17 Januari

sunSore itu aku tak punya kata. Tak pula mampu mencari cari sapaan yang tepat untukmu. Kau pun mengucapkannya juga. Dan aku tak merasakan apa – apa. Sore yang pucat lewat begitu saja. Malam seakan menungguku menjadi bagian kelengangannya. Aku tetap duduk di situ. Melihat lagi, membaca lagi, apa yang kauucapkan tadi.

Ada yang tak pernah kita sadari. Mulanya, semua terjadi begitu saja. Kau maupun aku menikmatinya, mungkin dengan cara yang berbeda. Ada yang coba kupungkiri, namun semakin mencobanya, hal itu kian memenuhi pikiranku.

Aku masih menulis, seperti ini, di malam hari. Tersimpan kelengangan pada tiap suara yang kudengar dari sudut kamarku. Celoteh orang rumah, petikan gitar adikku, suara TV, tik tok jam, gonggong anjing sesekali di kejauhan, bunyi serangga yang entah sembunyi di mana dan deru kendaraan yang menghilang samar begitu cepat.

Saat aku lelah rebah, kubuka tirai dan dengan sedikit enggan kusaksikan malam dari jendela kamarku. Terbayang seseorang di situ, melambai minta dibukakan pintu. Tapi, seperti biasa, itu hanya sekilas angan, yang tak nyata.

Malamku pun lewat seperti ini saja…

Ada yang ingin kutanyakan padamu, mungkin nanti bila ada sedikit waktumu untukku. Dan saat ini meski aku berharap segera lelap, mata ini tetap saja enggan terpejam.

Selamat malam, Matahari…

3 thoughts on “17 Januari

  1. Dunia sudah kelebihan kata-kata tanpa makna.. tapi setiap kata-kata mu mempunyai banyak makna.. Keep blogging sist..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s