*Ekspresi Katarsis dan Penyadaran yang Puitis

Sebelum membaca kumpulan puisi “Selepas Bapakku Hilang” karya Fitri Nganthi Wani ini, saya tak pernah membayangkan bagaimana kiranya seorang gadis mampu melewati masa kanaknya dengan problema yang begitu kompleks seperti yang dialami Wani. Ia ditinggal sang ayah ketika duduk di kelas 2 SD dengan cara yang tidak biasa. Sang ayah pergi (atau dipaksa pergi) dan tak kembali hingga kini.

Saya memang pernah mendengar kejadian-kejadian seputar tahun 96-98, di mana gejolak politik dalam negeri akibat kekukuhan sebuah rezim terhadap masyarakatnya mengakibatkan kekacauan yang meluas juga menyengsarakan rakyat. Ujung-ujungnya terjadi penindasan terhadap masyarakat yang mencoba memperjuangkan keadilan dan hak-hak yang selama ini seharusnya mereka peroleh dan nikmati. Baru kali inilah saya berhadapan langsung dengan seorang gadis remaja seusia saya, yang dipaksa melewati masa kanaknya tanpa kehadiran sosok ayah, yang menjadi korban rezim justru karena kecintaannya pada rakyat kecil, yang ia tegaskan dalam karya-karya kreatifnya.

Sebagai anak seorang Wiji Tukul, penyair yang kesohor karena kelugasan dan ketulusannya mengkritisi sebuah rezim yang dipandang lalim, dan tidak diketahui kabarnya hingga hari ini, tentulah tak mudah bagi Wani untuk melalui masa kanaknya. Saya yakin ia tentu mengalami trauma-trauma yang tidak biasa dialami oleh anak perempuan seusianya. Ketakutan atas penggrebegan di rumahnya ketika ia masih berumur 7 tahun, kemudian hilangnya sosok ayah yang bahkan hingga kini tak jelas kabar beritanya, perlakuan tak adil dari lingkungan sekitarnya karena dianggap anak dari seorang yang subversif dan bermasalah dengan pemerintah, juga persoalan ekonomi yang melulu mendera keluarganya. Ya, setelah kejadian penggrebegan itu berlalu, pastilah Wani dan keluarganya tidak hanya menderita karena kehilangan pemimpin keluarga. Mereka juga harus berhadapan dengan stigma negatif, sindiran, intimidasi, juga pengekangan dari pemerintah dan masyarakat sekitarnya.

Meminjam pendapat Nalini Muhdi, tidakkah pembentukan citra diri anak-anak itu telah tercederai, bahkan dalam upayanya mendapatkan hak – hak kehidupan normal? Ditambah lagi, karena suatu alasan tertentu mereka tumbuh dengan perasaan kosong, teralienasi, dan merasa tidak dicintai.

Pertemuan Wani dengan puisi sejak ia kanak, tentulah merupakan obat yang paling mujarab (terapi terbaik) untuk menandingi kecendrungan di atas. Dengan puisi ia kemudian tidak hanya mengungkapkan perasaan terdalamnya terhadap aneka kejadian yang menimpa diri dan keluarganya. Ia pun tak berlarut-larut dalam kepedihan, putus asa, juga perasaan tak berdaya. Malah dengan puisi, menurut Barbara Hatley, Wani telah menjadi seorang seniman feminis. Dengan ekspresi yang langsung, argumen yang terarah dan terkendali, Wani dipandang mampu menyuarakan problematika kekinian gadis remaja. Persoalan keseharian yang sederhana, hingga masalah-masalah sosial semisal bias gender, tema-tema seksualitas, krisis sosial multidimensi dalam negeri, pencarian terhadap spiritualitas serta tema-tema yang seakan begitu berjarak dengan kehidupan remaja seusianya.

Puisi-puisi tersebut memiliki nuansa pemberontakan dan keberanian menyatakan diri dalam bahasa yang lugas. Kata-katanya memang terkesan sederhana, tetapi juga indah, meski seringkali mengisahkan kekerasan, pemerkosaan, kemarahan juga hujatan. Mungkin bolehlah kita berpendapat bahwa Wani mewarisi keberanian dan kesanggupan Wiji Tukul, sang ayah, untuk mengkritisi persoalan keseharian yang biasa hingga masalah-masalah sosial yang kompleks dengan caranya sendiri, yakni kesegaran masa remaja. Dengan kata lain, meski ia menyoroti persoalan-persoalan yang tidak melulu perihal cinta dan dunia sekolah ala gadis remaja, ia tetap tidak kehilangan gairah muda yang segar, unik namun tetap alamiah.

Dalam pengantarnya, Richard Curtis menyatakan bahwa puisi-puisi yang terkumpul dari SD hingga Wani SMA bergulat antara dua kecendrungan, yakni Wani yang berusaha tegar dan melanjutkan hidupnya di masa depan, serta Wani yang tetap ‘diikuti’ oleh masa lalunya yang penuh trauma. Sangat jelas terlihat upaya pencarian identitas yang tak pernah berhenti. Di sisi lain, ia juga mencermati persoalan spiritualitas, perihal batin dan jiwa yang berhubungan dengan kerohanian.

Dari sajak-sajaknya itu pula, saya melihat sosok yang nasionalis juga humanis dari seorang Wani. Banyak hal yang membuatnya prihatin. Barangkali kehidupan masa kanaknya di Sanggar Suka Banjir telah menjadi peletak dasar sikapnya ini. Ia terbiasa menyuarakan keprihatinannya, juga berespon aktif terhadap kejadian di lingkungannya, semisal banjir. Dari sanalah kiranya rasa empati itu tumbuh.

Ketika membaca sajak-sajak ini saya cukup terkejut dengan satu puisi terakhir “Lelah”. Ada kedalaman perasaan sekaligus juga pertanyaan mendasar mengenai hidup dan kehidupan. Semua kejadian yang ia alami seakan bermuara di puisi ini. Kerinduan pada ayahnya juga keinginan yang kuat untuk tidak terikat kepedihan masa lalu tetapi dengan gagah berani menantang hari depan. Pergulatan-pergulatan itu seolah tak pernah selesai bagi Wani.

Octavio Paz dengan lugas mengatakan puisi sesungguhnya adalah usaha untuk melakukan ziarah kepada sejarah. Sedang Pascale Casanova berpandangan sastra muncul sebagai produk sebuah proses historis, lalu tumbuh secara progresif menjadi lebih otonom. Dalam hal ini, puisi-puisi Wani merupakan produk dari sebuah kejadian masa lalu yang tumbuh dan berkembang secara terus menerus tidak hanya sebatas ekpresi dan eksplorasi kedalaman perasaan atas refleksi masa lalu itu, tetapi juga sebuah ziarah kepada masa lalunya. Ziarah ini kemudian menjadi ruang renung, yang memungkinkan siapa saja untuk mengenali sekaligus mencoba memahami kejadian di balik puisi-puisi yang dicipta Wani.

Buku ini bukanlah sekadar dokumentasi yang paling esensi dari seorang Wani, lebih dari itu buku ini merupakan penanda sekaligus pengingat bagi kita semua bahwa kita mesti “melawan lupa”. Sudah sepatutnyalah kehadiran buku ini kita maknai bersama tidak hanya sebatas ekspresi katarsis semata melainkan juga sebagai sebuah tawaran penyadaran yang lebih luas untuk semua pihak. Sebab karya sastra, utamanya puisi, memberi ruang renung yang tiada batas untuk itu, sehingga tiap orang baik pelaku maupun korban mendapat kesempatan untuk merenungi sekaligus memaknai kejadian masa lampau. Dan akhirnya, tragedy ini tak akan kembali terulang, dalam bentuk apapun di masa mendatang.

*disampaikan pada launching buku “Selepas Bapakku Hilang” di Taman 65, Jumat 11 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s