Saat Sakit


Selain tidur apa yang dapat kulakukan. Memandang garis-garis warna di dinding, sembari mengenang masa kanak, boneka coklat dan merah muda, pita-pita cerah yang terserak begitu saja, potret nakal dengan senyum ceria yang seakan tak pernah mengenal duka.

Lalu kulihat diriku yang kini terbaring, mencari hangat di balik selimut biru muda. Kulihat wajah lugu masa kecil dulu dalam cermin persegi mini. Ada warna lain di sana, ada gurat yang berbeda. Mungkin waktu melukis sesuatu di sana, entah tentang apa.

Sepertinya dulu ada bunga-bunga di sana. Dan aku berlarian, berlomba dengan kupu-kupu yang selalu saja meninggalkanku. Kadang mereka hinggap di salah satu bunga kuning muda, kadang mereka mendekatiku yang kelelahan, memanggil-manggil. Tapi aku tak punya sayap. Aku bukan mereka. Lalu aku mulai lupa sungguhkah bunga-bunga itu pernah ada.

Selain tidur apa yang dapat kulakukan. Hari-hari lewat dan aku berbaring begini saja. Di jendela cahaya berubah selalu, kuning cerah, jingga muda, kelabu muram, dan gelap pekat.

Tapi di kamarku hanya ada warna biru, selalu biru, yang mirip dirimu saat melambai di depan gerbang rumahku. Kurindukan saat itu, yang telah berlalu, entah berapa hari yang kelu.

Kurindukan selalu hujan yang pernah membawamu kemari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s