Hanya Hujan

Hanya hujan di luar yang tahu dingin dinding kamar, tempatku berbaring sendiri, dengan selimut biru, boneka beruang kecil bermata sayu, serta iringan lagu-lagu. Dion, Enya, Vanessa, atau Vina, mengalun hening nyanyian ke seluruh ruang, terasa sama ketika mendengarmu bersenandung di sampingku.

Aku ingin jadi pelupa. Karena tak bisa kubebaskan hariku tanpa mengingatmu. Aku ingin jadi pemabuk, biar lepas semua renungku. Karena tak dapat kukatakan apa yang tersimpan, apa yang tertahan.

Aku berjalan. Melanjutkan langkah yang sempat tertunda. Tapi wajahku selalu menoleh ke belakang. Mungkin aku berharap kau berlari ke arahku, memanggilku tak jemu di antara sela napasmu yang memburu. Lalu kita akan berjalan bersama-sama, saling berpeluk, sampai habis jalan simpang terakhir. Kemudian kita habiskan sisa senja dengan memandang cahaya yang menggenang atau lintasan burung burung pulang ke sarang juga benamnya matahari yang tergantikan nyala bintang dan sinar bulan yang pendiam.

Mungkin kita akan sampai di pinggir danau, melihat sampan yang menjauh, menjauh bersama langit yang meremang. Merasakan tiupan lembut angin. Kau kibaskan helai daun di rambutku lalu membiarkannya jatuh ke jalan beraspal yang seperti memutih karena kabut menjalar pelan. Atau mungkin saja kita akan sampai di antara lindungan pohon cemara. Duduk di salah satu bangku coklat yang lembab. Menyaksikan gugusan bukit dengan jalan-jalan kecil yang asing. Atau sebuah sungai yang sungguh indah di musim ini. Mungkin kita bisa bertelanjang kaki, membiarkan alir air mengusap lembut telapak dan jari-jari kaki kita. Jika beruntung bisa saja kita lihat ikan kecil kelabu tua berenang riang di sela batuan hijau lumut. Kau cukup tersenyum, lalu biarkan aku lunglai di pundakmu.

Tak ada dinding pembatas. Tak ada ruang tunggu penuh kursi kelabu. Tapi tiap kali harus kaubiasakan diri dengan guyur rindu atau rasa bosan di antara kerumunan yang juga menunggu. Jika hari itu aku tak datang, tak pernah bertemu dan mengenalmu, adakah hari di mana kita berjanji, merayakan keriangan dengan sebatang korek api, lalu berhenti di sudut jalan membaca cuaca yang menyenangkan, saling menerka di malam ke berapa kita mungkin akan memahami semuanya.

Namun, sesering apapun kutolehkan wajah, sebanyak itu pula aku kecewa. Kau tak ada.

Dan waktu pun telah menjauhkanmu dariku.

P.S I do miss u

Advertisements

Sebuah Taman

Ada yang membayang di ujung jalan ini
sesuatu yang tak selesai
berdesir
bukan angin yang semilir
bukan pula gerimis di musim dingin.

Ada sayat hari yang tertinggal di sini
Sepasang wajah berbagi tatap
mencari genang cahaya
di antara kenangan
yang melintas bersilangan.

Ada kau dan aku di sini
mengunjungi setiap taman
menciumi aneka rupa bunga
tanpa tahu
mawar mana yang rela menanggalkan durinya
untuk seekor kupu-kupu sesat
yang kehilangan kekasihnya

Adakah matamu yang menatapku?
Menghujaniku dengan haru pilu penuh sendu
saat aku terjaga oleh mimpi
tentang malaikat bersayap kelabu
yang mirip dirimu, mirip kupu-kupu itu

Andai saja tiap pelukan terulang
tiap ciuman abadi dalam keheningan
maka kau dan aku
cukup punya sebuah taman
untuk satu impian.

Cerita Untuk Bandung

: Anggaranu

Paris van Java. Dari jauh saya bayangkan ia sebagai kota yang teduh, kota yang keibuan, kota tentram dengan hawa segar yang memenuhi tiap jalan dan rumah-rumah beratap coklat.

Tentu di sana ada sebuah taman, lengkap dengan bangku mungilnya, serta lampu bulat yang memancarkan cahaya kuning pucat bila petang datang. Senja pun tiba dengan sempurna. Saya akan duduk di sana. Dan ada kamu, kawan, duduk dengan buku-buku di tangan. Sesekali tersenyum pada saya yang tak henti memandang jatuhnya sinar merah muda dari langit barat lalu merambat di antara daun daun akasia hijau muda.

Dari sini saya bayangkan ia sebuah kota yang tercipta, untuk para pejalan jauh, yang tiba-tiba merindukan keteduhan sebuah rumah. Berdiri lama di depan halaman entah milik siapa, lalu mendengarkan Long Ride Home—Patty Griffin dari radio tua tanpa antena.

”Bandung dingin”, ujarmu kawan. Sedang di sini lagu Raindrops In My Coffee mengalun dan dengan lembut menemani saya yang membayangkan kedinginan serupa di sana. Nyanyian itu adalah keindahan yang berharga, sebentuk waktu yang dilantunkan pelan namun dalam di antara lirik lirik dan nada nada yang berjalinan.

Kawan, mulai saat ini, jika saya sedang tertawan dalam kenangan yang menyakitkan, saya punya satu cara, mendengarkan Bob Dylan, sambil memikirkan kapan saya akan berjalan menyusuri trotoar kotamu, mencecap dingin yang menyenangkan, lalu membawa sejuk yang sama kemari, ke dalam kamar kecil saya, menemani boneka beruang kecil yang selalu sabar menghadapi saya.

Makan Itu…

Lapaaaar!!!

Niat untuk fokus pada sesi lecture yang baru berlangsung 20 menit, kandas sudah. Dengan lunglai saya rebahkan sejenak kepala saya di punggung kawan di depan (kursi lab tak ada tatakan punggungnya L ).

”Laper, Kun.”

Cling! Seketika, dengan ekspresi datarnya yang biasa, kawan saya menoleh lalu berbisik, ”Kamu belum makan?”

Sambil menatap dosen yang sedari tadi asyik berkutat dengan materinya, (tanpa tahu beberapa mahasiswa, termasuk saya, sedang berjuang melawan rasa ngantuk dan lapar) saya berkata pelan,”Nggak keburu. Abis nganter surat, dosennya udah dateng duluan”.

Lalu, sekian detik kemudian, dengan ekspresi yang tetap sama, ia mengulurkan tangannya ke belakang. Huff, mata saya seketika berbinar ketika yang saya lihat di genggamannya adalah sebungkus coklat delf* yang begitu menggiurkan. Dengan sigap saya ”rampas” coklat itu, dan tanpa ba bi bu langsung saya masukkan ke mulut dan melumatnya cepat-cepat. Segera setelah saya nikmati coklatnya itu, saya mendekatkan kursi ke depan lalu berujar, ”Trims Kun”, dengan senyum manis penuh rasa terima kasih, hehe.

LALU, APA SEBENARNYA ESENSI DARI CERITA INI???

Yup! Makan itu penting, no doubt!

Sebanyak apapun aktivitas keseharian kita, sedikit apapun waktu istirahat yang kita miliki di tengah agenda yang begitu padat, sempatkanlah 10 – 15 menit untuk makan. Jangan sekali kali mengenyampingkan urusan yang satu ini. Memang, dampak negatifnya mungkin tidak akan terasa di masa kini, tapi selang beberapa waktu kemudian, kebiasaan makan yang tidak teratur akan mengakibatkan berbagai persoalan kesehatan. Dapat dipastikan, seluruh aktivitas yang telah terencana masak-masak, akan tertunda bahkan gagal seketika. Oleh karena itu, bila perlu, kita cari informasi mengenai pola makan yang baik berikut asupan-asupan yang penting dan seimbang. Kemudian, segera biasakan diri untuk memulai kebiasaan makan sehat yang teratur. Belum terlambat untuk memulainya detik ini.

Penyiar Cantik

Ketika duduk di kelas II SMA, saya sempat menjadi 20 besar BC Riders yang diselenggarakan secara berkala oleh BC FM. Malangnya, saya tak lolos menjadi 10 besar yang berkesempatan menjadi penyiar pemula di siaran radio anak muda itu. Saat itu, perhatian saya lebih terfokus pada kelancaran pementasan teaterisasi puisi di GATEL (Gelar Teater La Jose). Untungnya, kekecewaan karena menerima kabar bahwa saya tidak terpilih terbayarkan oleh pementasan yang sukses dan menuai banyak pujian dari penonton. Saya dan para pemain juga teman-teman Teater Angin dengan riang mengurai proses kreatif kami dalam penggarapan teaterisasi puisi tersebut pada sesi evaluasi.

Nah, beberapa waktu kemudian, ketika duduk di bangku kuliah, ada program Medical Corner (saya lupa jam siarannya). Namun, entah kenapa, saya selalu berhalangan untuk turut berpartisipasi, dan seperti biasa, saya pun lupa pada niat untuk itu. Sampai akhirnya, beberapa waktu lalu, seorang teman mengajak saya untuk siaran di sebuah radio. Tentu saya senang menerima kabar itu.

Topik yang akan diperbincangkan adalah Haiku (puisi tradisional Jepang). Sebelumnya saya dan kawan-kawan memang mengikuti workshop Haiku yang digelar Alliance Francaise Denpasar di bilangan Renon. Saya pun bersemangat mengingat – ingat kembali materi Haiku yang disampaikan dalam workshop. Namun, sehari sebelumnya, teman saya itu mengatakan bahwa kami harus menggunakan bahasa Inggris. Tentu saya terkejut sekaligus takut, karena meski sejak SD mendapat pelajaran Bahasa Inggris, kemampuan berbahasa lisan yang saya miliki masih sangat minim. Akan tetapi, dengan dorongan kawan saya itu, akhirnya saya menuju RRI Denpasar, menuju ruang Paradise FM yang tampak asing.

Ternyata, semuanya tak sesukar yang saya bayangkan. Si penyiar, yang tentu sudah berpengalaman, dengan lihai memandu acara. Ketika saya dan dua kawan lainnya mandeg, dengan cepat ia mengambil alih. Sempat saya tertegun, mendengar kefasihan sekaligus kepiawaian Eka, penyiar radio tersebut.

2 jam pun lewat tak terasa. Mulanya memang ada rasa gugup, menuturkan definisi, struktur klasik dan sejarah mula dari Haiku dengan bahasa Inggris, tapi semakin lama, semuanya terasa mengalir. Dengan tenang kami mengutarakan kedalaman pada kesederhanaan kata-kata dalam Haiku. Awal mula tumbuhnya Haiku di Jepang sampai perkembangannya di masa sekarang. Bagaimana peristiwa seperti daun yang jatuh ditiup angin bisa membuat seorang penyair menulis sajak yang tak hanya indah tapi juga menyimpan berbagai makna. Nah, selain berbagi wawasan mengenai Haiku, kami juga sempat membaca Haiku dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang (meski saya tak menguasainya).

Hm, yang pasti pengalaman saat itu sangat menyenangkan, meski cuma sekali. Hehe…

Terima Kasih

Beberapa hari terakhir ini, boleh jadi saya adalah orang yang paling menyebalkan sedunia (setidaknya di mata teman-teman saya). Ke sini salah, ke sana tak betah, ke manapun hanya membuat perasaan gundah saya bertambah parah, padahal ujian lab menunggu di depan hari. Mengunjungi blog sendiri pun saya jadi enggan. Meski, setiap kali sebelum tidur selalu ada coretan-coretan yang ingin saya sampaikan.

Setelah mengirim email untuk bibi saya di tempat yang jauh, saya pun membaca situs teman-teman, berharap menemukan sedikit keriangan di sana. Akhirnya saya sampai di blog seseorang, yang beberapa waktu lalu selalu ada untuk saya, menemani sekaligus memberi arti yang sungguh dalam pada hari-hari saya. Saya sempat terdiam sejenak, membaca judul postingan, yang ditulis tepat pada hari ulang tahunnya. Mungkin itu adalah salah satu caranya untuk merayakan hari yang menurut saya begitu istimewa.

Saya pun mulai membacanya.

Kata per kata yang menyusun tiap kalimat, lalu berpadu menjadi jalinan alinea yang akhirnya menjadi sebuah tulisan yang penuh makna saya lewati, bagai melintas di atas jalan setapak yang lembab di tengah rimba hutan yang sejuk namun penuh kedalaman misteri dan keajaiban.

Mulanya, saya bahagia atas apa yang ia pikirkan saat ini. Caranya mensyukuri segala hal yang ia alami, anugerah yang ia dapatkan juga hikmah dari berbagai masalah yang seringkali ia temui. Ada gairah semangat di sana. Semangat untuk terus melangkah ke depan. Ada optimisme, yang memang jadi sifat dasar dirinya yang saya kagumi.

Tetapi, seperti hutan yang menyimpan rahasia di balik keheningannya, demikian pula dia, saya merasakan ada kepedihan yang luar biasa di sana. Rasa sendu yang mengikuti tiap baris kalimat yang penuh kepercayaan akan kenyataan masa depan itu. Tanpa saya sadari lelehan basah menggenang di wajah saya, lagi. Jalan saya seperti terhalang entah oleh apa. Saya menemukan kebahagiaan sekaligus kerapuhan dalam tulisannya. Saya melihat dia, begitu jelas, berdiri di ujung gang, di tengah remang lampu jalanan. Saya tak pernah tahu, benarkah saya yang ada dalam pandangnya itu, entah ia tersenyum atau ingin mengucapkan sesuatu. Saya sungguh tak pernah tahu.

Sedari awal perjumpaan dengannya, saya merasakan hal itu, tercermin dari matanya, meski dengan lihai coba ia tutupi. Saya pun mencoba mengingkarinya pula karena saya pikir itu baik baginya, setidaknya untuk saat itu. Tapi kali ini, ketika saya membaca tulisannya, menyelami tiap kata di dalamnya, menyusuri ruang-ruang ekspresi yang muncul, timbul tenggelam dari balik baris kalimat-kalimat tersebut, tetap saja saya temukan kehampaan, rasa nelangsa yang benar-benar menyesakkan. Semacam kepasrahan yang lahir dari sesuatu yang sampai saat ini sungguh tak saya mengerti, mungkin karena saya memang belum pernah merasakan apa yang pernah ia alami. Kepasrahan yang muncul begitu saja, seperti teratai yang menyembul dari lumpur lalu menunjukkan keberadaannya yang halus. Begitu pula kepasrahan itu, tak terjangkau oleh saya, tapi ada dan nyata dalam dirinya.

Saya pun paham, kini ia telah jadi pribadi yang utuh, justru karena aneka peristiwa memilukan yang ia alami. Ia begitu matang, melihat dunia dari sisi – sisi yang tak terduga, sisi – sisi yang mungkin saja diabaikan oleh orang-orang lain di sekitarnya. Saya melihat itu semua sebagai sebuah anugrah untuknya, tapi saya tak dapat acuh begitu saja pada kehampaan yang tersimpan di balik kalimat-kalimat penuh impian itu.

Saya rindu di dekatnya, rindu mendengar suaranya. Meski kadang-kadang saya hanya menatapnya, dan cerita yang ia sampaikan menguap begitu saja dengan udara, lalu yang ada hanya sinar lembut matanya, kelembutan dan kekuatan yang tertata, beradu berimbang sedemikian rupa, sesuatu yang memikat lalu menenggelamkan saya dalam perasaan yang aneh, atau unik, atau apalah tepatnya, yang pasti sesuatu yang begitu jarang saya rasakan. Entah kenapa ketika menatapnya lama, saya seperti mencoba merenggut perhatiannya dari sesuatu, saya ingin ia melihat saya, melihat mata saya, tapi ketika ia melakukannya, saya diresapi suatu kesenduan, kesenduan yang entah bagaimana membuat saya sayang. Kesenduan yang bukanlah miliknya.

Saya seperti berjarak hanya oleh sehela napas dengannya, namun seberapapun kuatnya saya julurkan tangan, saya tetap tak mampu menyentuhnya, bahkan hanya untuk memanggilnya. Ia seperti elang, yang melepas bebas ke angkasa sekaligus seperti dahan yang rapuh, yang dapat dengan mudah gugur dibawa angin. Dan ketika saya membaca tulisannya itu, saya kian yakin bahwa ia adalah dahan yang rapuh, ia juga adalah elang yang tangguh, elang yang terbang tanpa bimbang meski dengan kesedihan masa silam yang tak terbaca oleh siapapun, termasuk saya.

Tulisannya itu pula yang membuat saya menemukan kembali gairah diri, juga kenyataan hari yang beberapa waktu terakhir ini saya abaikan. Karena itu, esok, saya akan minta maaf pada kawan-kawan saya, juga pada matahari yang saya umpat berkali-kali.

Tak lupa, saya berdoa, semoga yang terbaik selalu jadi harinya. Semoga Tuhan memberinya limpah anugerah dan jalan pencerahan sehingga ia bisa melewati tiap waktu yang begitu berharga dengan riang gembira. Semoga saat saya punya kesempatan bertemu dengannya lagi, entah dalam waktu dekat atau waktu yang tak terhingga lamanya, saya tak lagi melihat kehampaan atau rasa nelangsa yang begitu apik ia tutupi, tetapi binar kebahagian yang bersinar dan membuat semua orang di sekitarnya bahagia, karena itulah yang ia lakukan selama ini terhadap saya yang peragu ini. Ia membuat saya tertawa lepas, mengajari saya melihat diri dan hari dari segala sisi, juga menebarkan semangat yang sungguh saya perlukan di saat-saat kritis saya seperti sekarang ini. Saya masih ingin belajar banyak hal padanya. Meski sekarang sudah lama tak berkabar padanya, ada keyakinan yang melekat dalam diri saya bahwa, orang yang baik seperti dia akan selalu mendapatkan kebaikan, dikarunia keberuntungan, kapanpun dan di manapun ia berada, meski dera badai masalah akan berkali – kali menghujamnya. Itulah yang membuat saya tenang, keyakinan bahwa ia pastilah baik-baik saja.

God bless you