Sikap Kritis dan Motivator


Kita tentu sepakat bahwa zaman memang telah berubah. Kini, Bung Umbu telah berusia lebih dari separuh abad. Ia, dengan rubrik puisi mingguan di Bali Post, masih tetap intens menyebarkan benih-benih puisi khususnya pada generasi muda. Selama puluhan tahun, dedikasinya pada dunia susastra tentu tidak dapat dipungkiri lagi. Sederet nama sastrawan, budayawan dan penyair yang mumpuni muncul karena persentuhan kreatifnya dengan Bung Umbu. Pertanyaan mendasar yang muncul kemudian adalah, pola-pola macam apa kiranya yang diterapkan oleh Bung Umbu? Lalu, apakah pola-pola tersebut akan berhasil jika diterapkan di era kini, ketika percepatan perubahan merupakan keniscayaan yang tak tertolak?

Jika kita mencermati fenomena dunia susastra masa kini, sangat jelas terlihat maraknya kemunculan komunitas-komunitas sastra, utamanya di dunia maya. Para anggotanya begitu bersemangat menulis. Terbukti, tiap harinya selalu ada tulisan-tulisan baru yang diposting via blog ataupun facebook. Karya-karya mereka sungguh beraneka, mulai dari menceritakan pengalaman sehari-hari, sampai pada telaah serius mengenai sastra, ataupun pandangan mengenai peristiwa aktual yang nasional maupun global. Banyak karya seperti puisi, cerita-cerita pendek, yang menunjukkan bahwa betapa seriusnya mereka bersastra.

Saya percaya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini merupakan anugrah untuk kita semua. Kecanggihan teknologi memberikan ruang kemungkinan yang tiada batas untuk berekspresi dan mengeksplorasi diri, khususnya di dunia susastra. Begitu banyak media yang dapat menjadi wadah aspirasi sekaligus menginspirasi publik lainnya untuk turut melakukan upaya serupa. Hal ini tentu sangat berbeda pada era Bung Umbu ketika di Jogja. Untuk dapat dimuat di media-media, semisal surat kabar, perlu perjuangan yang tidak bisa dikatakan mudah karena ada proses seleksi yang ketat dari redaktur medianya. Sedangkan sekarang, cukup log in di facebook atau membuat account di wordpress dan blogspot, kita dapat mengenalkan karya kita sekaligus juga memperoleh komentar dari publik luas.

Akan tetapi, kita masih harus mencermati apakah kemunculan para penggemar sastra yang membentuk komunitas-komunitas sastra ini juga mencerminkan bertambahnya harapan bahwa sastra, yang dipercaya mampu memberikan pencerahan pada masyarakat, tidak lagi dianggap sebagai benda sakral yang layak dimuseumkan, dengan kata lain, sastra mulai diterima oleh publik luas. Pertanyaan lebih jauhnya lagi adalah, apakah kemudahan akses informasi karena kecanggihan teknologi yang dibarengi dengan bertambahnya jumlah komunitas sastra ini juga menunjukkan bahwa kualitas sastra Indonesia juga telah berkembang menjadi lebih cerdas dan bernas, serta mampu secara kritis mencermati kecendrungan sosial masa kini?

Saya mungkin tak dapat menjawab pertanyaan itu secara tepat juga memuaskan. Yang terpenting menurut oleh pikir saya, kemunculan komunitas sastra juga harus dibarengi oleh kelahiran karya-karya yang mumpuni, yang cerdas serta mampu menyikapi problematika era kini. Peran motivator seperti Bung Umbu, yang mencurahkan seluruh energinya untuk dunia susastra, tentulah merupakan anugrah tetapi juga harus dibarengi dengan sikap kritis, sehingga keberadaan Bung Umbu dapat memotivasi kita, yang muda-muda untuk menjadi lebih kreatif dalam berkarya. Selamat berkarya untuk kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s