MERAYAKAN HIDUP, MERAYAKAN KEBERSAMAAN DI KUTA KARNIVAL

Siapa yang tak kenal Kuta dengan keindahan pantainya yang tiada tara? Siapa juga yang tak kenal masyarakat Kuta dengan ragam adat budaya yang tak asing lagi, bahkan di mata dunia. Apa jadinya kalau di sana berkumpul orang-orang dari berbagai belahan dunia dan berpesta pora, bukan sekadar pesta biasa dengan kemewahan yang itu-itu saja, melainkan kesemarakan bersama dengan merayakan hidup, dilatari nuansa pesona matahari tenggelam a la Kuta?

Yang muncul dalam benak kita pastilah deru ombak yang berulang menghantam gugusan karang, juga tiupan angin yang menimbulkan suara-suara yang menyenangkan. Tentu saja yang paling dinanti adalah langit kuning tua di ujung laut biru saat matahari tenggelam di ufuk barat. Dan di sana ada satu yang menarik, unik sekaligus indah. Ya, 7th Kuta Karnival.

Mengambil tema dasar ”A Celebration of Life”, boleh jadi event tahunan ini merupakan satu acara yang paling ditunggu, apalagi di musim liburan seperti sekarang. Saya pun tak sabar agenda apa saja yang kiranya digagas oleh panitia pada tahun ketujuh ini. Terbayang sudah aneka kreasi dan inovasi dari kaum muda yang tergabung dalam Youth Community Event.

Kuta Karnival (Youth Community Event) dan Tantangan Anak Muda di Era Global

Setelah browsing di sana sini akhirnya sampai juga saya di website Kuta Karnival dan The Youth Corner Bali yang turut berpartisipasi meng-handle event anak muda di ajang internasional ini. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, agenda-agenda yang dicanangkan tahun ini memang lebih beragam. Bahkan, ada pula Blog Writing Competition yang digawangi oleh BBC (Bali Blogger Community) serta Lomba Desain Artistik tentang Kuta dan kehidupannya yang semarak. Sudah pasti dengan aneka acara itu, anak-anak muda seantero Bali (juga dari luar dan mancanegara) akan dimanjakan oleh ragam kegiatan yang mengasah sikap kritis dan daya kreatif kalangan remaja ini.

Kuta, boleh jadi merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mengunjungi Bali sebagai Island of Paradise, namun kehadiran Kuta Karnival dapatlah dipandang sebagai spirit yang menghidupkan sekaligus juga turut memeriahkan suasana Kuta yang terkenal indah dan menawan. Yang patut kita cermati adalah tujuan dasar dari penyelenggaraan kegiatan ini tidak hanya berupaya membangkitkan sekaligus juga mendukung peningkatan pariwisata Bali yang mumpuni tetapi juga memberi ruang kepada anak muda untuk mengolah daya kreatifnya dalam berkarya di bidang apa saja. Mulai dari musik, sastra, penulisan kreatif sampai fotografi. Tak ketinggalan pula pameran kartun dan kompetisi-kompetisi yang asyik dan menarik. Dengan demikian, boleh jadi Kuta secara khusus, dan Bali pada umumnya tidak hanya dikenal sebagai pulau dengan keindahan alam dan keluhuran budayanya tetapi juga kekreatifan dan keadiluhungan karya-karya generasi mudanya.

Di tengah gencarnya arus lintas budaya di Bali, tidaklah salah apabila perlu pendekatan tersendiri agar budaya lokal, local genius, tidak luruh bahkan hilang begitu saja. Kita tidak dapat menolak kenyataan bahwa Bali merupakan ikon pariwisata internasional. Dengan demikian, disadari atau tidak, Bali dan masyarakatnya telah berhadapan langsung dengan dunia global dan internasional. Demikian pula beragam budaya asing yang masuk bersilangan dengan tradisi budaya lokal, yang tumbuh dan berkembang selama berabad-abad silam. Tantangan selanjutnya tentu saja bagaimana mengupayakan suatu pendekatan baru utamanya pada generasi muda untuk tetap mempertahankan local genius itu tapi tetap menjadi bagian dari dunia global yang modern.

Kuta Karnival, barangkali merupakan suatu jawaban atas tantangan itu. Di era kini, dimana percepatan perubahan merupakan suatu hal yang tak terelakkan, sudah sepatutnya dibangun sebuah ruang yang memungkinkan kaum muda mengembangkan kreasinya sekaligus juga mengkritisi pengaruh global, yang tidak selamanya membawa akibat baik yang positif bagi perkembangan masyarakat lokal.

Jika kita cermati, tidak jarang, budaya-budaya luar yang datang bersamaan dengan kemudahan akses informasi karena kemajuan teknologi, bertentangan dengan khazanah budaya kita yang luhur dan mengedepankan empati dan kreativitas. Di sisi lain, kemudahan-kemudahan yang tiada batas itu, selain memberi keuntungan dan kebaikan yang tak terhingga dalam keseharian, juga menimbulkan suatu dampak sampingan, yang sayangnya bersifat negatif. Kemudahan-kemudahan itu lama kelamaan membentuk suatu mentalitas baru utamanya bagi kaum muda, yakni budaya instant dan konsumtif yang mengarah pada hedonisme.

Bayangkan, jika remaja di Bali khususnya, hanya menjadi golongan-golongan konsumen pasar yang mengandalkan kemudahan-kemudahan, tanpa berkeinginan sekaligus berkemampuan untuk mengembangkan kreativitas yang produktif. Apa jadinya Bali? Mungkin saja pandangan intelektual yang menyatakan bahwa masyarakat Bali akan menjadi budak di tanah sendirinya akan menjadi kenyataan yang menyedihkan juga menyakitkan.

Lalu, pertanyaan selanjutnya, apa kiranya upaya yang mampu kita lakukan bersama? Saya pikir, Kuta Karnival dengan serangkaian kegiatannya merupakan salah satu penyanding yang tepat untuk menyikapi kecendrungan dewasa ini. Barangkali agenda-agenda serupa, jika dilaksanakan secara berkesinambungan dan dengan kegiatan yang jauh lebih beragam dan semarak, harapan untuk sebuah kehidupan yang lebih baik di masa mendatang tentu akan terwujud. Jadi, ayo kita ambil andil dan turut berpartisipasi. Kalau bukan kita yang memulainya, siapa lagi. Dari remaja, oleh remaja, untuk Bali tercinta. Bravo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s