Our Rain

: s

Ketika kau sampai pada halaman ini mungkin aku tengah memikirkanmu sembari tetap menulis sesuatu tentang hari yang telah berlalu, di antara tumpukan kertas tugasku, juga alunan lagu-lagu yang memenuhi seisi ruang tidurku.

Kau yang paling tahu, betapa seringnya aku menggugat waktu. Kau pun tahu di balik semua itu, aku bukan apa-apa di hadapannya. Hanya mampu menyusurnya berulang kali dengan jejak-jejak kecil yang tiada henti kutinggalkan.

Ketika kau sampai pada halaman ini mungkin aku sedang bicara dengan mereka. Selalu ada yang membuatku tertawa. Cara mereka bicara, berjalan, menatap mataku atau memelukku. Tapi selalu pula ada senyum juga pandang matamu yang lembut itu.

Kau yang pertama kali membuatku percaya bahwa jalan di ujung sana jauh lebih terang dari yang dapat kusaksikan. Meski tanpa penanda atau penunjuk arah, kau katakan aku akan dengan mudah menemukan rumah kecil tempatmu menyihir haru kenangan jadi jalinan indah doa-doa di hari datang.

Tapi belum sampai aku di sana, pelangi telah membawaku ke jalan lain penuh lampu-lampu, papan-papan nama beragam tempat yang entah milik siapa. Kau membawa pelangi itu ke hadapanku.

Musim telah memberi jejaknya sendiri pada hari-hari ini. Seakan tak pernah ingkar pada biji bunga yang ingin segera mekar, pada burung-burung yang datang menyebrang awan membangun sarang-sarangnya di pohon tinggi, juga pada kau dan aku, yang merindukan hujan gemericik di antara kaki-kaki kita.

Sungguh senang rasanya menyaksikan malam sambil mendengarmu bercerita. Sesekali memandangmu sembunyi-sembunyi, melihat sinar anggun dari kedua matamu yang memandang jalan dengan lapang. Atau mendengarmu bersenandung, malu-malu, mengikuti nada-nada lagu yang berputar sepelan perjalanan kita tiap bertemu. Saat itu, andai aku lebih berani mungkin akan kuusap pipimu dengan jari-jari kecil ini. Mengatakan dengan pasti bahwa aku siap menemani sepanjang hari yang sepenuhnya milikmu.

Bulan dan bulan, setahun segera lewat, meninggalkan kita dengan aneka malam yang abadi sebagai kenangan. Aku selalu ingin tahu, apakah di tikungan itu akan kutemukan dirimu, apakah di balik pintu gerbang ini akan ada kau yang membuka pintu, ataukah di balik gedung ini akan kutemukan dirimu dengan sebatang korek api yang pernah kita nyalakan bersama waktu dulu.

Saat hari tak sengaja membawamu sampai kemari, mungkinkah kau akan ingat pintu kuning gelap ini. Mawar-mawar di halaman yang tak jemu menunggu musim semi datang. Juga langit kelabu tua yang menyembunyikan kilau muram bulan dan pijar kecil bintang di udara.

Waktu telah mempertemukan kita dalam sebuah musim yang tak terduga, di tengah hujan yang turun perlahan juga langit yang nampak lebih lapang. Waktu juga telah memisahkan kita dalam sebuah musim yang ragu-ragu datang lalu menghilang, di tengah senja yang tak biasa, juga awan-awan yang melukis dirinya sendiri di antara langit biru yang tak menentu.

Ketika kau sampai pada halaman ini, mungkin aku tengah membaca halaman terakhir buku biru dengan tanda tulis tanganmu di bab pertama. Lalu kulihat lagi hujan, jalanan basah, lampu hijau, tulisan selamat datang, senyummu dan peluk mesra itu.

Tapi mungkinkah kau akan sampai pada halaman ini suatu hari?

Advertisements

MERAYAKAN HIDUP, MERAYAKAN KEBERSAMAAN DI KUTA KARNIVAL

Siapa yang tak kenal Kuta dengan keindahan pantainya yang tiada tara? Siapa juga yang tak kenal masyarakat Kuta dengan ragam adat budaya yang tak asing lagi, bahkan di mata dunia. Apa jadinya kalau di sana berkumpul orang-orang dari berbagai belahan dunia dan berpesta pora, bukan sekadar pesta biasa dengan kemewahan yang itu-itu saja, melainkan kesemarakan bersama dengan merayakan hidup, dilatari nuansa pesona matahari tenggelam a la Kuta?

Yang muncul dalam benak kita pastilah deru ombak yang berulang menghantam gugusan karang, juga tiupan angin yang menimbulkan suara-suara yang menyenangkan. Tentu saja yang paling dinanti adalah langit kuning tua di ujung laut biru saat matahari tenggelam di ufuk barat. Dan di sana ada satu yang menarik, unik sekaligus indah. Ya, 7th Kuta Karnival.

Mengambil tema dasar ”A Celebration of Life”, boleh jadi event tahunan ini merupakan satu acara yang paling ditunggu, apalagi di musim liburan seperti sekarang. Saya pun tak sabar agenda apa saja yang kiranya digagas oleh panitia pada tahun ketujuh ini. Terbayang sudah aneka kreasi dan inovasi dari kaum muda yang tergabung dalam Youth Community Event.

Kuta Karnival (Youth Community Event) dan Tantangan Anak Muda di Era Global

Setelah browsing di sana sini akhirnya sampai juga saya di website Kuta Karnival dan The Youth Corner Bali yang turut berpartisipasi meng-handle event anak muda di ajang internasional ini. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, agenda-agenda yang dicanangkan tahun ini memang lebih beragam. Bahkan, ada pula Blog Writing Competition yang digawangi oleh BBC (Bali Blogger Community) serta Lomba Desain Artistik tentang Kuta dan kehidupannya yang semarak. Sudah pasti dengan aneka acara itu, anak-anak muda seantero Bali (juga dari luar dan mancanegara) akan dimanjakan oleh ragam kegiatan yang mengasah sikap kritis dan daya kreatif kalangan remaja ini.

Kuta, boleh jadi merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mengunjungi Bali sebagai Island of Paradise, namun kehadiran Kuta Karnival dapatlah dipandang sebagai spirit yang menghidupkan sekaligus juga turut memeriahkan suasana Kuta yang terkenal indah dan menawan. Yang patut kita cermati adalah tujuan dasar dari penyelenggaraan kegiatan ini tidak hanya berupaya membangkitkan sekaligus juga mendukung peningkatan pariwisata Bali yang mumpuni tetapi juga memberi ruang kepada anak muda untuk mengolah daya kreatifnya dalam berkarya di bidang apa saja. Mulai dari musik, sastra, penulisan kreatif sampai fotografi. Tak ketinggalan pula pameran kartun dan kompetisi-kompetisi yang asyik dan menarik. Dengan demikian, boleh jadi Kuta secara khusus, dan Bali pada umumnya tidak hanya dikenal sebagai pulau dengan keindahan alam dan keluhuran budayanya tetapi juga kekreatifan dan keadiluhungan karya-karya generasi mudanya.

Di tengah gencarnya arus lintas budaya di Bali, tidaklah salah apabila perlu pendekatan tersendiri agar budaya lokal, local genius, tidak luruh bahkan hilang begitu saja. Kita tidak dapat menolak kenyataan bahwa Bali merupakan ikon pariwisata internasional. Dengan demikian, disadari atau tidak, Bali dan masyarakatnya telah berhadapan langsung dengan dunia global dan internasional. Demikian pula beragam budaya asing yang masuk bersilangan dengan tradisi budaya lokal, yang tumbuh dan berkembang selama berabad-abad silam. Tantangan selanjutnya tentu saja bagaimana mengupayakan suatu pendekatan baru utamanya pada generasi muda untuk tetap mempertahankan local genius itu tapi tetap menjadi bagian dari dunia global yang modern.

Kuta Karnival, barangkali merupakan suatu jawaban atas tantangan itu. Di era kini, dimana percepatan perubahan merupakan suatu hal yang tak terelakkan, sudah sepatutnya dibangun sebuah ruang yang memungkinkan kaum muda mengembangkan kreasinya sekaligus juga mengkritisi pengaruh global, yang tidak selamanya membawa akibat baik yang positif bagi perkembangan masyarakat lokal.

Jika kita cermati, tidak jarang, budaya-budaya luar yang datang bersamaan dengan kemudahan akses informasi karena kemajuan teknologi, bertentangan dengan khazanah budaya kita yang luhur dan mengedepankan empati dan kreativitas. Di sisi lain, kemudahan-kemudahan yang tiada batas itu, selain memberi keuntungan dan kebaikan yang tak terhingga dalam keseharian, juga menimbulkan suatu dampak sampingan, yang sayangnya bersifat negatif. Kemudahan-kemudahan itu lama kelamaan membentuk suatu mentalitas baru utamanya bagi kaum muda, yakni budaya instant dan konsumtif yang mengarah pada hedonisme.

Bayangkan, jika remaja di Bali khususnya, hanya menjadi golongan-golongan konsumen pasar yang mengandalkan kemudahan-kemudahan, tanpa berkeinginan sekaligus berkemampuan untuk mengembangkan kreativitas yang produktif. Apa jadinya Bali? Mungkin saja pandangan intelektual yang menyatakan bahwa masyarakat Bali akan menjadi budak di tanah sendirinya akan menjadi kenyataan yang menyedihkan juga menyakitkan.

Lalu, pertanyaan selanjutnya, apa kiranya upaya yang mampu kita lakukan bersama? Saya pikir, Kuta Karnival dengan serangkaian kegiatannya merupakan salah satu penyanding yang tepat untuk menyikapi kecendrungan dewasa ini. Barangkali agenda-agenda serupa, jika dilaksanakan secara berkesinambungan dan dengan kegiatan yang jauh lebih beragam dan semarak, harapan untuk sebuah kehidupan yang lebih baik di masa mendatang tentu akan terwujud. Jadi, ayo kita ambil andil dan turut berpartisipasi. Kalau bukan kita yang memulainya, siapa lagi. Dari remaja, oleh remaja, untuk Bali tercinta. Bravo!

*Ekspresi Katarsis dan Penyadaran yang Puitis

Sebelum membaca kumpulan puisi “Selepas Bapakku Hilang” karya Fitri Nganthi Wani ini, saya tak pernah membayangkan bagaimana kiranya seorang gadis mampu melewati masa kanaknya dengan problema yang begitu kompleks seperti yang dialami Wani. Ia ditinggal sang ayah ketika duduk di kelas 2 SD dengan cara yang tidak biasa. Sang ayah pergi (atau dipaksa pergi) dan tak kembali hingga kini.

Saya memang pernah mendengar kejadian-kejadian seputar tahun 96-98, di mana gejolak politik dalam negeri akibat kekukuhan sebuah rezim terhadap masyarakatnya mengakibatkan kekacauan yang meluas juga menyengsarakan rakyat. Ujung-ujungnya terjadi penindasan terhadap masyarakat yang mencoba memperjuangkan keadilan dan hak-hak yang selama ini seharusnya mereka peroleh dan nikmati. Baru kali inilah saya berhadapan langsung dengan seorang gadis remaja seusia saya, yang dipaksa melewati masa kanaknya tanpa kehadiran sosok ayah, yang menjadi korban rezim justru karena kecintaannya pada rakyat kecil, yang ia tegaskan dalam karya-karya kreatifnya.

Sebagai anak seorang Wiji Tukul, penyair yang kesohor karena kelugasan dan ketulusannya mengkritisi sebuah rezim yang dipandang lalim, dan tidak diketahui kabarnya hingga hari ini, tentulah tak mudah bagi Wani untuk melalui masa kanaknya. Saya yakin ia tentu mengalami trauma-trauma yang tidak biasa dialami oleh anak perempuan seusianya. Ketakutan atas penggrebegan di rumahnya ketika ia masih berumur 7 tahun, kemudian hilangnya sosok ayah yang bahkan hingga kini tak jelas kabar beritanya, perlakuan tak adil dari lingkungan sekitarnya karena dianggap anak dari seorang yang subversif dan bermasalah dengan pemerintah, juga persoalan ekonomi yang melulu mendera keluarganya. Ya, setelah kejadian penggrebegan itu berlalu, pastilah Wani dan keluarganya tidak hanya menderita karena kehilangan pemimpin keluarga. Mereka juga harus berhadapan dengan stigma negatif, sindiran, intimidasi, juga pengekangan dari pemerintah dan masyarakat sekitarnya.

Meminjam pendapat Nalini Muhdi, tidakkah pembentukan citra diri anak-anak itu telah tercederai, bahkan dalam upayanya mendapatkan hak – hak kehidupan normal? Ditambah lagi, karena suatu alasan tertentu mereka tumbuh dengan perasaan kosong, teralienasi, dan merasa tidak dicintai.

Pertemuan Wani dengan puisi sejak ia kanak, tentulah merupakan obat yang paling mujarab (terapi terbaik) untuk menandingi kecendrungan di atas. Dengan puisi ia kemudian tidak hanya mengungkapkan perasaan terdalamnya terhadap aneka kejadian yang menimpa diri dan keluarganya. Ia pun tak berlarut-larut dalam kepedihan, putus asa, juga perasaan tak berdaya. Malah dengan puisi, menurut Barbara Hatley, Wani telah menjadi seorang seniman feminis. Dengan ekspresi yang langsung, argumen yang terarah dan terkendali, Wani dipandang mampu menyuarakan problematika kekinian gadis remaja. Persoalan keseharian yang sederhana, hingga masalah-masalah sosial semisal bias gender, tema-tema seksualitas, krisis sosial multidimensi dalam negeri, pencarian terhadap spiritualitas serta tema-tema yang seakan begitu berjarak dengan kehidupan remaja seusianya.

Puisi-puisi tersebut memiliki nuansa pemberontakan dan keberanian menyatakan diri dalam bahasa yang lugas. Kata-katanya memang terkesan sederhana, tetapi juga indah, meski seringkali mengisahkan kekerasan, pemerkosaan, kemarahan juga hujatan. Mungkin bolehlah kita berpendapat bahwa Wani mewarisi keberanian dan kesanggupan Wiji Tukul, sang ayah, untuk mengkritisi persoalan keseharian yang biasa hingga masalah-masalah sosial yang kompleks dengan caranya sendiri, yakni kesegaran masa remaja. Dengan kata lain, meski ia menyoroti persoalan-persoalan yang tidak melulu perihal cinta dan dunia sekolah ala gadis remaja, ia tetap tidak kehilangan gairah muda yang segar, unik namun tetap alamiah.

Dalam pengantarnya, Richard Curtis menyatakan bahwa puisi-puisi yang terkumpul dari SD hingga Wani SMA bergulat antara dua kecendrungan, yakni Wani yang berusaha tegar dan melanjutkan hidupnya di masa depan, serta Wani yang tetap ‘diikuti’ oleh masa lalunya yang penuh trauma. Sangat jelas terlihat upaya pencarian identitas yang tak pernah berhenti. Di sisi lain, ia juga mencermati persoalan spiritualitas, perihal batin dan jiwa yang berhubungan dengan kerohanian.

Dari sajak-sajaknya itu pula, saya melihat sosok yang nasionalis juga humanis dari seorang Wani. Banyak hal yang membuatnya prihatin. Barangkali kehidupan masa kanaknya di Sanggar Suka Banjir telah menjadi peletak dasar sikapnya ini. Ia terbiasa menyuarakan keprihatinannya, juga berespon aktif terhadap kejadian di lingkungannya, semisal banjir. Dari sanalah kiranya rasa empati itu tumbuh.

Ketika membaca sajak-sajak ini saya cukup terkejut dengan satu puisi terakhir “Lelah”. Ada kedalaman perasaan sekaligus juga pertanyaan mendasar mengenai hidup dan kehidupan. Semua kejadian yang ia alami seakan bermuara di puisi ini. Kerinduan pada ayahnya juga keinginan yang kuat untuk tidak terikat kepedihan masa lalu tetapi dengan gagah berani menantang hari depan. Pergulatan-pergulatan itu seolah tak pernah selesai bagi Wani.

Octavio Paz dengan lugas mengatakan puisi sesungguhnya adalah usaha untuk melakukan ziarah kepada sejarah. Sedang Pascale Casanova berpandangan sastra muncul sebagai produk sebuah proses historis, lalu tumbuh secara progresif menjadi lebih otonom. Dalam hal ini, puisi-puisi Wani merupakan produk dari sebuah kejadian masa lalu yang tumbuh dan berkembang secara terus menerus tidak hanya sebatas ekpresi dan eksplorasi kedalaman perasaan atas refleksi masa lalu itu, tetapi juga sebuah ziarah kepada masa lalunya. Ziarah ini kemudian menjadi ruang renung, yang memungkinkan siapa saja untuk mengenali sekaligus mencoba memahami kejadian di balik puisi-puisi yang dicipta Wani.

Buku ini bukanlah sekadar dokumentasi yang paling esensi dari seorang Wani, lebih dari itu buku ini merupakan penanda sekaligus pengingat bagi kita semua bahwa kita mesti “melawan lupa”. Sudah sepatutnyalah kehadiran buku ini kita maknai bersama tidak hanya sebatas ekspresi katarsis semata melainkan juga sebagai sebuah tawaran penyadaran yang lebih luas untuk semua pihak. Sebab karya sastra, utamanya puisi, memberi ruang renung yang tiada batas untuk itu, sehingga tiap orang baik pelaku maupun korban mendapat kesempatan untuk merenungi sekaligus memaknai kejadian masa lampau. Dan akhirnya, tragedy ini tak akan kembali terulang, dalam bentuk apapun di masa mendatang.

*disampaikan pada launching buku “Selepas Bapakku Hilang” di Taman 65, Jumat 11 September 2009

Asma

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi / Pengertian

Asma adalah penyakit jalan napas obstruksi intermiten reversible dimana trakea dan bronki berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu, dimanifestasikan dengan penyempitan jalan napas, yang mengakibatkan dispnea, batuk, dan mengi (Smeltzer, 2002 : 611).

Asma Bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus (Huddak & Gallo, 1997).

Asma adalah obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel, terjadi ketika bronkus mengalami inflamasi/peradangan dan hiperresponsif (Reeves, 2001 : 48).

2. Epidemiologi / Insiden Kasus

Sekarang asma adalah penyakit kronis yang paling umum pada anak-anak, mempengaruhi satu dari setiap 15 anak. Di Amerika utara, 5% dari orang dewasa juga dirundung oleh asma. Keseluruhannya, kira-kira 1 juta orang Kanada dan 15 juta orang Amerika yang menderita dari penyakit ini.

Angka dari kasus-kasus baru dan angka tahunan dari opname rumah sakit untuk asma telah meningkat 30% selama 20 tahun belakangan ini. Bahkan dengan kemajuan dalam perawatan, kematian-kematian karena asma diantara orang-orang muda sudah lebih dari berlipat ganda.

3. Penyebab / Faktor Predisposisi

(a) Faktor Ekstrinsik (asma imunologik / asma alergi)

– Reaksi antigen-antibodi

– Inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang)

(b) Faktor Intrinsik (asma non imunologi / asma non alergi)

– Infeksi : parainfluenza virus, pneumonia, mycoplasmal

– Fisik : cuaca dingin, perubahan temperatur

– Iritan : kimia

– Polusi udara : CO, asap rokok, parfum

– Emosional : takut, cemas dan tegang

– Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.

(Suriadi, 2001 : 7)

4. Patofisiologi Terjadinya Penyakit

Asma adalah obstruksi jalan nafas yang disebabkan oleh kontraksi otot-otot yang mengelilingi bronki, pembengkakan membran yang melapisi bronki, pengisian mukus kental. Akibatnya beban alveoli menjadi meningkat dan dinding alveoli menebal serta menjadi hiperinflasi pada alveoli. Hal ini menyebabkan udara terperangkap di dalam jaringan paru (CO2 terjebak di dalam darah, O2 tak bisa masuk), inilah yang menyebabkan obstruksi saluran nafas. Pada beberapa individu, system imunologis mengalami kelainan sehingga mengalami respon imun yang buruk, di mana IgE menyerang sel-sel mast (yang bertugas memfagosit sel-sel radang kronis) dan menyebabkan reaksi antigen-antibodi. Hal ini menyebabkan proses mediator kimiawi yaitu pelepasan dari produk-produk sel mast, seperti histamine, bradikinin, prostaglandin, dan anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-A). Pelepasan – pelepasan tersebut mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan nafas sehingga menyebabkan bronkospasme. System saraf otonom mempengaruhi paru. Tonus otot bronkial diatur melalui saraf parasimpatis. Ketika ujung saraf pada jalan nafas dirangsang infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi, polutan, maka jumlah asetilkolin menjadi meningkat. Peningkatan tersebut menyebabkan bronkokonstriksi dan juga merangsang pembentukan mediator kimiawi. Sedangkan saraf simpatis terletak di dalam bronki, terdapat reseptor α- dan β- adrenergic. Keseimbangan reseptor-reseptor tersebut diatur oleh siklik adenosine minofosfat (cAMP). Jika reseptor α- distimulasi maka cAMP menjadi menurun dan menyebabkan peningkatan mediator kimiawi serta menyebabkan bronkokonstriksi. Sedangkan reseptor β- jika distimulasi maka cAMP meningkat, terjadilah penurunan mediator kimiawi dan menyebabkan bronkodilatasi.

Kurang informasi

5. Klasifikasi

a. Berdasarkan Penyebab

1) Asma alergik : disebabkan oleh alergen – alergen yang dikenal (misal : serbuk sari, binatang, makanan, amarah, jamur).

2) Asma idiopatik atau non alergik : tidak berhubungan dengan alergen spesifik, faktor penyebab : perubahan cuaca, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi, pemakaian obat.

3) Asma idiopatik dapat berkembang menjadi bronkitis kronis dan empisema.

4) Asma gabungan : merupakan bentuk asma yang paling umum, mempunyai karakteristik dari bentuk alergik maupun idiopatik (non alergik).

b. Berdasarkan tingkatan asma

1) Tingkat I :

a) Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.

b) Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkial di laboratorium.

2) Tingkat II :

a) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.

b) Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.

3) Tingkat III :

a) Tanpa keluhan.

b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.

c) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.

4) Tingkat IV :

a) Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.

b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas.

5) Tingkat V :

a) Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai.

b) Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel.

Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti :

Kontraksi otot-otot pernafasan, sianosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih, takikardi.

6. Gejala Klinis

 Dispnea berat (sesak nafas)

 Retraksi dada

 Napas cuping hidung

 Wheezing

 Pernapasan yang dalam dan cepat

 Ekspirasi dalam dan lambat karena udara yang ditangkap terperangkap karena spasme dan mucus.

 Berlangsung selama 1 jam sampai beberapa jam (kasus biasa), dapat reda dengan spontan atau terapi bronkodilator.

 Batuk produktif, sering pada malam hari

7. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan persistem yang diprioritaskan pada bagian thorax.

Pada thorax :

– Inspeksi : Mengamati gerakan untuk menunjang inspeksi

– Palpasi : bentuk dada, otot yang bekerja

– Auskultrasi : Mengetahui apakah ada suara bising (wheezing/mengi pada bronki)

– Perkusi : Untuk memgamati adanya cairan atau tidak pada cavum pleura

Kulit thorak kering, muka pucat, bibir kering

8. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium

 Darah (terutama eosinofil, Ig E total, Ig E spesifik)

 Sputum (eosinofil, spiral curshman, kristal charcot – leyden)

b. Radiologi

 Tes fungsi paru dengan spirometri/peak flow meter untuk menentukan adanya obstruksi jalan nafas.

 Thorax photo didapatkan penyempitan bronkus spasme.

9. Diagnosis Kriteria

a. Ringan : Denyut nadi 60 %)

b. Sedang : Denyut nadi 100 – 120/menit, (APE 40 – 60 %)

c. Berat : Denyut nadi > 120 /menit, (APE < 40 % atau 100/menit)

10. Terapi / Tindakan Penanganan

Yang termasuk obat antiasma adalah :

a. Bronkodilator

1) Agonis β 2

Obat ini mempunyai efek bronkodilatasi. Terbutalin, salbutamol, dan feneterol memiliki lama kerja 4 – 6 jam, sedangkan agonis β 2 long-acting bekerja lebih dari 12 jam, seperti salmeterol, foemoterol, bambuterol, dan lain – lain. Bentuk aerosol dan inhalansi memberikan efek bronkodilatasi yang sama dengan dosis yang jauh lebih kecil yaitu sepersepuluh dosis oral dan pemberiannya lokal.

2) Metilxantin

Teofilin termasuk golongan ini. Efek bronkodilatornya berkaitan dengan konsentrasinya di dalam serum. Efek samping obat ini dapat ditekan dengan pemantauan kadar teofilin serum dalam pengobatan jangka panjang.

3) Antikolinergik

Antiinflamasi menghambat inflamasi jalan nafas dan mempunyai efek supresi dan profilaksis.

4) Kortikosteroid

Natrium kromolin (sodium cromoglycate) merupakan antiinflamsi nonsteroid.

b. Antiinflamasi

Terapi asma dapat dibedakan berdasarkan beratnya serangan asma :

Beratnya Serangan Terapi Lokasi

 RINGAN

• Aktivitas hampir normal

• Bicara dalam kalimat

penuh

• Denyut nadi 60 % )

 Terbaik :

Agonis β – 2 isap (MDI) 2 isap boleh diulangi 1 jam kemudian / tiap 20 menit dalam 1 jam.

 Alternatif

– Agonis β – 2 oral / 3X > – 1 tablet (2 mg) oral.

– Teofilin 75 – 150 mg.

– Lama terapi menurut kebutuhan.

Di rumah

 SEDANG

– Hanya mampu berjalan jarak dekat.

– Bicara dalam kalimat terputus – putus.

– Denyut nadi 100 – 120 / menit.

– APE 40 – 60 %.

 Terbaik

Agonis β – 2 secara nebulisasi 2,5 – 5 mg, dapat diulangi sampai dengan 3 X dalam 1 jam pertama dan dapat dilanjutkan setiap 1 – 4 jam kemudian.

 Alternatif

– Agonis β – 2 i.m / adrenalin s.k.

– Teofilin i.v 5 mg / kg BB / i.v pelan – pelan.

– Steroid i.v / kortison 100 – 200 mg, i.m deksametason 5 mg i.v.

– Oksigen 4 liter / menit

 Puskesmas

 Klinik Rawat Jalan

 Unit Gawat Darurat

 Praktek dokter umum

 Di rawat RS bila tidak respons dalam 2- 4 jam

 BERAT

– Sesak pada istirahat.

– Bicara dalam kata – kata terputus.

– Denyut nadi > 120 L/menit.

– APE < 40 % / 100 L/menit.

 Terbaik

– Agonis β – 2 secara nebulisasi dapat diulangi sampai dengan 3 kali dalam 1 jam pertama, selanjutnya dapat diulangi setiap 1 – 4 jam kemudian

– Teofilin i.v dan infuse

– Steroid i.v dapat diulangi / 8 – 12 jam

– Agonist β – 2 s.k / i.v / 6 jam

– Oksigen 4 L/menit

– Pertimbangkan nebulisasi ipratorium bromide 20 tetes

 Unit Gawat Darurat

 Rawat bila tidak respon dalam 2 jam maksimal 3 jam.

 Pertimbangkan rawat ICU bila cenderung memburuk progresif.

 MENGANCAM JIWA

– Kesadaran menurun

– Kelelahan

– Sianosis

– Henti napas

 Terbaik

– Lanjutkan Terapi sebelumnya

– Pertimbangkan intubasi dan ventilasi mekanik

– Pertimbangkan anastesi umum untuk terapi pernafasan intensif.Bila perlu dilakukan kurasan bronko alveolar (BAL)

Confuse…

Saya tak pernah tahu begitu banyak yang telah ia lakukan untuk saya. Setelah dia pergi hanya bisa menyesali.

Hm, saya jadi percaya usia seseorang punya pengaruh yang luar biasa dalam proses menjadi mature secara batin, secara jiwa, dan mungkin saya memang belum sampai pada tahap itu.

Yah, ada kalanya saya merasa sungguh-sungguh naif, dan ketika menyadarinya saya merasa sangat muak pada diri sendiri. Lalu kembali saya tenangkan diri sambil berujar dalam hati bahwa ini semua adalah proses, yang mau tak mau mesti dilewati.

KEEP MOVING>>>>>)