

3.  Afektif

Tujuan          :   Menerima dan menenangkan klien bukan mengembirakan atau

mengatakan bahwa klien tidak perlu khawatir

Intervensi      :   Dorong klien untuk mengekspresikan pengalaman menyakitkan dan menyedihkan secara verbal

4.  Kognitif

Tujuan          :   Bertujuan meningkatkan kontrol diri terhadap tujuan dan prilakunya, meningkatkan harga diri dan membantu memodifikasi harapan negatif

Intervensi      :

  • Bantu klien mengkaji perasaan → kaji klien tentang masalah
  • Terima persepsi klien tapi tidak menerima kepuasan klien
  • Bersama–sama mendefinisikan masalah → memberi klien control diri, harapan, realisasi bahwa perubahan mungkin terjadi

 

5.  Intervensi Perilaku

Tujuan          : Mengaktifkan klien yang diarahkan pada tujuan realitas

Intervensi    : Klien diberi tanggung jawab dalam aktivitas secara bertahap

6.  Intervensi Sosial

Tujuan          : Bantu klien meningkatkan ketrampilan sosial

Intervensi      :

  • Kaji ketrampilan sosial, support dan interest klien
  • Kaji sumber sosial yang tersedia
  • “Roleplay” tentang situasi dan interaksi sosial
  • Beri reinforcement positif tentang ketrampilan sosial yang efektif
  • Dorong klien untuk memulai sosialisasi pada area yang lebih luas

7.  Intervensi Fisiologis

Tujuan          : Meningkatkan status kesehatan klien, kebutuhan dasar seperti makan, minum, istirahat, kebersihan dan penampilan diri perlu mendapat   perhatian khusus

Intervensi      :

  • Termasuk perawatan fisik dan therapy somatik
  • Jika klien tidak mampu merawat diri → Bantu klien memenuhi kebutuhan nutrisi, tidur dan kebersihan diri.
  • Therapi somatik : beri obat anti depressant yaitu : Tricylins dan monoamine oksidasi (MAO)

D. EVALUASI

Adanya perubahan respon maladaptif kearah adaptif klien dapat ;

  • Menerima dan mengakhiri perasaannya dan perasaan orang lain
  • Memulai komunikasi
  • Mengontrol perilaku sesuai keterbatasannya
  • Menggunakan proses pemecahan masalah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mungkin di Suatu Hari


 

I.

Suatu hari kutemukan diriku berdiri di pinggiran jalan, di tengah kerumunan. Angin sore hari belum terlalu dingin, seakan ada sesuatu di ujung sana yang meniupkannya pelan ke arahku. Sesekali menggugurkan daun-daun akasia, yang ragu-ragu memekarkan bunganya, sebab tak ada yang tahu, musim semikah saat itu.

 

Dan kesepian tiba-tiba menyergap, mendekap dalam kelam yang sempurna. Cahaya terakhir telah jatuh di ranting terendah pohon-pohon di sini. Gelap hampir menyatu dengan sekian benda-benda.

 

Lalu entah kenapa, ada dirimu di seberang sana. Seolah dimunculkan dari kelam yang hampa, menjadi ada begitu saja. Ada peta di tanganmu. Juga sebuah buku dengan pinggiran coklat muda, seperti tak pernah terbaca.

 

Kita hapalkan nama jalan, berpeluk sungguh, meski kau dan aku sama-sama tahu, di ujung tikungan, entah yang mana, di satu perempatan, entah di mana, kita harus memilih masing-masing, akan kemanakah kita. Dan langkah-langkah ini masihkah akan saling terpaut satu sama lain.

 

Jalan-jalan kecil kita lewati satu demi satu. Tak pernah bisa kita kenali, pohon-pohon yang tumbuh berjarakan, ilalang liar yang tak teratur di tiap sisi jalan, dan udara yang selalu berubah, mengikuti gerak cuaca yang tak pernah bisa kita terka.

 

Kita hanya berjalan, seolah Cuma itu yang membuat kita tak asing dengan tiap benda yang terlewat, tiap orang yang lalu lalang, juga keheningan, yang membuat kita berdekapan dengan tenang.

 

Kemudian, kita dengarkan suara angin dengan seksama, pelan-pelan menjalin aneka nada-nada. Sesekali melantun pelan, seperti suara alir sungai, lalu menderu bagai suara hujan yang datang tiba-tiba. Kadang sayup-sayup lembut seperti tembang lirih seorang ibu yang menidurkan anaknya. Suara-suara itu membujuk kita menghentikan langkah di sana. Sedang jalan-jalan di depan, penuh kelap kelip lampu yang menawan, riuh oleh aneka penanda yang tertera dalam peta yang ternyata masih terselip di saku bajumu.

 

Kau berkata, kita berjalan saja. Dan kita tinggalkan suara-suara yang menyenangkan itu tanpa satu kehampaan pun yang tersisa.

 

II.

 

Setelah pagi ini apa yang dapat kita temui, selain embun yang setengah tak rela meleleh di balik daun-daun yang berguguran, di antara cahaya yang berdatangan. Diantara taman penuh bunga juga kupu-kupu aneka warna. Ada angin tipis yang lembut bertiup dari tempat jauh. Ada hijau semak dan pepohonan. Ada gugur daun-daun yang menyebarkan warna coklat pudar di tanah. Ada kau dan aku duduk di satu sudut.

 

Setelah pagi ini apa yang dapat kita saksikan selain langit yang berubah warna, membiarkan matahari melukis harinya sendiri, dan kumpulan awan pergi mengikuti arah angin yang entah mau kemana. Burung-burung beriringan, hinggap di puncak tinggi cemara-cemara, tanpa nyanyian, tanpa kepakan sayap yang sebelumnya riang.

 

Hari-hari pergi seperti ranting kering yang berjatuhan dihembus angin akhir tahun. Hari-hari berganti seperti warna bulan, berlainan di tiap nampaknya. Dan kita tetap di sana, menengadahkan wajah, berharap embun jatuh di atasnya, memberi kesegaran yang menyenangkan. Memandang segalanya seolah semua milik kita.

 

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ISI PIKIR : HALUSINASI

 

  1. I. Kajian Teori
    1. A. Pengertian

Halusinasi adalah pengalaman tanpa ransang external (Cook dan Fontaine, 1987). Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan jiwa dari seluruh pasien diantaranya mengalami halusinasi.Gangguan jiwa lain yang sering juga disertai dengan gejala halusinasi adalah gangguan maniak degresif dan aterium.

  1. B. Jenis – Jenis halusinasi

Ada beberapa jenis halusinasi, Stuart dan Larara 1908 membagi halusinasi menjadi 7 jenis yaitu :

  1. Halusinasi Pendengaran

Karakteristinya meliputi mendengar suara-suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien bahkan sampai ke percakapan  lengkap antara 2 orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh melakukan sesuatu yang kadang-kadang dapat membahayakan.

  1. Halusinasi Penglihatan

Karakteristiknya meliputi stimulus visual dalam bentuk kuatan cahaya, gambar geometrik, gambar kartoon, bayangan yang rumit atau kompleks, bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.

  1. Halusinasi Penghidu

Karakteristiknya meliputi membaui bau tertentu seperti bau darah, kemenyan atau faeces yang umumnya tidak menyenangkan.

  1. Halusinasi Pengcapan

Merasa mengecap, seperti rasa darah, urine, dan faeces

  1. Halusinasi Derabaan

Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan berupa stimulus yang jelas, rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang.

 

 

  1. Halusinasi Cenesthehe

Dimana klien merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.

  1. Halusinasi Kinestetic

Merasakan pergerakan sementara, berdiri tanpa bergerak

 

  1. C. Proses terjadinya Halusinasi

Halusinasi berkembang menjadi 4 fase (Habes, dkk, 1902):

  1. Fase pertama (conforting)

Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stres, perasaan yang terpisah, kesepian klien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menglilangkan kecemasan dan stres. Cara ini menolong untuk sementara.

  1. Fase kedua (condeming)

Pencemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal. Klien berada pada tingkat “ Listening” pada halusinasi. Pemikian internal menjadi menonjol. Gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas. Klien takut apabila orang lain mendengar dan klien tidak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain atau tempat lain.

  1. Fase Ketiga

Halusinasi menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi kesenangan dan rasa aman yang sementara.

  1. Fase Keempat (conquerting)

Klien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya. Klien mungkin berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu yang singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.

  1. D. Pohon masalah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. II. Asuhan Keperawatan
    1. A. Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji
      1. Faktor Predisposisi

Kaji faktor predisposisi yang pada munculnya biologi seperti pada halusinasi antara lain :

  1. Faktor genetis
  2. Faktor neurobiologi
  3. Faktor neurotransiniter
  4. Teori virus
  5. Psikologi
  6. Faktor Presipitasi

Kaji gejala-gejala pencetus neurobiologis meliputi :

  1. Kesehatan     : nutrisi kurang, kurang tidur, kelelahan, infeksi, obat ssp, hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
  2. Lingkungan : lingkungan yang memasuki, masalah di rumah tangga, sosial, tekanan kerja, kurangnya dukungan sosial, kehilangan kebebasan hidup.
  3. Sikap/ prilaku merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa merasa gagal, kehilangan rendah diri, merasa malang, perilaku agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan pengobatan

 

 

 

  1. Mekanisme Koping

Kaji mekanisme koping yang sering digunakan klien, meliputi :

  1. Regresi       :  menjadi malas beraktifitas sehari-hari
  2. Proyeksi     : mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda.
  3. Menarik Diri : sulit mempercayai orang lain dan dengan stimulus internal
  4. Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien.

Ketahui tentang halusinasi klien meliputi :

  • Isi halusinasi yang dialami klien
  • Waktu dan frekuensi halusinasi
  • Situasi pencetus halusinasi
  • Respon klien tentang halusinasinya

 

  1. B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang mungkin muncul pada klien halusinasi :

  1. Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi
  2. Perubahan sesnsori persepsi halusinasi  berhubungan menarik diri
  3. isolasi sosial menarik diri berhubungan diri rendah.

 

  1. C. Rencana tindakan Keperawatan
Tgl No Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

 

 

TUM  : klien  tidak mencederai orang lain dengan lingkungan

TUK1 : klien dapat membina hubungan saling percaya

Ekspresi wajah bersahabat ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebut nama. Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi

–          Sapa klien dengan ramah

–          Perkenalkan diri dengan sopan

–          Jelaskan tujuan pertemuan

–          Jujur dan menepati janji

 

 

TUK 2 : Klien mengenal halusinasinya Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi, timbulnya halusinasi

 

–          Adakah kontak yang sering dan singkat secara bertahap

–          Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya

 

 

TUK 3 : Klien dapat mengontrol halusinasinya Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya –          Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasinya

–          Diskusikan dengan klien tentang manfaat cara yang digunakan klien jika bermanfaat berikan pujian

 

 

TUK 4 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik Klien dapat menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping obat klien dapat mendemonstrasikan cara penggunaan obat yang benar –          Diskusikan dengan klien tentang dosis frekuensi dan manfaat obat

–          Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya.

 

 

 

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PRILAKU PARANOID

 

  1. I. Konsep Teori
    1. A. Pengertian

Paranoid merupakan bagian dari gangguan proses pikir yang meliputi gangguan bentuk pikiran, gangguna arus pikiran, gangguan isi pikiran. Gangguan isi pikiran dapat terjadi baik pada isi non verbal maupun pada isi pikiran yang diceritakan misal : extansi, fantasi, hobi, curiga, waham, dsb (Maramis, 99 hal 131-118)

Paranoid adalah gangguan berhubungan dengan orang lain/ lingkungan yang ditandai dengan perasaan tidak percaya, ragu dan perilaku tersebut jelas saat individu berinteraksi dengan orang lain/ lingkungan (Budi Anna Keliat, 1990).

  1. B. Patopsikologi Paranoid
    1. Faktor Predisposisi
      1. Faktor Perkembangan

Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal yang dapat menaikkan stres, kecemasan dengan berakhir dengan gangguan persepsi. Disamping itu karena pengurus proses tumbang yang tidak tuntas seperti BHSP tidak baik, kegagalan dalam mengungkapkan perasaan, pikiran serta proses kehilangan yang berkepanjangan.

  1. Faktor Sosial Budaya

Pengalaman hidup yang patut, pengalaman tersebut menyebabkan individu menjadi cemas, merasakan ada sesuatu yang tidak menyenangkan, individu mencoba menggunakan koping dengan mengingkari ancaman/ dengan perilaku proyeksi.

  1. Faktor Fisik

Intoksikasi alkohol, kekurangan gisi, hygiene perorangan yang buruk, sulit tidur.

  1. Status Emosi

Ketakutan menjadi berbahaya, isolasi, pikiran yang di kontrol rasa curiga yang ekstrim, bermusuhan/ marah, perasaan rendah diri/ ketidak berdayaan, rasa malu, rasa bisalah, perasaan mendatar, tumpul tidak sesuai dengan keadaan.

  1. Status Intelektual

Perasaan yang terpecah, paranoid, sombong, gagguan seksual, ketidakmampuan dalam mengambil keputusan

  1. Status Sosial

Kegagalan dalam mengungkapkan pikiran, menarik diri, isolasi, cepat menyalahkan orang lain, hgangguan melakukan peran sosial, curiga

 

  1. II. Asuhan Keperawatan
    1. A. Pengkajian

Pengumpulan data

Menurut Stuart dan Sundeen (1990) mengatakan data yang dapat dikaji pada klien yang mengalami perilaku paranoid adalah :

Ds  :  Klien mengatakan merasa curiga terhadap orang lain tanpa alasan yang jelas, klien mengatakan merasa takut dan perasaan tidak nyaman, merasa cemas.

Do :  Klien terkadang tampak panik, tidak mampu untuk berkonsentrasi, kebersihan diri (-), gelisah, suka mondar-mondir, mudah tersinggung

 

  1. B. Diagnosa Keperawatan
    1. Gangguan proses pikir :  curiga
    2. Gangguan konsep diri :  HDR
    3. Gangguan rasa aman :  ketakutan
    4. Koping individu tidak efektif
    5. Ansietas (panik)
    6. Gangguan nutrisi :  Kurang dari kebutuhan
    7. Gangguan kebersihan diri
    8. Distres spiritual

  1. C. Perencanaan
    1. Gangguan proses pikir : curiga

→  Tingkatkan kepercayaan klien dengan cara BHSP dengan ke :  klien mau membalas salam, mau berjabat tangan, ada kontak mata, klien mengetahui nama perawat, klien dapat mengungkapkan perasaanya.

→  Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaanya. Bantu klien mengungkapkan penyebab perasaan curiganya.

→  Ciptakan lingkungan yang hangat bersahabatseperti lingkungan yang tidak gaduh

  1. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

TUM        :  Klien mampu mempertahankan harga diri Positif

TUK        :  Stl dilakukan tindakan keperawatan 3 x 15 klien mampu :

  1. Memperluas Kesadaran diri

Dengarkan keluhan klien nyatakan kesediaan perawat.

  1. Bantu klien mengungkapkan upaya–upaya yang biasa digunakan dalam menghadapi masalah anjurkan klien mengekspresikan diri tentang sesuatu yang dirasakan.
  2. D. Pelaksanaan

Pelaksanaan merupakan tahap ketiga dalam proses keperawatan tindakan dilakukan dengan intervensi yang telah dibuat dapat domodifikasi      kondisi

 

  1. E. Evaluasi

Hasil yang diharapkan pada klien dengan perilaku paranoid :

  1. Dapat berfikir dan realitas
  2. Dapat mengekspresikan perasaanya
  3. Klien dapat mengembangkan persepsi diri positif
  4. Klien dapat berhubungan dengan lingkungannya dapat berinteraksi dengan baik.

 

 

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PRILAKU PERCOBAAN BUNUH DIRI

 

  1. I. KAJIAN TEORI
    1. A. Pengertian

Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Keliat 1991 : 4).

Menurut Beck (1994) dalam Keliat (1991 hal 3) mengemukakan rentang harapan – putus harapan merupakan rentang adaptif – maladaptif.

 

 

Respon adaptif Respon maladaptif
  • Harapan
  • Yakin
  • Percaya
  • Inspirasi
  • Tetap hati
  • Putus harapan
  • Tidak berdaya
  • Putus asa
  • Apatis
  • Gagal dan kehilangan
  • Ragu-ragu
  • Sedih
  • Depresi
  • Bunuh diri

 

Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku, sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya setempat. Respon maladaptif antara lain :

  1. Ketidakberdayaan, keputusasaan, apatis.

Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah akan meninggalkan masalah, karena merasa tidak mampu mengembangkan koping yang  bermanfaat sudah tidak berguna lagi, tidak mampu mengembangkan koping yang baru serta yakin tidak ada yang membantu.

  1. Kehilangan, ragu-ragu

Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak realistis akan merasa gagal dan kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. Misalnya : kehilangan pekerjaan dan kesehatan, perceraian, perpisahan individu akan merasa gagal dan kecewa, rendah diri yang semua dapat berakhir dengan bunuh diri.

  1. Depresi

Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang ditandai dengan kesedihan dan rendah diri. Biasanya bunuh diri terjadi pada saat individu ke luar dari keadaan depresi berat.

  1. Bunuh diri

Adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri  untuk mengkahiri kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

 

  1. B. Etiologi

Banyak penyebab tentang alasan seseorang melakukan bunuh diri :

  1. Kegagalan beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stres.
  2. Perasaan terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti.
  3. Perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri.
  4. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.

 

  1. C. Faktor Predisposisi

Menurut Stuart dan Sundeen (1997), faktor predisposisi bunuh diri antara lain :

  1. Diagnostik > 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu beresiko untuk bunuh diri yaitu gangguan apektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.

 

 

  1. Sifat kepribadian

Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya resiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan, implisif dan depresi.

  1. Lingkungan psikososial

Seseorang yang baru mengalami kehilangan, perpisahan/perceraian, kehilangan yang dini dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang berhubungan dengan bunuh diri.

  1. Riwayat keluarga

Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor resiko penting untuk prilaku destruktif.

  1. Faktor biokimia

Data menunjukkan bahwa secara serotogenik, apatengik, dan depominersik menjadi media  proses yang dapat menimbulkan prilaku destrukif diri.

 

  1. D. Faktor Presipitasi
    1. Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah :
    2. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti.
    3. Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres.
    4. Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri.
    5. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.

 

  1. E. Patopsikologi

Semua prilaku bunuh diri adalah serius apapun tujuannya. Orang yang siap membunuh diri adalah orang yang merencanakan kematian dengan tindak kekerasan, mempunyai rencana spesifik dan mempunyai niat untuk melakukannya. Prilaku bunuh diri biasanya dibagi menjadi 3 kategori :

 

  1. Ancaman bunuh diri

Peningkatan verbal/nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Ancaman menunjukkan ambivalensi seseorang tentang kematian, kurangnya respon positif dapat ditafsirkan seseorang sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri.

  1. Upaya bunuh diri

Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu yang dapat mengarah pada kematian jika tidak dicegah.

  1. Bunuh diri

Mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan atau terabaikan. Orang yang melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak langsung ingin mati mungkin pada mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.

Percobaan bunuh diri terlebih dahulu individu tersebut mengalami depresi yang berat akibat suatu masalah yang menjatuhkan harga dirinya.

 

  1. F. Tanda dan Gejala

Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat rencana yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut.

  1. Petunjuk dan gejala
    1. Keputusasaan
    2. Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan tidak berguna
    3. Alam perasaan depresi
    4. Agitasi dan gelisah
    5. Insomnia yang menetap
    6. Penurunan BB
    7. Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan sosial.
    8. Petunjuk psikiatrik
      1. Upaya bunuh diri sebelumnya
      2. Kelainan afektif
      3. Alkoholisme dan penyalahgunaan obat
      4. Kelaianan tindakan dan depresi mental pada remaja
      5. Dimensia dini/ status kekacauan mental pada lansia
      6. Riwayat psikososial
        1. Baru berpisah, bercerai/ kehilangan
        2. Hidup sendiri
        3. Tidak bekerja, perbahan/ kehilangan pekerjaan baru dialami
        4. Faktor-faktor kepribadian
          1. Implisit, agresif, rasa bermusuhan
          2. Kegiatan kognitif dan negatif
          3. Keputusasaan
          4. Harga diri rendah
          5. Batasan/gangguan kepribadian antisosial

  1. II. TINJAUAN PROSES KEPERAWATAN
    1. 1. Pengertian
      1. Tinjauan kembali riwayat klien untuk adanya stressor pencetus dan data signifikan tentang :
        1. Kerentaan genetik-biologik (riwayat keluarga).
        2. Peristiwa hidup yang menimbulkan stres dan kehilangan yang baru dialami.
        3. Hasil dan alat pengkajian yang terstandarisasi untuk depresi.
        4. Riwayat pengobatan.
        5. Riwayat pendidikan dan pekerjaan.
        6. Catat ciri-ciri respon psikologik, kognitif, emosional dan prilaku dari individu dengan gangguan mood.
        7. Kaji adanya faktor resiko bunuh diri dan letalitas prilaku bunuh diri :
          1. Tujuan klien misalnya agar terlepas dari stres, solusi masalah yang sulit.
          2. Rencana bunuh diri termasuk apakah klien memiliki rencana yang teratur dan cara-cara melaksanakan rencana tersebut.
          3. Keadaan jiwa klien (misalnya adanya gangguan pikiran, tingkat gelisah, keparahan gangguan mood).
          4. Sistem pendukung yang ada.
          5. Stressor saat ini yang mempengaruhi klien, termasuk penyakit lain (baik psikiatrik maupun medik), kehilangan yang baru dialami dan riwayat penyalahgunaan zat.
          6. Kaji sistem pendukung keluarga dan kaji pengetahuan dasar keluarga klien, atau keluarga tentang gejala, meditasi dan rekomendasi pengobatan gangguan mood, tanda-tanda kekambuhan dan tindakan perawatan diri.

 

  1. 2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul  pada prilaku percobaan bunuh diri :

  1. Dorongan yang kuat untuk bunuh diri berhubungan dengan gangguan alam perasaan : depresi.
  2. Potensial untuk bunuh diri berhubungan dengan ketidakmampuan menangani stres, perasaan bersalah.
  3. Koping yang tidak efektif berhubungan dengan ingin bunuh diri sebagai pemecahan masalah.
  4. Potensial untuk bunuh diri berhubungan dengan keadaan stress yang tiba-tiba
  5. Isolasi sosial berhubungan dengan usia lanjut atau fungsi tubuh yang menurun.
  6. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan kegagalan (sekolah, hubungan interpersonal).

 

  1. 3. Rencana Tindakan

Tujuan utama asuhan keperawatan adalah melindungi klien sampai ia dapat melindungi diri sendiri. Intervensi yang dibuat dan dilaksanakan terus mengacu pada etiologi dari diagnosa keperawatan serta sesuai dengan tujuan yang akan tercapai.

Menurut Stuart dan Sundeen (1997) dalam Keliat (1991 : 13) mengidentifikasi intervensi utama pada klien untuk prilaku bunuh diri yaitu :

  1. Melindungi :

Merupakan intervensi yang paling penting untuk mencegah klien melukai dirinya. Tempatkan klien di tempat yang aman, bukan diisolasi dan perlu dilakukan pengawasan.

  1. Meningkatkan harga diri

Klien yang ingin bunuh diri mempunyai harga diri yang rendah. Bantu klien mngekspresikan perasaan positif dan negatif. Berikan pujian pada hal yang positif.

  1. Menguatkan koping yang konstruktif/sehat.

Perawat perlu mengkaji koping yang sering dipakai klien. Berikan pujian penguatan untuk koping yang konstruktif. Untuk koping yang destruktif perlu dimodifikasi/dipelajari koping baru.

  1. Menggali perasaan

Perawat membantu klien mengenal perasaananya. Bersama mencari faktor predisposisi dan presipitasi yang mempengaruhi prilaku klien.

  1. Menggerakkan dukungan sosial, untuk itu perawat mempunyai peran menggerakkan sistem sosial klien, yaitu keluarga, teman terdekat, atau lembaga pelayanan di masyarakat agar dapat mengontrol prilaku klien.

 

  1. 4. Pelaksanaan

Tindakan keperawatan yang dilakukan harus disesuaikan dengan rencana keperawatan yang telah disusun. Sebelum melaksanakan tindakan yang telah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dengan kebutuhannya saat ini (here and now). Perawat juga meniali diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, teknikal sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan. Dinilai kembali apakah aman bagi klien, jika aman maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan.

 

  1. 5. Evaluasi
    1. Ancaman terhadap integritas fisik atau sistem dari klien telah berkurang dalam sifat, jumlah asal atau waktu.
    2. Klien menggunakan koping yang adaptif.
    3. Klien terlibat dalam aktivitas peningkatan diri.
    4. Prilaku klien menunjukan kepedualiannya terhadap kesehatan fisik, psikologi dan kesejahteraan sosial.
    5. Sumber koping klien telah cukup dikaji dan dikerahkan.