Terima Kasih

Beberapa hari terakhir ini, boleh jadi saya adalah orang yang paling menyebalkan sedunia (setidaknya di mata teman-teman saya). Ke sini salah, ke sana tak betah, ke manapun hanya membuat perasaan gundah saya bertambah parah, padahal ujian lab menunggu di depan hari. Mengunjungi blog sendiri pun saya jadi enggan. Meski, setiap kali sebelum tidur selalu ada coretan-coretan yang ingin saya sampaikan.

Setelah mengirim email untuk bibi saya di tempat yang jauh, saya pun membaca situs teman-teman, berharap menemukan sedikit keriangan di sana. Akhirnya saya sampai di blog seseorang, yang beberapa waktu lalu selalu ada untuk saya, menemani sekaligus memberi arti yang sungguh dalam pada hari-hari saya. Saya sempat terdiam sejenak, membaca judul postingan, yang ditulis tepat pada hari ulang tahunnya. Mungkin itu adalah salah satu caranya untuk merayakan hari yang menurut saya begitu istimewa.

Saya pun mulai membacanya.

Kata per kata yang menyusun tiap kalimat, lalu berpadu menjadi jalinan alinea yang akhirnya menjadi sebuah tulisan yang penuh makna saya lewati, bagai melintas di atas jalan setapak yang lembab di tengah rimba hutan yang sejuk namun penuh kedalaman misteri dan keajaiban.

Mulanya, saya bahagia atas apa yang ia pikirkan saat ini. Caranya mensyukuri segala hal yang ia alami, anugerah yang ia dapatkan juga hikmah dari berbagai masalah yang seringkali ia temui. Ada gairah semangat di sana. Semangat untuk terus melangkah ke depan. Ada optimisme, yang memang jadi sifat dasar dirinya yang saya kagumi.

Tetapi, seperti hutan yang menyimpan rahasia di balik keheningannya, demikian pula dia, saya merasakan ada kepedihan yang luar biasa di sana. Rasa sendu yang mengikuti tiap baris kalimat yang penuh kepercayaan akan kenyataan masa depan itu. Tanpa saya sadari lelehan basah menggenang di wajah saya, lagi. Jalan saya seperti terhalang entah oleh apa. Saya menemukan kebahagiaan sekaligus kerapuhan dalam tulisannya. Saya melihat dia, begitu jelas, berdiri di ujung gang, di tengah remang lampu jalanan. Saya tak pernah tahu, benarkah saya yang ada dalam pandangnya itu, entah ia tersenyum atau ingin mengucapkan sesuatu. Saya sungguh tak pernah tahu.

Sedari awal perjumpaan dengannya, saya merasakan hal itu, tercermin dari matanya, meski dengan lihai coba ia tutupi. Saya pun mencoba mengingkarinya pula karena saya pikir itu baik baginya, setidaknya untuk saat itu. Tapi kali ini, ketika saya membaca tulisannya, menyelami tiap kata di dalamnya, menyusuri ruang-ruang ekspresi yang muncul, timbul tenggelam dari balik baris kalimat-kalimat tersebut, tetap saja saya temukan kehampaan, rasa nelangsa yang benar-benar menyesakkan. Semacam kepasrahan yang lahir dari sesuatu yang sampai saat ini sungguh tak saya mengerti, mungkin karena saya memang belum pernah merasakan apa yang pernah ia alami. Kepasrahan yang muncul begitu saja, seperti teratai yang menyembul dari lumpur lalu menunjukkan keberadaannya yang halus. Begitu pula kepasrahan itu, tak terjangkau oleh saya, tapi ada dan nyata dalam dirinya.

Saya pun paham, kini ia telah jadi pribadi yang utuh, justru karena aneka peristiwa memilukan yang ia alami. Ia begitu matang, melihat dunia dari sisi – sisi yang tak terduga, sisi – sisi yang mungkin saja diabaikan oleh orang-orang lain di sekitarnya. Saya melihat itu semua sebagai sebuah anugrah untuknya, tapi saya tak dapat acuh begitu saja pada kehampaan yang tersimpan di balik kalimat-kalimat penuh impian itu.

Saya rindu di dekatnya, rindu mendengar suaranya. Meski kadang-kadang saya hanya menatapnya, dan cerita yang ia sampaikan menguap begitu saja dengan udara, lalu yang ada hanya sinar lembut matanya, kelembutan dan kekuatan yang tertata, beradu berimbang sedemikian rupa, sesuatu yang memikat lalu menenggelamkan saya dalam perasaan yang aneh, atau unik, atau apalah tepatnya, yang pasti sesuatu yang begitu jarang saya rasakan. Entah kenapa ketika menatapnya lama, saya seperti mencoba merenggut perhatiannya dari sesuatu, saya ingin ia melihat saya, melihat mata saya, tapi ketika ia melakukannya, saya diresapi suatu kesenduan, kesenduan yang entah bagaimana membuat saya sayang. Kesenduan yang bukanlah miliknya.

Saya seperti berjarak hanya oleh sehela napas dengannya, namun seberapapun kuatnya saya julurkan tangan, saya tetap tak mampu menyentuhnya, bahkan hanya untuk memanggilnya. Ia seperti elang, yang melepas bebas ke angkasa sekaligus seperti dahan yang rapuh, yang dapat dengan mudah gugur dibawa angin. Dan ketika saya membaca tulisannya itu, saya kian yakin bahwa ia adalah dahan yang rapuh, ia juga adalah elang yang tangguh, elang yang terbang tanpa bimbang meski dengan kesedihan masa silam yang tak terbaca oleh siapapun, termasuk saya.

Tulisannya itu pula yang membuat saya menemukan kembali gairah diri, juga kenyataan hari yang beberapa waktu terakhir ini saya abaikan. Karena itu, esok, saya akan minta maaf pada kawan-kawan saya, juga pada matahari yang saya umpat berkali-kali.

Tak lupa, saya berdoa, semoga yang terbaik selalu jadi harinya. Semoga Tuhan memberinya limpah anugerah dan jalan pencerahan sehingga ia bisa melewati tiap waktu yang begitu berharga dengan riang gembira. Semoga saat saya punya kesempatan bertemu dengannya lagi, entah dalam waktu dekat atau waktu yang tak terhingga lamanya, saya tak lagi melihat kehampaan atau rasa nelangsa yang begitu apik ia tutupi, tetapi binar kebahagian yang bersinar dan membuat semua orang di sekitarnya bahagia, karena itulah yang ia lakukan selama ini terhadap saya yang peragu ini. Ia membuat saya tertawa lepas, mengajari saya melihat diri dan hari dari segala sisi, juga menebarkan semangat yang sungguh saya perlukan di saat-saat kritis saya seperti sekarang ini. Saya masih ingin belajar banyak hal padanya. Meski sekarang sudah lama tak berkabar padanya, ada keyakinan yang melekat dalam diri saya bahwa, orang yang baik seperti dia akan selalu mendapatkan kebaikan, dikarunia keberuntungan, kapanpun dan di manapun ia berada, meski dera badai masalah akan berkali – kali menghujamnya. Itulah yang membuat saya tenang, keyakinan bahwa ia pastilah baik-baik saja.

God bless you

8 thoughts on “Terima Kasih

  1. @jer: ada apakah gerangan nie? hehe
    @imsuryawan : selamat ya🙂
    @Bli WIra: hahaha, kasian deh yang dibonceng di belakang tu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s