Sikap Kritis dan Motivator


Kita tentu sepakat bahwa zaman memang telah berubah. Kini, Bung Umbu telah berusia lebih dari separuh abad. Ia, dengan rubrik puisi mingguan di Bali Post, masih tetap intens menyebarkan benih-benih puisi khususnya pada generasi muda. Selama puluhan tahun, dedikasinya pada dunia susastra tentu tidak dapat dipungkiri lagi. Sederet nama sastrawan, budayawan dan penyair yang mumpuni muncul karena persentuhan kreatifnya dengan Bung Umbu. Pertanyaan mendasar yang muncul kemudian adalah, pola-pola macam apa kiranya yang diterapkan oleh Bung Umbu? Lalu, apakah pola-pola tersebut akan berhasil jika diterapkan di era kini, ketika percepatan perubahan merupakan keniscayaan yang tak tertolak?

Jika kita mencermati fenomena dunia susastra masa kini, sangat jelas terlihat maraknya kemunculan komunitas-komunitas sastra, utamanya di dunia maya. Para anggotanya begitu bersemangat menulis. Terbukti, tiap harinya selalu ada tulisan-tulisan baru yang diposting via blog ataupun facebook. Karya-karya mereka sungguh beraneka, mulai dari menceritakan pengalaman sehari-hari, sampai pada telaah serius mengenai sastra, ataupun pandangan mengenai peristiwa aktual yang nasional maupun global. Banyak karya seperti puisi, cerita-cerita pendek, yang menunjukkan bahwa betapa seriusnya mereka bersastra.

Saya percaya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini merupakan anugrah untuk kita semua. Kecanggihan teknologi memberikan ruang kemungkinan yang tiada batas untuk berekspresi dan mengeksplorasi diri, khususnya di dunia susastra. Begitu banyak media yang dapat menjadi wadah aspirasi sekaligus menginspirasi publik lainnya untuk turut melakukan upaya serupa. Hal ini tentu sangat berbeda pada era Bung Umbu ketika di Jogja. Untuk dapat dimuat di media-media, semisal surat kabar, perlu perjuangan yang tidak bisa dikatakan mudah karena ada proses seleksi yang ketat dari redaktur medianya. Sedangkan sekarang, cukup log in di facebook atau membuat account di wordpress dan blogspot, kita dapat mengenalkan karya kita sekaligus juga memperoleh komentar dari publik luas.

Akan tetapi, kita masih harus mencermati apakah kemunculan para penggemar sastra yang membentuk komunitas-komunitas sastra ini juga mencerminkan bertambahnya harapan bahwa sastra, yang dipercaya mampu memberikan pencerahan pada masyarakat, tidak lagi dianggap sebagai benda sakral yang layak dimuseumkan, dengan kata lain, sastra mulai diterima oleh publik luas. Pertanyaan lebih jauhnya lagi adalah, apakah kemudahan akses informasi karena kecanggihan teknologi yang dibarengi dengan bertambahnya jumlah komunitas sastra ini juga menunjukkan bahwa kualitas sastra Indonesia juga telah berkembang menjadi lebih cerdas dan bernas, serta mampu secara kritis mencermati kecendrungan sosial masa kini?

Saya mungkin tak dapat menjawab pertanyaan itu secara tepat juga memuaskan. Yang terpenting menurut oleh pikir saya, kemunculan komunitas sastra juga harus dibarengi oleh kelahiran karya-karya yang mumpuni, yang cerdas serta mampu menyikapi problematika era kini. Peran motivator seperti Bung Umbu, yang mencurahkan seluruh energinya untuk dunia susastra, tentulah merupakan anugrah tetapi juga harus dibarengi dengan sikap kritis, sehingga keberadaan Bung Umbu dapat memotivasi kita, yang muda-muda untuk menjadi lebih kreatif dalam berkarya. Selamat berkarya untuk kita semua.

Advertisements

Saat Sakit


Selain tidur apa yang dapat kulakukan. Memandang garis-garis warna di dinding, sembari mengenang masa kanak, boneka coklat dan merah muda, pita-pita cerah yang terserak begitu saja, potret nakal dengan senyum ceria yang seakan tak pernah mengenal duka.

Lalu kulihat diriku yang kini terbaring, mencari hangat di balik selimut biru muda. Kulihat wajah lugu masa kecil dulu dalam cermin persegi mini. Ada warna lain di sana, ada gurat yang berbeda. Mungkin waktu melukis sesuatu di sana, entah tentang apa.

Sepertinya dulu ada bunga-bunga di sana. Dan aku berlarian, berlomba dengan kupu-kupu yang selalu saja meninggalkanku. Kadang mereka hinggap di salah satu bunga kuning muda, kadang mereka mendekatiku yang kelelahan, memanggil-manggil. Tapi aku tak punya sayap. Aku bukan mereka. Lalu aku mulai lupa sungguhkah bunga-bunga itu pernah ada.

Selain tidur apa yang dapat kulakukan. Hari-hari lewat dan aku berbaring begini saja. Di jendela cahaya berubah selalu, kuning cerah, jingga muda, kelabu muram, dan gelap pekat.

Tapi di kamarku hanya ada warna biru, selalu biru, yang mirip dirimu saat melambai di depan gerbang rumahku. Kurindukan saat itu, yang telah berlalu, entah berapa hari yang kelu.

Kurindukan selalu hujan yang pernah membawamu kemari.

Hari ke IV

5 Agustus 2009

Hari ini kami berencana mengunjungi Museum Nasional. Dua hari yang lalu, setelah berkeliling Monas, kami berniat melihat-lihat ke dalam museum ini. Sayangnya, hari Senin museum ini tidak dibuka. Saya sempat melihat sekilas, jam buka museum adalah dari jam 9 pagi hingga 4 sore. Harga tiket untuk anak-anak 250 sedangkan 750 untuk orang dewasa.

Sekitar pukul setengah sebelas kami sampai di depan Mahkamah Konstitusi. Dan ternyata saat itu, terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Peduli Pemilu. Mereka menyatakan bahwa SBY adalah Presiden yang sah, pilihan rakyat.

Hari mulai terik. Kegerahan membuat saya merasa tak nyaman. Lalu saya tergoda membeli semangka di pinggir jalan. Huah, rasa manis yang menyegarkan itu membuat saya sedikit tenang.

Sampai di museum, kami diwajibkan membeli tiket dan menitipkan ransel yang kami bawa. Setelah mengambil barang-barang yang saya anggap berharga, segera saja saya melenggang ke ruangan bagian dalam. Namun sangat disayangkan, kami tidak boleh membawa kamera dan handycam. Padahal, sudah berniat untuk mengabadikan koleksi museum bersejarah ini.

Lantai demi lantai kami susuri perlahan-lahan. Di lantai satu kami melihat aneka keramik baik dari nusantara maupun luar negeri semisal China. Saking banyaknya ragam bentuk dan corak keramik tersebut, saya tak melihat tulisan pengantar yang terpasang. Rasanya satu hari tak akan cukup melihat harta berharga nusantara ini. Di lantai yang sama kami melihat arca-arca zaman kerajaan. Mulai dari arca para raja hingga perwujudan dewata yang coba diekspresikan seniman kala itu melalui arca-arca ini.

Adapula halaman yang terletak di bagian tengah yang dikitari dengan arca-arca yang lebih beraneka.

Di bagian lain kami melihat ragam adat dan budaya berbagai daerah di nusantra. Mulai dari pakaian adat, peralatan keseharian, hingga miniatur rumah adat. Saya mencari-cari dimana kiranya budaya Bali ”dipajangkan”. Setelah melihat-lihat akhirnya saya temukan juga. Hm, rasa rindu sedikit melintas di hati saya.

Naik ke lantai 2 kami melihat tempat pameran harta bangsa berupa emas dan permata. Sungguh menakjubkan, cincin, gelang kalung hingga senjata-senjata dan peralatan hidup sehari-hari.

Hm, baru 2 lantai tapi kaki ini rasanya sudah begitu pegal, hampir 2 jam kami berjalan, dan ketika melihat sebuah kursi langsung saja saya dan kawan-kawan melepas lelah sejenak di sana. Minuman yang tadi saya bawa di tas tak boleh dibawa masuk. Mana ada orang minum di tengah museum.

Setelah merasa agak baikan kami segera menyusur bagian lain museum, ternyata di sisi satunya museum terlihat lebih modern. Mulai dari lantai, tembok, dan atapnya, semua serba modern namun tetap elegan dengan gaya minimalis yang membuat saya terkesan.

Segera saja kami melangkahkan kaki ke sana. Kehidupan pra sejarah terbentang di hadapan kami. Saya agak merinding ketika melihat kuburan manusia purba lengkap dengan kerangka tubuh setengah utuh.

Karena lantai paling atas ternyata menyimpan benda-benda bersejaran yang serupa dengan yang kami lihat di bangunan yang lebih ”tua”, maka kami bergegas saja. Selain lelah, kami juga merasa lapar. Jam makan siang telah lewat 3 jam yang lalu. Tak terasa memang.

Di perjalanan pulang, kami mendapat sebuah tabloid Warta Kesra. Alangkah senangnya, terdapat artikel berjudul “Bali, Pulau Terbaik Dunia 2009”. Kembali terbersit kerinduan pada kampung halaman. Penghargaan ini dinobatkan oleh Majalah Pariwisata Internasional, Travel and Leisure. Tahun lalu, peringkat terbaik diduduki oleh Pulau Galapagos, Ekuador. Nah, tahun ini, kedua pulau tersebut bertukar posisi.

Malam harinya, kami mengikuti acara pemutaran film dokumenter mengenai kehidupan masyarakat Indonesia di era peralihan Orde Baru menuju Era Reformasi “In The Eye of The Day” karya Helmrich, sutradara kelahiran Belanda (maaf kalau ada salah ucap). Film ini dikemas demikian rupa hingga kita merasa melihat kehidupan kita sendiri di dalamnya. Bagaimana sebuah keluarga berupaya lepas dari belenggu krisis sekaligus juga bertahan dari segala konflik sosial yang mendera.

Siapapun yang menonton film ini pasti terkesan dengan tiap kisah yang coba dimunculkan dalam gambar-gambar puitik ini.

Mulai dari kilasan peristiwa 1998 sampai pada era Pemilu 21 Juni 1999. Semuanya dirangkum dalam potongan-potongan kehidupan beberapa keluarga yang hidup di masa transisi tersebut.

Yang mungkin menjadi pertanyaan orang-orang yang menontonnya adalah, bagaimana kiranya proses editing film tersebut.

Menurut sang sutradara terdapat 200 jam film hasil syuting yang ia lakukan selama kurang lebih setahun tersebut. Ia menyatakan bahwa dalam proses tersebut, unsur rasa menjadi sangat berperan. Tahapan kerja inilah yang menurutnya menjadi yang paling sulit. Di satu sisi, ada tuntutan keutuhan sebuah film, namun di sisi lain, sang sutradara tidak dapat mengabaikan “keegoisannya” untuk menceritakan ragam peristiwa dalam gambar-gambar yang ia dapatkan. Hasil dari pergulatan Arnold tersebut akhirnya melahirkan film ini.

Ada upaya untuk menggunakan simbol agar film ini terasa lebih “hidup”. Kesan yang muncul adalah gambaran yang puitikal dan dramatik sekaligus multi tafsir. Misalnya saja, usai kilasan peristiwa 98, saat demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa, muncul gambar bebek. Karena yang difadeout adalah gambar seorang tentara ditengah ”serbuan” mahasiswa, maka bisa saja penonton menafsirkan tentara tersebut layaknya bebek yang mesti digiring kemana-mana. Namun bisa juga penonton berpandangan bahwa yang diibaratkan bebek justru mahasiswa. Tapi tidak salah juga jika ada sebagian penikmat film ini yang akan berpendapat bahwa si tentara sedang memikirkan kampung halamannya, saat dimana ia memelihara bebek dan menggiringnya mencari makan menelusuri desa.

Adapula gambaran dua ekor kucing, satu berkaki pincang, mengasi-ngais tumpukan sampah, kemudian muncul dua orang suami istri yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Tempat tinggalnya pun di sekitar tempat pembuangan itu.

Film ini ditutup dengan adegan yang cukup menarik. Si tokoh menerbangkan burung burung merpati di atas atap rumahnya, sembari melepas baju untuk digunakan menghalau burung-burung itu. Dari sana kita juga disuguhkan gambaran perumahan rakyat kecil yang terdesak di antara gedung-gedung besar khas ibukota.

Usai acara diskusi, kami sempat memberikan buku kumpulan tulisan kami padanya. Lalu, dengan sedikit berkelakar teman saya bertanya, ”Adakah ide membuat film tentang Bali?”. ”Absolutely yes”, ujarnya mantap.

Bulan Keenam, Hari Sabtu yang Lalu


Apa arti bulan keenam ini. Kali terakhir kita menyusur jalan dulu ataukah hanya waktu, melulu waktu yang tak menentu.

Kini aku di tempat yang dulu. Berdiri memandang langit yang diam-diam menyusupkan kenangan ke dalam diriku. Dan selalu ada tawamu di situ.

Hujan malam itu ternyata tak lagi pernah membuat kau dan aku gigil lalu mencoba menyesap hangat masing-masing. Sebab hari telah berganti baru.

Kau tak perlu hujan untuk mengingatkanmu pada gadis kecil yang mencoba riang ini. Kau juga tak perlu mengulurkan tangan untuk menyambut ia yang gagu di depanmu. Kau kini kupu-kupu, melepas bebas mengitari langit, meski tanpa warna biru.

Apa arti bulan keenam ini. Aku hanya mengenang kedatangan tanpa mampu melepas ingatan tentang perpisahan. Tapi aku dan kau sama-sama tahu, ada seseorang disana yang akan membuka pintu untukmu, menyanyikan lagu-lagu riang, menghangatkanmu. Sedang hanya ada sebuah buku dan secarik kertas tulisan tanganmu di sini.

Apa arti bulan keenam ini untukku atau untukmu

Hari III

4 Agustus 2009

Tak ada yang kami lakukan pagi hingga siang hari. Kami hanya duduk-duduk menikmati es krim yang telah kami pesan. Rasa manis yang leleh di mulut begitu menenangkan rasanya.

Sekitar pukul 6 sore kami berangkat menuju Bentara Jakarta dengan menaiki transjakarta. Rute busway yang akan kami tempuh adalah Harmoni-Blok M, sebelum mencapai Blok M kami harus berhenti di Plaza lalu pindah lagi ke jurusan Palmerah. Namun, alangkah malangnya, ternyata jurusan Plaza tempat seharusnya kami berhenti telah lewat. Ini dikarenakan nama yang tertera pada papan bukanlah Plaza namun Bundaran Senayan. Sampai di jurusan terakhir di Blok M, kami hanya menganga memandang keramaian, dan orang-orang yang tumpah ruah, mulai dari pedagang, pengamen, pejalan kaki yang entah darimana mau kemana.

Kami sempat mampir ke dalam Blok M, tapi segera saja kami ingat untuk segera melanjutkan perjalanan, karena pukul tujuh telah lewat lima menit yang lalu.

Karena salah jurusan, kami harus menaiki metromini 608, agar sampai ke Bentara. Dengan ongkos seharga 2000 per orang, kami melewati jalanan ibukota menuju Bentara. Untung saja metromini yang ini tidak sesesak mobil serupa di sebelah kiri. Terlihat penumpang berglayutan di sana. Suara krenetnya begitu riuh, belum lagi bunyi mesin yang menunjukkan mesin mobil yang sudah tua. Kemacetan tentu sudah menjadi hal biasa bagi orang-orang itu. Namun bagi saya, hiruk pikuk keadaan macam ini benar-benar tak nyaman. Tapi pemandangan ibu kota yang sesungguhnya ini membuat saya tak mengerdipkan mata sejenak pun. Tiap orang berjuang sekuat tenaga untuk dapat hidup, bergulat dengan nasib masing-masing sambil tetap menumbuhkan harapan yang menyenangkan. Gurat kelelahan hampir ada pada orang-orang yang saya temui, baik di busway maupun di metromini ini. Tentu mereka sudah bekerja keras seharian, dan tak dapat lagi menikmati perjalanan, atau lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi itu seperti saya.

Belum lagi setengah jam mobil berjalan, dua orang pengamen masuk ke dalam. Setelah menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang tidak begitu enak didengar, mereka ngloyor pergi, tentu sebelumnya saya berikan ia selembar ribuan.

Berselang sekitar sepuluh menit kemudian, datang lagi pengamen lainnya. Kali ini suaranya sungguh tak enak didengar. Di kantong tak ada lagi uang ribuan, bahkan recehan pun tak ada. Maka, kali itu teman saya yang bayar. Lalu, seorang anak kecil pincang dimasukkan ke dalam mobil entah oleh siapa. Tanpa ba bi bu, teman saya mengeluarkan selembar ribuan lagi. Saat bus berhenti sesaat, anak itu diambil dibawa keluar. Nah kali ini giliran seorang ibu muda yang menggendong anaknya. Ia mencoba menghibur kami demi sesuap nasi,begitu katanya. Lirik lagunya begitu miris, maka lagi-lagi teman saya menyerahkan uang logam limaratusan, satu-satunya yang tersisa di sakunya. Hm, satu pengamen lagi datang, dan saya maupun teman saya hanya tertunduk malu ketika mereka lewat. Tapi agaknya mereka sudah terbiasa seperti itu. Bahkan, seorang wanita muda yang duduk di depan saya, sama sekali tak memberikan uang pada seniman-seniman jalanan itu.

Untung saja episode ini segera berakhir. Tapi sambil memandang gedung-gedung megah dengan lampu warna warninya yang mewah, saya kembali memikirkan sederet peristiwa tadi. Suasana hiruk pikuk yang baru saja saya rasakan. Hm, inilah sesungguhnya wajah negeri ini.

Sekitar 45 menit, kami sampai di Bentara. Perut saya sudah keroncongan karena sebelum berangkat tidak makan apa-apa. Untung sekali, saat itu tengah makan malam. Saya dan kawan-kawan langsung menuju stand soto yang disediakan.

Setelah itu barulah kami melihat pameran Laksmi, seorang perupa perempuan yang telah dua kali melakukan pameran di Bentara.

Hari II

3 Agustus 2009

Seorang pelancong yang mengunjungi Jakarta hampir selalu tak pernah melewatkan Monas. Monumen ini seakan jadi penanda bahwa mereka pernah menjejakkan kaki di ibukota nusantara. Nah, itulah yang kini terjadi pada saya.

Malam sebelumnya, saya tidur begitu larut, kira-kira jam 2 pagi. Alhasil niat untuk berjalan pagi di seputaran Monas kandas. Akhirnya kurang lebih jam sebelas siang saya dan kawan-kawan bertekad untuk mengunjungi Monas, dengan berjalan kaki saja.

Awalnya, semangat yang tinggi memang membuat kami tidak merasa lelah sedikitpun, namun belum juga sampai di sana, keringat sudah mengucur deras, kaki pun rasanya begitu pegal.

Sedikit gontai tapi masih tetap dengan tekad yang agak kuat, kami melanjutkan lagi hingga sampai di taman yang mengelilingi Monas. Ternyata untuk masuk ke dalamnya, kami harus melewati terowongan bawah tanah yang cukup jauh dari tempat kami berdiri. Sebelum mengetahui hal itu, seorang turis bertanya pada salah seorang teman saya, dimanakah kiranya bias mendapatkan tiket masuk, karena ia salah melihat tanda panah, ia menyarankan si turis lurus saja. Belum sempat kami memberitahu arah yang tepat turis itu telah melenggang jauh. Sedangkan kami hanya senyum-senyum masam saja, merasa bersalah.

Setelah membeli tiket seharga 5500, kami segera memasuki Monas. Kami disambut oleh taman yang dibentuk menyerupai pola-pola batik nusantara. Nah dari pelataran Monas nanti, kita bias melihat dengan jelas ragam bentuk batik-batik ini.

Setelah menyerahkan tiket pada petugas, kami langsung saja menuju pintu gerbang yang dijaga oleh dua orang training yang masih SMA. Namun sebelum masuk, kami melihat-lihat patung dinding (saya tak tahu istilah tepatnya). Di sana terlukis beragam kisah, mulai dari Sumpah Palapa, pendudukan VOC, perang Kemerdekaan, dan lain sebagainya. Sebagaimana layaknya pelancong, kami segera saja mengambil foto di sana, tentu dengan beraneka pose yang menarik dan unik.

Setelah berpuas diri berpose di depan patung dinding itu, kami masuk ke dalam. Hawa sejuk segera saja membuat saya segar kembali. Lantai satu ini merupakan Museum Sejarah. Di sana terdapat 51 diorama yang menggambarkan sejarah RI. Ada pula poster-poster tentang pembangunan Monas yang dirancang oleh Ir. Soedarsono ini. Diorama-diorama tersebut sungguh mempesona. Gambarannya begitu detail, dan terlihat jelas kesungguhan para pembuatnya, ekspresi rakyat kecil, kewibawaan raja-raja, hingga kegagahan para jenderal. Diorama ini terbagi atas 4 bagian.

Ada pula ruang kecil yang terletak di tengah-tengah, di mana di dalamnya terdapat diorama Jakarta, serta tata ruang kota ini. Yang menakjubkan adalah, terdapat rancang kota Jakarta untuk beberapa tahun ke depan. Hm, benar-benar ibu kota ini akan jadi kota metropolitan sejati dengan gedung-gedung megah serta lampu aneka warna yang gemerlap. Tapi entah mengapa saya malah tak enak melihat rancang bangun itu. Dimana rakyat kecil yang biasa saya lihat tinggal di pinggir-pinggir jalan itu akan tinggal? Apakah akan tinggal di gedung-gedung berlantai puluhan itu juga, seperti kalangan elite nusantara?

Hm, kaki saya mulai kembali berulah. Pegalnya sungguh membuat saya tak nyaman. Langsung saja saya menuju bangku-bangku yang tertempel di dinding sambil memijat betis saya. Teman-teman akhirnya berkumpul di tempat ini juga. Lalu kami segera naik menuju lantai berikutnya.

Sampai di pelataran Monas, kami memasuki antrean yang cukup panjang. Ternyata dari pelataran ini kami akan langsung menuju puncak Monas dengan lift. Sambil menunggu, saya puaskan mata saya melihat keluasan pelataran ini. Gedung-gedung tinggi terlihat angkuh, seakan menunjukkan kuasanya atas saya. Langit biru cerah juga tak kalah memperlihatkan keindahannya. Hm, saya hanya bisa bergumam, inilah kebesaran semesta. Nah, di sini pulalah kami melihat turis yang tadi. Dengan senyum pongah yang seakan berkata,”Nah rasain lu, gue duluan ya”, mereka melewati kami.

Sampai di puncak saya terkesima oleh pemandangan ibukota. Terlihat atap-atap rumah yang seakan berserakan begitu saja. Di beberapa bagian, gedung-gedung tinggi seakan mendesak rumah-rumah kecil di sekitarnya. Saya berpikir alangkah indahnya pemandangan ini di malam hari. Ya, indah, indahnya kelengangan yang menakjubkan.

Saya membeli beberapa koin untuk melihat kota lewat teropong. Tapi hanya selama satu setengah menit saja. Dengan lift kami turun ke lantai II. Rencananya kami akan melihat naskah proklamasi di gerbang berukir di lantai bawah, namun jam telah lewat, dan kami tak ingin menunggu hingga 2 jam ke depan. Jadi, kami hanya melihat lambang-lambang negara super besar di dinding. Menurut pemandu training yang tiba-tiba muncul di antara kami, peta kepulauan RI, burung garuda, serta naskah proklamasi tersebut dibuat dengan lempeng emas 22 karat. Hm, mantap juga ya.

Hampir pukul 2, perut sudah lapar, kaki pegal, dan mata juga agak mengantuk. Dengan menaiki bis, kami menuju pasar kecil di Monas. Dalam bis, kami juga dijelaskan mengenai Monas.

Nasi campur seharga 7000 rupiah pun berakhir lekas di perut kami. Lalu, kembali dengan berjalan kaki, kami pulang.

Di tengah jalan, kami masih sempat membeli jeruk hasil menawar habis-habisan. Lalu berfoto-foto dengan latar lalu lintas padat ala ibu kota di atas jembatan penyebrangan sambil beristirahat melemaskan kaki.

Sampai di gedung MK ternyata ada agenda sidang. 2 orang teman saya yang memakai sepatu diperkenankan masuk. Dan sisanya menunggu di bawah teduh pohon pinggir jalan. Tak banyak yang mereka ceritakan tentang suasana sidang itu, mungkin karena sudah sangat lelah.

Ketika melihat istana merdeka, energi kami seakan kembali muncul. Seorang penjaga seakan membolehkan kami masuk tetapi begitu mendekat 2 orang penjaga lain dengan tampak galak menyuruh kami pergi. Takut juga melihat orang-orang berseragam itu. Apalagi pucuk senjata di pundak mereka.

Huah, sampai di tempat menginap, segera saja kami rebah, dan terbangun sore harinya dengan kelaparan yang kembali mendera.