Hari III

4 Agustus 2009

Tak ada yang kami lakukan pagi hingga siang hari. Kami hanya duduk-duduk menikmati es krim yang telah kami pesan. Rasa manis yang leleh di mulut begitu menenangkan rasanya.

Sekitar pukul 6 sore kami berangkat menuju Bentara Jakarta dengan menaiki transjakarta. Rute busway yang akan kami tempuh adalah Harmoni-Blok M, sebelum mencapai Blok M kami harus berhenti di Plaza lalu pindah lagi ke jurusan Palmerah. Namun, alangkah malangnya, ternyata jurusan Plaza tempat seharusnya kami berhenti telah lewat. Ini dikarenakan nama yang tertera pada papan bukanlah Plaza namun Bundaran Senayan. Sampai di jurusan terakhir di Blok M, kami hanya menganga memandang keramaian, dan orang-orang yang tumpah ruah, mulai dari pedagang, pengamen, pejalan kaki yang entah darimana mau kemana.

Kami sempat mampir ke dalam Blok M, tapi segera saja kami ingat untuk segera melanjutkan perjalanan, karena pukul tujuh telah lewat lima menit yang lalu.

Karena salah jurusan, kami harus menaiki metromini 608, agar sampai ke Bentara. Dengan ongkos seharga 2000 per orang, kami melewati jalanan ibukota menuju Bentara. Untung saja metromini yang ini tidak sesesak mobil serupa di sebelah kiri. Terlihat penumpang berglayutan di sana. Suara krenetnya begitu riuh, belum lagi bunyi mesin yang menunjukkan mesin mobil yang sudah tua. Kemacetan tentu sudah menjadi hal biasa bagi orang-orang itu. Namun bagi saya, hiruk pikuk keadaan macam ini benar-benar tak nyaman. Tapi pemandangan ibu kota yang sesungguhnya ini membuat saya tak mengerdipkan mata sejenak pun. Tiap orang berjuang sekuat tenaga untuk dapat hidup, bergulat dengan nasib masing-masing sambil tetap menumbuhkan harapan yang menyenangkan. Gurat kelelahan hampir ada pada orang-orang yang saya temui, baik di busway maupun di metromini ini. Tentu mereka sudah bekerja keras seharian, dan tak dapat lagi menikmati perjalanan, atau lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi itu seperti saya.

Belum lagi setengah jam mobil berjalan, dua orang pengamen masuk ke dalam. Setelah menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang tidak begitu enak didengar, mereka ngloyor pergi, tentu sebelumnya saya berikan ia selembar ribuan.

Berselang sekitar sepuluh menit kemudian, datang lagi pengamen lainnya. Kali ini suaranya sungguh tak enak didengar. Di kantong tak ada lagi uang ribuan, bahkan recehan pun tak ada. Maka, kali itu teman saya yang bayar. Lalu, seorang anak kecil pincang dimasukkan ke dalam mobil entah oleh siapa. Tanpa ba bi bu, teman saya mengeluarkan selembar ribuan lagi. Saat bus berhenti sesaat, anak itu diambil dibawa keluar. Nah kali ini giliran seorang ibu muda yang menggendong anaknya. Ia mencoba menghibur kami demi sesuap nasi,begitu katanya. Lirik lagunya begitu miris, maka lagi-lagi teman saya menyerahkan uang logam limaratusan, satu-satunya yang tersisa di sakunya. Hm, satu pengamen lagi datang, dan saya maupun teman saya hanya tertunduk malu ketika mereka lewat. Tapi agaknya mereka sudah terbiasa seperti itu. Bahkan, seorang wanita muda yang duduk di depan saya, sama sekali tak memberikan uang pada seniman-seniman jalanan itu.

Untung saja episode ini segera berakhir. Tapi sambil memandang gedung-gedung megah dengan lampu warna warninya yang mewah, saya kembali memikirkan sederet peristiwa tadi. Suasana hiruk pikuk yang baru saja saya rasakan. Hm, inilah sesungguhnya wajah negeri ini.

Sekitar 45 menit, kami sampai di Bentara. Perut saya sudah keroncongan karena sebelum berangkat tidak makan apa-apa. Untung sekali, saat itu tengah makan malam. Saya dan kawan-kawan langsung menuju stand soto yang disediakan.

Setelah itu barulah kami melihat pameran Laksmi, seorang perupa perempuan yang telah dua kali melakukan pameran di Bentara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s