VIII

Apa yang akan terjadi esok hari, belum tentu seperti yang kita inginkan. Berulang datang kabar, berkali-kali tak sesuai  harapan.

Dari sisian jalan, kusaksikan bulan menggantung sebagian di atas atap gedung kuning tua. Mungkin kau tengah duduk di dalamnya, memandangi ratusan halaman penuh angka, memutar-mutar pensil, lalu sesekali menyelipkannya di mulut, dan kau pun kembali mencermati tulisan – tulisan di depanmu. Mungkin juga kau tengah melirik jam tanganmu untuk yang kesekian kali, berharap waktu berlalu dan segera dapat kau habiskan malam dengan kupu-kupumu yang menunggu di sudut lengang kamarmu.

Dari sisian jalan, kusaksikan pagi pelan-pelan menggantikan malam, cahaya pucat matahari pukul 6 menyembul di timur seakan tak sabar menampakkan kuasanya. Kulihat gedung kuning tua itu lagi. Mungkin nanti kau akan kembali duduk di sana, dengan sisa senyum yang seharian setelah beraneka urusan yang melelahkan. Namun, kesenangan tentulah selalu menunggumu entah di mana. Mungkin seorang kawan akan menghubungi tepat pukul 10 nanti, mengajakmu menyusuri jalanan di utara, sambil menikmati minuman hangat toko 24 jam. Atau sekadar duduk-duduk di emperannya memandangi kendaraan yang lalu lalang tak pernah berhenti. Mungkin juga kau memilih pulang saja, berbaring puas di atas ranjangmu, mencermati beragam benda di sana. Botol-botol kosong di atas lemari, buku-buku yang belum habis kaubaca, atau memejamkan mata sambil mendengar lagu-lagu pengantar tidurmu.

Dari sini, dari ruang kamar kecilku, kubiarkan bayangmu lepas bebas menemaniku.

Advertisements

VII

Jika ia tak datang padaku, mungkin hariku tetap seperti selembar kertas yang tak juga ditulisi. Tapi tak dapat kuberikan apa yang boleh jadi ia harapkan. Meski berulang kali ia berkata, hanya ingin menyaksikan kebahagiaan memancar di sudut remang ini.

Tiap kali pagi kurasakan sebagai ketidakpastian yang lain, lagi-lagi ia datang dengan senyum riang, tulus menawarkan kehangatan. Tapi aku tak menginginkan bintang yang berpijar terang, melainkan sinar temaram bulan yang telah lama tak datang.

Jika kubaringkan tubuhku, lalu dengan tenang kurasakan tiupan angin di kamarku, maka kau seakan duduk di sampingku, menyanyikan sesuatu, entah apa itu, lagu pengantar tidur yang sendu, atau melodi dari masa lalumu. Tapi nyatanya, hanya suaranya di ujung sana, yang merangkulku dari lamunan semacam itu, seperti biasa.

Lalu aku melihatmu, bersandar di dinding itu, seperti pejalan yang lelah tapi masih punya ribuan alasan untuk melanjutkan langkah.

VI

Di hari bahagiamu
Aku akan datang dengan seribu kupu-kupu.

Kau cukup duduk di sana berdampingan seperti sepasang kilau cahaya yang penuh karunia.

Tak akan lagi kuceritakan tentang hujan yang pernah basah di tubuh kita. Secangkir kopi yang kauminum tergesa. Nyala kecil dari korek api pertama, yang kaunyalakan dengan senyum bahagia. Atau kata-kata yang kuucapkan lalu kaubalas dengan segenap keindahannya yang mempesona.

Ingatkah kau, malam selalu sedia memayungi kita dari keseharian yang meelelahkan. Meski gelap telah hadir memenuhi ruang di antara kita, langit seolah selalu punya warna lain, dan kita benam dalam keheningannya. Selalu kutunggu saat dimana dingin angin tak akan mampu mengusik kita.

Kadang kita berjalan jauh ke utara, terlindung dari hawa luar, dalam ruang kecil segiempat yang bergerak perlahan. Kadang kita berputar menuju selatan, tak peduli, penanda rumah telah berpuluh-puluh kilometer terlewati. Kau hanya tersenyum, dan aku masih punya cukup waktu sebelum pukul satu.

Tak pernah terduga, aku pernah mengenalmu, mengakrabi suaramu, dengan riang bernyanyi dari sudut kamarmu yang penuh kenangan. Sungguh tak terduga, aku pernah mengusap keningmu, melihatmu gemetar di depan pintu, lalu berlalu, dan dengan cemas kutunggu kabarmu, sebab hujan kian deras, angin tak peduli daun daun hijau muda berguguran dari pohon-pohon yang tak berdaya. Akhirnya kau sampai juga di rumahmu dan kembali kulenakan diriku dengan suaramu.

Di hari bahagiamu, aku akan datang dengan seribu kupu-kupu.
Juga waktu yang beku.