Saya Baca Puisi Saja

Baca Puisi Saja

Sepertinya banyak orang yang kian menyukai puisi. Dalam dua minggu ini saja ada banyak acara baca puisi. Salah satunya, Malam Puisi Jerman yang diselenggarakan Sabtu, 7 Maret lalu di Museum Sidik Jari. Sebanyak 7 pembaca membawakan puisi-puisi penyair Jerman, Paul Celan. Selain itu, ada pula diskusi perihal proses kreatif dan kecendrungan Celan sebagai penyair yang merasakan langsung pendudukan NAZI, berhadapan dengan kamar gas, pembakaran orang Yahudi, orkestra dalam kamp, dan hal-hal mengerikan yang membayangkannya pun saya tak sanggup.

Ada kemuraman, juga amarah yang ditulis dengan indah oleh Celan. Menurut Berthold Damhausser, itulah keunikan sekaligus keistimewaan penyair yang pernah didiagnosa skizofrenia ini. Hal yang paling tragis menurut saya adalah pernyataannya, ”Mengapa saya menulis dalam bahasa yang membunuh kedua orang tua dan saudara-saudara saya?!” Saya tak mampu memahami perasaannya itu. Yang pasti ada rasa bersalah, kebencian, ketidakberdayaan, yang melebur ibarat gumpalan hitam dalam dirinya. Dia ditemukan tiada di Sungai Seine. Banyak yang menduga ia bunuh diri karena berbagai persoalan batin yang menghantui sepanjang hidupnya.

Hm, banyak sekali noda hitam dalam halaman sejarah umat manusia (duh gawat nie bahasanya, hehe). Dan semua itu mengajarkan pada kita bahwa kecintaan terhadap sesuatu janganlah melebihi kecintaan kita pada kemanusiaan itu sendiri. Jadi daripada berperang untuk sesuatu yang tak nyata lebih baik kita baca puisi, atau jadi blogger saja, hehe…

WIE

Advertisements

”Percayalah, Kamu Tidak Sendiri”

Saya sungguh bersyukur pada semesta. Di tengah aneka kejadian yang memilukan selalu ada setitik terang yang membahagiakan. Ya, persahabatan.

Saya tak tahu bagaimana harus melampaui saat-saat kritis beberapa waktu lalu tanpa kehadiran mereka. Mereka duduk berjam-jam hanya untuk mendengarkan keluh kesah yang seringkali tak penting sama sekali. Rela mengulurkan tangan jika saya memerlukan. Tak segan meminjamkan sapu tangan meski tak saya katakan. Selalu mengingatkan bahwa kenangan tak untuk diratapi, masa lalu tak untuk ditangisi. Tiap detik berdiri di samping saya, sambil tetap menyemangati.

Mereka seperti pilar penopang yang tetap setia meski dinding diri saya telanjur retak tak berdaya. Saya berdoa mereka tetap ada di sana sampai dinding itu utuh kembali dan saya siap mencatnya dengan warna-warna lain. Hingga akhirnya dinding itu harus runtuh seluruhnya oleh waktu yang barangkali serakah. Saya pun mencoba menjadi penopang yang sama untuk mereka semua.

Ya. Saya percaya, saya tidak sendiri.

VI

Di hari bahagiamu
Aku akan datang dengan seribu kupu-kupu.

Kau cukup duduk di sana berdampingan seperti sepasang kilau cahaya yang penuh karunia.

Tak akan lagi kuceritakan tentang hujan yang pernah basah di tubuh kita. Secangkir kopi yang kauminum tergesa. Nyala kecil dari korek api pertama, yang kaunyalakan dengan senyum bahagia. Atau kata-kata yang kuucapkan lalu kaubalas dengan segenap keindahannya yang mempesona.

Ingatkah kau, malam selalu sedia memayungi kita dari keseharian yang meelelahkan. Meski gelap telah hadir memenuhi ruang di antara kita, langit seolah selalu punya warna lain, dan kita benam dalam keheningannya. Selalu kutunggu saat dimana dingin angin tak akan mampu mengusik kita.

Kadang kita berjalan jauh ke utara, terlindung dari hawa luar, dalam ruang kecil segiempat yang bergerak perlahan. Kadang kita berputar menuju selatan, tak peduli, penanda rumah telah berpuluh-puluh kilometer terlewati. Kau hanya tersenyum, dan aku masih punya cukup waktu sebelum pukul satu.

Tak pernah terduga, aku pernah mengenalmu, mengakrabi suaramu, dengan riang bernyanyi dari sudut kamarmu yang penuh kenangan. Sungguh tak terduga, aku pernah mengusap keningmu, melihatmu gemetar di depan pintu, lalu berlalu, dan dengan cemas kutunggu kabarmu, sebab hujan kian deras, angin tak peduli daun daun hijau muda berguguran dari pohon-pohon yang tak berdaya. Akhirnya kau sampai juga di rumahmu dan kembali kulenakan diriku dengan suaramu.

Di hari bahagiamu, aku akan datang dengan seribu kupu-kupu.
Juga waktu yang beku.

V

: ck

Ada yang telah retak, ada yang telanjur mengharap.
Ada yang tak jemu menunggu.

Saat kau bergelut dengan pekerjaan, tugas makalah saat kuliah, kemacetan, hingga akhirnya kelelahan, yang sesekali boleh jadi membosankanmu, akan kutulis sesuatu, sebab hanya dengan kata-kata kudapati kembali kenangan itu, kurasakan diri duduk di sisimu, menghibur, dan mengusap peluhmu.

Pernah kau berjanji mengajakku menyusuri jalan pegunungan yang memukaumu, tapi pagi telah berganti dengan embun yang lalu. Dan aku mungkin hanya kesegaran kemarin, yang bergelayut lesu pada daun coklat tua yang juga tak berdaya.

Kau mungkin akan tertawa atau justru kecewa, jika tahu, aku masih sering melewati jalan itu, menunggu sampai lampu merah menyala dua kali, lalu melaju dan berhenti di tempat itu, duduk di emperan yang sama, kadang menikmati cola, kadang hanya sekotak susu dingin, sebagaimana dirimu pernah ada di situ.

Kedatanganmu memang keindahan, tapi aku tak juga paham, apa makna kepergian dan perpisahan untukku. Apa benar ada isyarat tertentu, yang suatu hari akan kumengerti.
Mungkin aku memang hanya gadis kecil, dan yang kumiliki hanya ribuan impian tentang masa depan, yang selalu kucatat di buku kecilku. Tapi suatu saat pastilah aku bisa jadi seperti dirimu, seperti elang yang memenuhi angkasa, atau seperti pohon teduh yang dirindukan banyak pejalan.

Akan kembali kuucapkan selamat pagi pada hari yang telah jadi puisi.

IV

: Aston, 01.05. 09

Ketika merasa, jarak hanya sekian kilometer yang tertunda, kembali teringat sesuatu yang dulu telah tercatat. Kau dan aku duduk di ruang tunggu yang berlainan, sementara para pelayan bertopi merah jambu tak juga datang membawakan minuman. Masih saja ada angan, kau akan menunggu di jalan depan, datang dari pergulatan harian dengan penugasan, sembari melambai dan tersenyum tanpa beban.

Tapi waktu telah berlalu, berpuluh-puluh pekan lalu. Aku datang kembali setelahnya, kau juga duduk di meja kerjamu yang dulu, seperti biasa, tapi kita sudah lama tak saling menyapa. Sempat terlintas, kudatangi saja ruang itu, lalu seolah segalanya tetap sama, aku memanggilmu dan mengajakmu kembali menyusuri jalanan di utara.

Bukannya aku tak mau berhenti menunggu, hanya saja, ada sesuatu yang menahanku, yang membayang sedemikian rupa, yang melekat tak terlihat, namun begitu nyata terasa. Kau perjalanan, dan aku di dalamnya, melakoni tiap peristiwa, tanpa pernah tahu, kau berdiri di peron yang mana dan tiket untukku di gerbong ke berapa.

Bulan selalu berganti, seakan dengan riang ia menggelayuti diri ini, seakan aku adalah malam yang terkasih. Tapi aku bukan langit kelam, bukan pula pijar bintang, aku hanya seorang yang baru saja kehilangan.

Di sini, beberapa langkah dari tempatmu mungkin berdiri, kubayangkan kau di sisi, kupandang kau tak jemu, hingga pagi terbit lagi. Biar malam mengacaukan dirinya sendiri, sebab kau dan aku saling terikat dalam sunyi.

Hmph….
Tapi tetap saja, waktu adalah belenggu. Jalan adalah kenangan. Harapan adalah keniscayaan.

Kau di sudut ruang, berdoa dalam diam.