Akhir Januari

: pri Nugraha

Kita tinggal di sebuah kota. Jalan yang riuh. Lampu – lampu kuning teduh, menyala bergantian tiap malam. Taman dengan pohon akasia. Gedung – gedung tinggi berjendela lebar. Dan orang – orang yang tak pernah bertegur sapa.

Kita berjalan bersisian. Menyusuri jalan kecil kota ini. Menyaksikan kilas awan bergerak pelan, menyisakan sedikit pijar bintang, menerangi langkah-langkah kita, yang tak juga lelah.

Kau dan aku menyukai malam, juga mengagumi hujan.

Kadang kita saling memeluk, saat angin bertiup, membawa hawa dingin. Kadang kita hanya terdiam, mendengarkan gerak daun dan suara-suara samar yang terbawa udara dari kejauhan. Seringkali kita bicara tak karuan, tentang utara, tentang pagi yang menyenangkan, malam yang menyimpan kehampaan, serta masa silam yang penuh kenangan.

Kita sama-sama mencari.

Kekasihmu datang, suatu pagi. Dari negeri di Selatan, ia kembali dengan tawa yang sering kauangankan. Dan kau berlalu, sebentar saja, katamu.

Akhir januari, di bangku yang biasa, kuhabiskan malam. Di bawah pohon yang sama, kusaksikan bulan. Di malam yang sama, kudekap hati sendiri yang gigil. Di bawah hujan yang sama, kubiarkan luka menganga.

8 thoughts on “Akhir Januari

  1. “Kau dan aku menyukai malam, juga mengagumi hujan.
    Kadang kita saling memeluk, saat angin bertiup, membawa hawa dingin.”

    duh,.

  2. entah aku menengok beberapa kali, tp dia tetap berjalan lurus.. dan kami pun berpisah di persimpangan itu..
    bagaimana awal februari?

    *kita manggang lg yuk.. lalu bercerita bodoh lg.. hahaha*

  3. Luka yang dibiarkan menganga ya? Agar sembuh dengan sendirinya atau agar seseorang datang untuk menyadarinya dan menyembuhkannya? Atau malah keduanya? Atau tidak sama sekali? Ahhh, luka hanya luka. Seperti daun jatuh. Sekarang disapu, besok tumbuh lagi.

  4. @gdw : setujuuuuuuuuuuuuuuuuu! wah tapi kayanya ga ada sms konyol lagi yang bisa diceritakan lalu ditertawakan,😦
    Hm, mesti cari ide buat kebodohan yang lain nie, hehe

    @ bli arya : “seseorang datang untuk menyadarinya dan menyembuhkannya”
    itu yang saya inginkan, karena setalah saya biarkan tetap demikian, nganga luka itu kian dalam, samapi2 perban di rumah habis untuk membalutnya… hehe:)

  5. “mari kita sepakati bahwa malam hanya siang tanpa matahari…. jika kau inginkan sinar, kupas saja bintang biar terang…. jangan menyembah matahari yang menghanguskan….”

    Hai Adikku yang luar biasa, aku sangat merindukan ketika puisi mengalun dari derik kerongkongan, diantara mata-mata penyair hahaha…. mungkin itu hanya cerita lama, tapi aku menyimpannya dengan sangat rapi….. bisa kuputar kapan pun kumau…. bunga rumput di Art Center, aromanya serupa angklung tua….ingin ku dengar lagi alunan itu……..

  6. @bli Su : hm iya beli, rindu juga berkumpul bersama. apalagi bli akan berangkat ke Australia Juni ini kan…
    semoga keindahan puisi memberi makna yang lebih kaya pada kita, juga doa yang tulus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s