Hari ke IV

5 Agustus 2009

Hari ini kami berencana mengunjungi Museum Nasional. Dua hari yang lalu, setelah berkeliling Monas, kami berniat melihat-lihat ke dalam museum ini. Sayangnya, hari Senin museum ini tidak dibuka. Saya sempat melihat sekilas, jam buka museum adalah dari jam 9 pagi hingga 4 sore. Harga tiket untuk anak-anak 250 sedangkan 750 untuk orang dewasa.

Sekitar pukul setengah sebelas kami sampai di depan Mahkamah Konstitusi. Dan ternyata saat itu, terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Peduli Pemilu. Mereka menyatakan bahwa SBY adalah Presiden yang sah, pilihan rakyat.

Hari mulai terik. Kegerahan membuat saya merasa tak nyaman. Lalu saya tergoda membeli semangka di pinggir jalan. Huah, rasa manis yang menyegarkan itu membuat saya sedikit tenang.

Sampai di museum, kami diwajibkan membeli tiket dan menitipkan ransel yang kami bawa. Setelah mengambil barang-barang yang saya anggap berharga, segera saja saya melenggang ke ruangan bagian dalam. Namun sangat disayangkan, kami tidak boleh membawa kamera dan handycam. Padahal, sudah berniat untuk mengabadikan koleksi museum bersejarah ini.

Lantai demi lantai kami susuri perlahan-lahan. Di lantai satu kami melihat aneka keramik baik dari nusantara maupun luar negeri semisal China. Saking banyaknya ragam bentuk dan corak keramik tersebut, saya tak melihat tulisan pengantar yang terpasang. Rasanya satu hari tak akan cukup melihat harta berharga nusantara ini. Di lantai yang sama kami melihat arca-arca zaman kerajaan. Mulai dari arca para raja hingga perwujudan dewata yang coba diekspresikan seniman kala itu melalui arca-arca ini.

Adapula halaman yang terletak di bagian tengah yang dikitari dengan arca-arca yang lebih beraneka.

Di bagian lain kami melihat ragam adat dan budaya berbagai daerah di nusantra. Mulai dari pakaian adat, peralatan keseharian, hingga miniatur rumah adat. Saya mencari-cari dimana kiranya budaya Bali ”dipajangkan”. Setelah melihat-lihat akhirnya saya temukan juga. Hm, rasa rindu sedikit melintas di hati saya.

Naik ke lantai 2 kami melihat tempat pameran harta bangsa berupa emas dan permata. Sungguh menakjubkan, cincin, gelang kalung hingga senjata-senjata dan peralatan hidup sehari-hari.

Hm, baru 2 lantai tapi kaki ini rasanya sudah begitu pegal, hampir 2 jam kami berjalan, dan ketika melihat sebuah kursi langsung saja saya dan kawan-kawan melepas lelah sejenak di sana. Minuman yang tadi saya bawa di tas tak boleh dibawa masuk. Mana ada orang minum di tengah museum.

Setelah merasa agak baikan kami segera menyusur bagian lain museum, ternyata di sisi satunya museum terlihat lebih modern. Mulai dari lantai, tembok, dan atapnya, semua serba modern namun tetap elegan dengan gaya minimalis yang membuat saya terkesan.

Segera saja kami melangkahkan kaki ke sana. Kehidupan pra sejarah terbentang di hadapan kami. Saya agak merinding ketika melihat kuburan manusia purba lengkap dengan kerangka tubuh setengah utuh.

Karena lantai paling atas ternyata menyimpan benda-benda bersejaran yang serupa dengan yang kami lihat di bangunan yang lebih ”tua”, maka kami bergegas saja. Selain lelah, kami juga merasa lapar. Jam makan siang telah lewat 3 jam yang lalu. Tak terasa memang.

Di perjalanan pulang, kami mendapat sebuah tabloid Warta Kesra. Alangkah senangnya, terdapat artikel berjudul “Bali, Pulau Terbaik Dunia 2009”. Kembali terbersit kerinduan pada kampung halaman. Penghargaan ini dinobatkan oleh Majalah Pariwisata Internasional, Travel and Leisure. Tahun lalu, peringkat terbaik diduduki oleh Pulau Galapagos, Ekuador. Nah, tahun ini, kedua pulau tersebut bertukar posisi.

Malam harinya, kami mengikuti acara pemutaran film dokumenter mengenai kehidupan masyarakat Indonesia di era peralihan Orde Baru menuju Era Reformasi “In The Eye of The Day” karya Helmrich, sutradara kelahiran Belanda (maaf kalau ada salah ucap). Film ini dikemas demikian rupa hingga kita merasa melihat kehidupan kita sendiri di dalamnya. Bagaimana sebuah keluarga berupaya lepas dari belenggu krisis sekaligus juga bertahan dari segala konflik sosial yang mendera.

Siapapun yang menonton film ini pasti terkesan dengan tiap kisah yang coba dimunculkan dalam gambar-gambar puitik ini.

Mulai dari kilasan peristiwa 1998 sampai pada era Pemilu 21 Juni 1999. Semuanya dirangkum dalam potongan-potongan kehidupan beberapa keluarga yang hidup di masa transisi tersebut.

Yang mungkin menjadi pertanyaan orang-orang yang menontonnya adalah, bagaimana kiranya proses editing film tersebut.

Menurut sang sutradara terdapat 200 jam film hasil syuting yang ia lakukan selama kurang lebih setahun tersebut. Ia menyatakan bahwa dalam proses tersebut, unsur rasa menjadi sangat berperan. Tahapan kerja inilah yang menurutnya menjadi yang paling sulit. Di satu sisi, ada tuntutan keutuhan sebuah film, namun di sisi lain, sang sutradara tidak dapat mengabaikan “keegoisannya” untuk menceritakan ragam peristiwa dalam gambar-gambar yang ia dapatkan. Hasil dari pergulatan Arnold tersebut akhirnya melahirkan film ini.

Ada upaya untuk menggunakan simbol agar film ini terasa lebih “hidup”. Kesan yang muncul adalah gambaran yang puitikal dan dramatik sekaligus multi tafsir. Misalnya saja, usai kilasan peristiwa 98, saat demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa, muncul gambar bebek. Karena yang difadeout adalah gambar seorang tentara ditengah ”serbuan” mahasiswa, maka bisa saja penonton menafsirkan tentara tersebut layaknya bebek yang mesti digiring kemana-mana. Namun bisa juga penonton berpandangan bahwa yang diibaratkan bebek justru mahasiswa. Tapi tidak salah juga jika ada sebagian penikmat film ini yang akan berpendapat bahwa si tentara sedang memikirkan kampung halamannya, saat dimana ia memelihara bebek dan menggiringnya mencari makan menelusuri desa.

Adapula gambaran dua ekor kucing, satu berkaki pincang, mengasi-ngais tumpukan sampah, kemudian muncul dua orang suami istri yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Tempat tinggalnya pun di sekitar tempat pembuangan itu.

Film ini ditutup dengan adegan yang cukup menarik. Si tokoh menerbangkan burung burung merpati di atas atap rumahnya, sembari melepas baju untuk digunakan menghalau burung-burung itu. Dari sana kita juga disuguhkan gambaran perumahan rakyat kecil yang terdesak di antara gedung-gedung besar khas ibukota.

Usai acara diskusi, kami sempat memberikan buku kumpulan tulisan kami padanya. Lalu, dengan sedikit berkelakar teman saya bertanya, ”Adakah ide membuat film tentang Bali?”. ”Absolutely yes”, ujarnya mantap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s