Our Rain

: s

Ketika kau sampai pada halaman ini mungkin aku tengah memikirkanmu sembari tetap menulis sesuatu tentang hari yang telah berlalu, di antara tumpukan kertas tugasku, juga alunan lagu-lagu yang memenuhi seisi ruang tidurku.

Kau yang paling tahu, betapa seringnya aku menggugat waktu. Kau pun tahu di balik semua itu, aku bukan apa-apa di hadapannya. Hanya mampu menyusurnya berulang kali dengan jejak-jejak kecil yang tiada henti kutinggalkan.

Ketika kau sampai pada halaman ini mungkin aku sedang bicara dengan mereka. Selalu ada yang membuatku tertawa. Cara mereka bicara, berjalan, menatap mataku atau memelukku. Tapi selalu pula ada senyum juga pandang matamu yang lembut itu.

Kau yang pertama kali membuatku percaya bahwa jalan di ujung sana jauh lebih terang dari yang dapat kusaksikan. Meski tanpa penanda atau penunjuk arah, kau katakan aku akan dengan mudah menemukan rumah kecil tempatmu menyihir haru kenangan jadi jalinan indah doa-doa di hari datang.

Tapi belum sampai aku di sana, pelangi telah membawaku ke jalan lain penuh lampu-lampu, papan-papan nama beragam tempat yang entah milik siapa. Kau membawa pelangi itu ke hadapanku.

Musim telah memberi jejaknya sendiri pada hari-hari ini. Seakan tak pernah ingkar pada biji bunga yang ingin segera mekar, pada burung-burung yang datang menyebrang awan membangun sarang-sarangnya di pohon tinggi, juga pada kau dan aku, yang merindukan hujan gemericik di antara kaki-kaki kita.

Sungguh senang rasanya menyaksikan malam sambil mendengarmu bercerita. Sesekali memandangmu sembunyi-sembunyi, melihat sinar anggun dari kedua matamu yang memandang jalan dengan lapang. Atau mendengarmu bersenandung, malu-malu, mengikuti nada-nada lagu yang berputar sepelan perjalanan kita tiap bertemu. Saat itu, andai aku lebih berani mungkin akan kuusap pipimu dengan jari-jari kecil ini. Mengatakan dengan pasti bahwa aku siap menemani sepanjang hari yang sepenuhnya milikmu.

Bulan dan bulan, setahun segera lewat, meninggalkan kita dengan aneka malam yang abadi sebagai kenangan. Aku selalu ingin tahu, apakah di tikungan itu akan kutemukan dirimu, apakah di balik pintu gerbang ini akan ada kau yang membuka pintu, ataukah di balik gedung ini akan kutemukan dirimu dengan sebatang korek api yang pernah kita nyalakan bersama waktu dulu.

Saat hari tak sengaja membawamu sampai kemari, mungkinkah kau akan ingat pintu kuning gelap ini. Mawar-mawar di halaman yang tak jemu menunggu musim semi datang. Juga langit kelabu tua yang menyembunyikan kilau muram bulan dan pijar kecil bintang di udara.

Waktu telah mempertemukan kita dalam sebuah musim yang tak terduga, di tengah hujan yang turun perlahan juga langit yang nampak lebih lapang. Waktu juga telah memisahkan kita dalam sebuah musim yang ragu-ragu datang lalu menghilang, di tengah senja yang tak biasa, juga awan-awan yang melukis dirinya sendiri di antara langit biru yang tak menentu.

Ketika kau sampai pada halaman ini, mungkin aku tengah membaca halaman terakhir buku biru dengan tanda tulis tanganmu di bab pertama. Lalu kulihat lagi hujan, jalanan basah, lampu hijau, tulisan selamat datang, senyummu dan peluk mesra itu.

Tapi mungkinkah kau akan sampai pada halaman ini suatu hari?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s