VII

Jika ia tak datang padaku, mungkin hariku tetap seperti selembar kertas yang tak juga ditulisi. Tapi tak dapat kuberikan apa yang boleh jadi ia harapkan. Meski berulang kali ia berkata, hanya ingin menyaksikan kebahagiaan memancar di sudut remang ini.

Tiap kali pagi kurasakan sebagai ketidakpastian yang lain, lagi-lagi ia datang dengan senyum riang, tulus menawarkan kehangatan. Tapi aku tak menginginkan bintang yang berpijar terang, melainkan sinar temaram bulan yang telah lama tak datang.

Jika kubaringkan tubuhku, lalu dengan tenang kurasakan tiupan angin di kamarku, maka kau seakan duduk di sampingku, menyanyikan sesuatu, entah apa itu, lagu pengantar tidur yang sendu, atau melodi dari masa lalumu. Tapi nyatanya, hanya suaranya di ujung sana, yang merangkulku dari lamunan semacam itu, seperti biasa.

Lalu aku melihatmu, bersandar di dinding itu, seperti pejalan yang lelah tapi masih punya ribuan alasan untuk melanjutkan langkah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s