Wie… (II)

Dengan apa kututup kedua mata, jika segala yang nampak, adalah semua yang tak tersentuh.

Dengan apa kututup kedua pasang telinga, jika yang terdengar hanya gema yang dulu riang di ujung waktu.

Kedua tanganku hanya bayang kenangan yang tersipu, malu-malu melihat celah bisu di hatiku, diam-diam menggoda dengan ingatan yang selalu tentang harimu.

Sehari adalah kau yang menyapa pagiku. Sehari adalah kau yang tak ingin berkeluh sepi padaku. Sehari adalah kau yang bermain di ujung mimpiku. Sehari yang bukan milik siapapun.

Aku seperti batu yang apung di sungai entah, tak tahu kemana alir yang getir membawaku berlabuh.

Barangkali ikan-ikan akan menyambutku di kedalaman, membujukku tenggelam, tanpa pernah tahu betapa cerah jalinan cahaya matahari yang pernah kautawarkan padaku.

Matamu adalah lorong-lorong dengan seribu tikungan bersilangan, membawaku ke taman-taman, aneka hutan dengan harum rumputan, lalu membiarkanku menyusuri sendiri setapak jalan yang dipenuhi jejak murungmu.

Kau penyanyi, sekaligus dawai yang bermain sendiri. Kau irama juga jalinan nada-nada. Sedang aku, hanya penikmat yang telanjur tersesat dalam keindahanmu.

Tak ingin kukabarkan tentang kepedihan. Sebab kau adalah kelengangan yang indah. Sedang aku hanya kumpulan kata penghibur yang resah, di celah terhening mimpi malam harimu.

Tak ingin kukabarkan tentang hari yang jadi pasi, tentang malam yang cemas sendiri, atau sehelai kertas yang tak juga jadi puisi.

Kini aku tak cukup mampu berseru, hanya berulang berbisik pada waktu.


2 thoughts on “Wie… (II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s