”Percayalah, Kamu Tidak Sendiri”

Saya sungguh bersyukur pada semesta. Di tengah aneka kejadian yang memilukan selalu ada setitik terang yang membahagiakan. Ya, persahabatan.

Saya tak tahu bagaimana harus melampaui saat-saat kritis beberapa waktu lalu tanpa kehadiran mereka. Mereka duduk berjam-jam hanya untuk mendengarkan keluh kesah yang seringkali tak penting sama sekali. Rela mengulurkan tangan jika saya memerlukan. Tak segan meminjamkan sapu tangan meski tak saya katakan. Selalu mengingatkan bahwa kenangan tak untuk diratapi, masa lalu tak untuk ditangisi. Tiap detik berdiri di samping saya, sambil tetap menyemangati.

Mereka seperti pilar penopang yang tetap setia meski dinding diri saya telanjur retak tak berdaya. Saya berdoa mereka tetap ada di sana sampai dinding itu utuh kembali dan saya siap mencatnya dengan warna-warna lain. Hingga akhirnya dinding itu harus runtuh seluruhnya oleh waktu yang barangkali serakah. Saya pun mencoba menjadi penopang yang sama untuk mereka semua.

Ya. Saya percaya, saya tidak sendiri.

One thought on “”Percayalah, Kamu Tidak Sendiri”

  1. Kadang saya sengaja memilih untuk sendiri, hanya berdialog dengan diri sejati. Mendengarkan kesedihannya, tangisan dan raungan geramnya. Sering, ketika telinga ini terlalu bising, saya ingin sepi, mendengar hanya ke dalam diri. Kesendirian bukan sunyi yang hampa dan kutuk. Ia ada karena kita perlu untuk memaknainya. Tie, kalo kesendirian menghampirimu lagi, sambut dan ia pun akan menjadi sahabat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s