VI

Di hari bahagiamu
Aku akan datang dengan seribu kupu-kupu.

Kau cukup duduk di sana berdampingan seperti sepasang kilau cahaya yang penuh karunia.

Tak akan lagi kuceritakan tentang hujan yang pernah basah di tubuh kita. Secangkir kopi yang kauminum tergesa. Nyala kecil dari korek api pertama, yang kaunyalakan dengan senyum bahagia. Atau kata-kata yang kuucapkan lalu kaubalas dengan segenap keindahannya yang mempesona.

Ingatkah kau, malam selalu sedia memayungi kita dari keseharian yang meelelahkan. Meski gelap telah hadir memenuhi ruang di antara kita, langit seolah selalu punya warna lain, dan kita benam dalam keheningannya. Selalu kutunggu saat dimana dingin angin tak akan mampu mengusik kita.

Kadang kita berjalan jauh ke utara, terlindung dari hawa luar, dalam ruang kecil segiempat yang bergerak perlahan. Kadang kita berputar menuju selatan, tak peduli, penanda rumah telah berpuluh-puluh kilometer terlewati. Kau hanya tersenyum, dan aku masih punya cukup waktu sebelum pukul satu.

Tak pernah terduga, aku pernah mengenalmu, mengakrabi suaramu, dengan riang bernyanyi dari sudut kamarmu yang penuh kenangan. Sungguh tak terduga, aku pernah mengusap keningmu, melihatmu gemetar di depan pintu, lalu berlalu, dan dengan cemas kutunggu kabarmu, sebab hujan kian deras, angin tak peduli daun daun hijau muda berguguran dari pohon-pohon yang tak berdaya. Akhirnya kau sampai juga di rumahmu dan kembali kulenakan diriku dengan suaramu.

Di hari bahagiamu, aku akan datang dengan seribu kupu-kupu.
Juga waktu yang beku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s