Untuk Sebuah Percakapan

: di D’Uma, Sanur/20.02.09

Bukan hal yang mudah, menahan diri untuk tidak menyimpan harapan. Bukan hal yang mudah pula, menerima kekecewaan sebab tak terwujudnya harapan itu. Namun, segalanya mungkin akan bertambah sukar bila membiarkan diri terlunta dalam perasaan itu. Sedih, putus asa, merasa tak berdaya, dan tak berharga.

Ketika kita mengharapkan sebuah pertemuan di suatu tempat dengan orang yang tepat, semangat seakan meluap-luap dan dengan girangnya kita menanti-nanti hal itu. Malangnya, saat waktu yang ditunggu-tunggu tiba, detik berubah menit, menit menjadi jam, dan tak terasa sudah saatnya pulang, pertemuan yang dinantikan tak kunjung terlaksana, karena orang yang lalu lalang bukanlah ia yang tepat, bukanlah ia yang ditunggu. Alhasil, keriangan yang sebelumnya merona bagai pijar yang menyala, meredup menjadi rasa kecewa dan hampa.

Apakah ini pernah terjadi pada orang-orang lain? Atau, jangan-jangan semua orang pernah mengalami hal yang sama? Bedanya, tentu saja ada pada bagaimana kiranya mereka mengatasi hal tersebut. Apakah dengan terus menerus menumbuhkan harapan untuk sebuah pertemuan yang dirindukan; apakah dengan melupakan, lalu membiarkannya berlalu begitu saja; apakah dengan berdiam diri menunggu saat-saat yang lain, menunggu orang-orang tepat yang lain; atau hanya dengan tertawa?

Di sana, suara musik mengambang dari ruang sebelah dalam. Barisan orang mengantri dengan kartu kuning kecil di genggaman. Orang-orang datang, duduk di meja-meja dan dengan tenang menunggu pesanan. Seorang dengan kamera di tangan mengambil gambar-gambar dari setiap sudut, yang lain dengan sungguh merekam aneka kejadian. Beberapa perempuan menggandeng mesra lengan pasangannya, tersenyum malu-malu lalu membenahi jalinan rambutnya sambil menoleh sesekali ke kanan dan kiri. Sekelompok lelaki terdiam, ada botol-botol bir di atas meja mereka.

Di arah yang lain, ada yang demikian asyik berbincang, terdengar samar suara tawa mereka, beradu dengan kesibukan orang-orang yang entah melakukan apa. Adapula yang saling menyapa di tengah keramaian, seperti dua orang kawan lama yang terpisahkan dan bertemu setelah sekian waktu yang panjang. Di sebelah utara, seorang lelaki dan perempuan duduk berdampingan, masing-masing memandang kotak tissue di depannya, apakah mereka sepasang kekasih yang tengah bersilang pendapat, tak ada yang peduli.

Angin bertiup dari areal persawahan di sebelah, lampu-lampu terlihat, menyala di tengah kegelapan yang meluas. Masih belum rupanya. Tapi waktu terus bergerak. Dan saya harus berjalan, melangkah pelan ; kepulangan.

Tiba di rumah, rebah sebentar di ranjang, lalu duduk beralas tikar di kamar dan mengurai pikiran. Itulah yang sedang saya lakukan sekarang, saat pertemuan itu ternyata hanya sebatas mimpi semalam, dan menguap begitu hujan datang, melimpahkan hawa dingin dan suara deras air. Setelah ini, saya akan menjawab beberapa pesan singkat dari teman-teman, mengingatkan jadwal praktikum untuk kawan satu kelompok, lalu membaca buku favorit pada bagian yang paling saya sukai (Kuil Kencana, Yukio Mishima), sambil menunggu kantuk dan akhirnya tertidur. Esoknya, bangun di hari Sabtu yang cerah, dan menikmati akhir pekan dengan hal-hal yang menyenangkan.

SEMANGAT!!!

4 thoughts on “Untuk Sebuah Percakapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s