Hari II

3 Agustus 2009

Seorang pelancong yang mengunjungi Jakarta hampir selalu tak pernah melewatkan Monas. Monumen ini seakan jadi penanda bahwa mereka pernah menjejakkan kaki di ibukota nusantara. Nah, itulah yang kini terjadi pada saya.

Malam sebelumnya, saya tidur begitu larut, kira-kira jam 2 pagi. Alhasil niat untuk berjalan pagi di seputaran Monas kandas. Akhirnya kurang lebih jam sebelas siang saya dan kawan-kawan bertekad untuk mengunjungi Monas, dengan berjalan kaki saja.

Awalnya, semangat yang tinggi memang membuat kami tidak merasa lelah sedikitpun, namun belum juga sampai di sana, keringat sudah mengucur deras, kaki pun rasanya begitu pegal.

Sedikit gontai tapi masih tetap dengan tekad yang agak kuat, kami melanjutkan lagi hingga sampai di taman yang mengelilingi Monas. Ternyata untuk masuk ke dalamnya, kami harus melewati terowongan bawah tanah yang cukup jauh dari tempat kami berdiri. Sebelum mengetahui hal itu, seorang turis bertanya pada salah seorang teman saya, dimanakah kiranya bias mendapatkan tiket masuk, karena ia salah melihat tanda panah, ia menyarankan si turis lurus saja. Belum sempat kami memberitahu arah yang tepat turis itu telah melenggang jauh. Sedangkan kami hanya senyum-senyum masam saja, merasa bersalah.

Setelah membeli tiket seharga 5500, kami segera memasuki Monas. Kami disambut oleh taman yang dibentuk menyerupai pola-pola batik nusantara. Nah dari pelataran Monas nanti, kita bias melihat dengan jelas ragam bentuk batik-batik ini.

Setelah menyerahkan tiket pada petugas, kami langsung saja menuju pintu gerbang yang dijaga oleh dua orang training yang masih SMA. Namun sebelum masuk, kami melihat-lihat patung dinding (saya tak tahu istilah tepatnya). Di sana terlukis beragam kisah, mulai dari Sumpah Palapa, pendudukan VOC, perang Kemerdekaan, dan lain sebagainya. Sebagaimana layaknya pelancong, kami segera saja mengambil foto di sana, tentu dengan beraneka pose yang menarik dan unik.

Setelah berpuas diri berpose di depan patung dinding itu, kami masuk ke dalam. Hawa sejuk segera saja membuat saya segar kembali. Lantai satu ini merupakan Museum Sejarah. Di sana terdapat 51 diorama yang menggambarkan sejarah RI. Ada pula poster-poster tentang pembangunan Monas yang dirancang oleh Ir. Soedarsono ini. Diorama-diorama tersebut sungguh mempesona. Gambarannya begitu detail, dan terlihat jelas kesungguhan para pembuatnya, ekspresi rakyat kecil, kewibawaan raja-raja, hingga kegagahan para jenderal. Diorama ini terbagi atas 4 bagian.

Ada pula ruang kecil yang terletak di tengah-tengah, di mana di dalamnya terdapat diorama Jakarta, serta tata ruang kota ini. Yang menakjubkan adalah, terdapat rancang kota Jakarta untuk beberapa tahun ke depan. Hm, benar-benar ibu kota ini akan jadi kota metropolitan sejati dengan gedung-gedung megah serta lampu aneka warna yang gemerlap. Tapi entah mengapa saya malah tak enak melihat rancang bangun itu. Dimana rakyat kecil yang biasa saya lihat tinggal di pinggir-pinggir jalan itu akan tinggal? Apakah akan tinggal di gedung-gedung berlantai puluhan itu juga, seperti kalangan elite nusantara?

Hm, kaki saya mulai kembali berulah. Pegalnya sungguh membuat saya tak nyaman. Langsung saja saya menuju bangku-bangku yang tertempel di dinding sambil memijat betis saya. Teman-teman akhirnya berkumpul di tempat ini juga. Lalu kami segera naik menuju lantai berikutnya.

Sampai di pelataran Monas, kami memasuki antrean yang cukup panjang. Ternyata dari pelataran ini kami akan langsung menuju puncak Monas dengan lift. Sambil menunggu, saya puaskan mata saya melihat keluasan pelataran ini. Gedung-gedung tinggi terlihat angkuh, seakan menunjukkan kuasanya atas saya. Langit biru cerah juga tak kalah memperlihatkan keindahannya. Hm, saya hanya bisa bergumam, inilah kebesaran semesta. Nah, di sini pulalah kami melihat turis yang tadi. Dengan senyum pongah yang seakan berkata,”Nah rasain lu, gue duluan ya”, mereka melewati kami.

Sampai di puncak saya terkesima oleh pemandangan ibukota. Terlihat atap-atap rumah yang seakan berserakan begitu saja. Di beberapa bagian, gedung-gedung tinggi seakan mendesak rumah-rumah kecil di sekitarnya. Saya berpikir alangkah indahnya pemandangan ini di malam hari. Ya, indah, indahnya kelengangan yang menakjubkan.

Saya membeli beberapa koin untuk melihat kota lewat teropong. Tapi hanya selama satu setengah menit saja. Dengan lift kami turun ke lantai II. Rencananya kami akan melihat naskah proklamasi di gerbang berukir di lantai bawah, namun jam telah lewat, dan kami tak ingin menunggu hingga 2 jam ke depan. Jadi, kami hanya melihat lambang-lambang negara super besar di dinding. Menurut pemandu training yang tiba-tiba muncul di antara kami, peta kepulauan RI, burung garuda, serta naskah proklamasi tersebut dibuat dengan lempeng emas 22 karat. Hm, mantap juga ya.

Hampir pukul 2, perut sudah lapar, kaki pegal, dan mata juga agak mengantuk. Dengan menaiki bis, kami menuju pasar kecil di Monas. Dalam bis, kami juga dijelaskan mengenai Monas.

Nasi campur seharga 7000 rupiah pun berakhir lekas di perut kami. Lalu, kembali dengan berjalan kaki, kami pulang.

Di tengah jalan, kami masih sempat membeli jeruk hasil menawar habis-habisan. Lalu berfoto-foto dengan latar lalu lintas padat ala ibu kota di atas jembatan penyebrangan sambil beristirahat melemaskan kaki.

Sampai di gedung MK ternyata ada agenda sidang. 2 orang teman saya yang memakai sepatu diperkenankan masuk. Dan sisanya menunggu di bawah teduh pohon pinggir jalan. Tak banyak yang mereka ceritakan tentang suasana sidang itu, mungkin karena sudah sangat lelah.

Ketika melihat istana merdeka, energi kami seakan kembali muncul. Seorang penjaga seakan membolehkan kami masuk tetapi begitu mendekat 2 orang penjaga lain dengan tampak galak menyuruh kami pergi. Takut juga melihat orang-orang berseragam itu. Apalagi pucuk senjata di pundak mereka.

Huah, sampai di tempat menginap, segera saja kami rebah, dan terbangun sore harinya dengan kelaparan yang kembali mendera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s