Happy ENding :)

Bulan seperti kelana kesepian. Menyusuri langit tiada batas. Sungguhkah ia berumah di suatu tempat di atas sana.

Dari sebuah jendela kecil, seorang gadis tak bosan-bosannya memandangi langit, berharap bulan akan datang, menemaninya menghabiskan malam, memberi hangat pada tubuh mungilnya yang gigil.

Tapi bulan terlalu kesepian untuk menyadari tatap lembut si gadis.

Ia terus saja berputar, kadang merendah, kadang dengan angkuh jauh ke atas. Sedang si gadis, masih tengadah dari jendela kamarnya. Menjalin rambut panjangnya, sambil bersenandung, menatap bulan dari sudut tempatnya duduk.

Malam ke-16, bulan tak muncul, tak seperti biasa. Sedang ratusan bintang menawarkan terang cahaya pada si gadis. Ia lalu menutup jendela, meringkuk sendiri di kamarnya.

Malam ke-73, bulan masih juga tak muncul. Ratusan bintang masih bercahaya terang di dekat si gadis. Tapi ia enggan membuka jendela, ia meringkuk, memanggil-manggil bulan dari dalam tidurnya.

Waktu berbaik hati

Malam ke 127, bulan muncul, bukan di langit yang nun, melainkan di kamar si gadis, yang masih meringkuk sesenggukan. Bulan melangkah pelan ke arah si gadis. Ia lalu terbangun, merasakan hangat yang menyenangkan di dekatnya. Mereka lama bertatap, tak bisa berkata, atau bahkan cuma menyapa.

Waktu kembali dengan kuasanya
Waktu biarkan mereka berdua berdekapan.

Bulan dan si gadis, membeku, dalam pelukan Waktu.

Advertisements

24 Januari

menuju monasSungguh terasa, betapa bedanya hari ini dengan kemarin – kemarin yang lain. Belum juga terbiasa.

Hampir tengah malam, kendaraan masih riuh lalu lalang. Entah apa yang mereka cari. Atau sebenarnya mereka hanya berjalan saja, tak peduli kemana menuju, abai pada pagi yang sebentar lagi kembali. Gelas sudah kosong sedari tadi, tak ada lagi yang perlu dipercakapkan, tapi kaki belum juga beranjak ingin pulang. Masih ingin diam, tapi bukan di tempat ini, sepertinya bukan di sini.

Aku tak lagi di persimpangan, tak pula di tempat perhentian yang kuangankan. Tak ada ragu untuk berjalan, hanya saja tak ingin lagi melanjutkan langkah, tidak juga ingin beristirahat, karena memang tak ada lelah. Masihkah hujan tempat melepas keluh seharian, seharian yang seperti ruang tunggu kosong stasiun yang ditinggalkan.

Malam ini, banyak yang ingin menebus kesalahan. Sekelompok orang berjalan bergandengan, masing – masing membawa bunga di tangan. Harum dupa masih tersisa ketika mereka meneguk minuman yang sama seperti di atas mejaku. Bedanya, tak ada bunga di tangan ataupun di belakang telingaku, tak juga harum cendana.

Hampir tengah malam, tempat ini kian riuh. Orang – orang tertawa, ada pula yang memandang bayangan diri di depan cermin sambil memperbaiki ikat kepalanya. Sesekali, beberapa di antara mereka menoleh ke arahku. Lalu kembali sibuk dengan dirinya masing – masing.

Gelas yang kosong sudah tergantikan dengan yang lain. Orang – orang lagi – lagi berdatangan. Harum dupa samar – samar tercium. Sungguh terasa, ada yang hilang seakan. Tak seperti kemarin, hari ini jadi lain. Tapi kaki tetap saja enggan beranjak, masih ingin diam.

Ah, sudah lewat tengah malam. Haruskah aku pulang?

17 Januari

sunSore itu aku tak punya kata. Tak pula mampu mencari cari sapaan yang tepat untukmu. Kau pun mengucapkannya juga. Dan aku tak merasakan apa – apa. Sore yang pucat lewat begitu saja. Malam seakan menungguku menjadi bagian kelengangannya. Aku tetap duduk di situ. Melihat lagi, membaca lagi, apa yang kauucapkan tadi.

Ada yang tak pernah kita sadari. Mulanya, semua terjadi begitu saja. Kau maupun aku menikmatinya, mungkin dengan cara yang berbeda. Ada yang coba kupungkiri, namun semakin mencobanya, hal itu kian memenuhi pikiranku.

Aku masih menulis, seperti ini, di malam hari. Tersimpan kelengangan pada tiap suara yang kudengar dari sudut kamarku. Celoteh orang rumah, petikan gitar adikku, suara TV, tik tok jam, gonggong anjing sesekali di kejauhan, bunyi serangga yang entah sembunyi di mana dan deru kendaraan yang menghilang samar begitu cepat.

Saat aku lelah rebah, kubuka tirai dan dengan sedikit enggan kusaksikan malam dari jendela kamarku. Terbayang seseorang di situ, melambai minta dibukakan pintu. Tapi, seperti biasa, itu hanya sekilas angan, yang tak nyata.

Malamku pun lewat seperti ini saja…

Ada yang ingin kutanyakan padamu, mungkin nanti bila ada sedikit waktumu untukku. Dan saat ini meski aku berharap segera lelap, mata ini tetap saja enggan terpejam.

Selamat malam, Matahari…

Penyuluhan pagi tadi

dscf4054Liburan memang selalu menyenangkan. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan. Mulai dari bersantai ria, aktivitas yang dapat menambah uang saku, sampai kegiatan sosial atau edukatif semisal penyuluhan yang tadi pagi saya lakukan.
Setelah kemarin berbagi wawasan dengan anak SMP N di Mengwi, pagi tadi saya dan kawan – kawan bertandang ke SMP WK (sebut saja demikian). Seperti biasa saya mendapat bagian Kespro (Kesehatan Reproduksi). Menurut teman saya, saya amat lihai membawakan materi ini. Jadi, tiap kali penyuluhan, saya selalu mendapat bagian Kespro. Yah, memang menyenangkan membicarakan topik yang satu ini, hehehe.
Tidak seperti SMP di Mengwi yang jumlah murid tiap kelasnya hampir 50 orang, anak sekolah di SMP WK terbilang sangat minim. Jumlah peserta penyuluhan hanya 31 orang, itu pun merupakan gabungan siswa kelas I dan II.   
Suasana di dalam kelas sekilas memang tampak biasa saja. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, anak – anak ini tidak dalam keadaan yang sempurna untuk menerima materi. Maksud saya, kesan awal, terlihat sekali anak – anak di hadapan saya kurang bisa memperhatikan situasi sekitar. Ada yang duduk termenung di bangkunya, ada yang menoleh ke belakang, ada yang bercanda, dan bahkan sesekali berteriak. Padahal, kami dan seorang guru telah berdiri di depan kelas. Tepat dugaan saya, hingga pertengahan materi pertama, perhatian mereka hamper – hamper tidak ada. Padahal, metode penyuluhan adalah diskusi dengan media gambar yang sangat menarik. Saya tak paham, apakah karena ini adalah penyuluhan dan bukan proses belajar mengajar, mereka tak begitu peduli.

Selang beberapa lama, keributan sungguh di luar kendali kami. Lalu, Bapak yang tadi meninggalkan kelas kembali. Dan kami amat terkejut dengan reaksi guru ini terhadap tingkah polah anak didiknya. Dengan “cekatan” dia menggunakan tangannya untuk “menasehati” seorang murid lelaki yang duduk di depan kelas. Kami berempat terkejut, semuanya terjadi begitu cepat. Lalu, suasana jadi benar – benar senyap (kalau di komik pasti ada tulisan “sriiiing”). Untuk kali pertama, saya melihat kekerasan macam ini terjadi di bangku sekolah.
Suasana senyap tak berlangsung lama, tapi sudah lebih baik daripada keadaan di awal. Mereka mulai merespon tiap pertanyaan yang diajukan kawan saya di sela – sela pemberian materi. Ternyata mereka cukup cerdas di tengah situasi yang menurut saya kurang mendukung terbentuknya sikap kritis remaja. Hingga pemberian materi terakhir yaitu mengenai NAPZA, situasi dapat dikatakan “terkendali”.

Hm, yah, tidak dapat dipungkiri, suasana pendidikan di negeri kita memang belum cukup memadai dengan kebutuhan siswa siswinya. Namun sepertinya keadaan ini dianggap biasa saja, asal anak – anak berseragam sekolah dan berangkat pergi dengan menggendong tak sekolah tiap pagi. Jadi, apa yang bsa dilakukan?! Ya, ini PR untuk kita semua.

3 Januari

Ingin rasanya hari itu terulang, malam yang sama, gerimis, jalanan, percakapan yang sama, pelukan, dan aroma tubuh yang sama. Apa yang  mungkin kau bayangkan saat itu aku tak pernah berani menduga. Namun hari ini, ketika aku memandangi dinding kamarku, bayangan itu begitu jelas, memenuhi kelopak lelah mataku.

Aku berkeras membiarkanmu berlalu. Dan yang kudapati kini adalah percakapan – percakapan riang yang masih tersimpan rapi. Satu per satu kubaca kembali, kubiarkan diriku mencari apa yang ingin kutemukan. Tapi tak ada apapun di situ selain sentuhan sesaat tanganmu.

Ada yang tak tertahan, di sini, ada yang terlampau sukar digapai.

Panggil namaku lagi. Panggil namaku dalam pengelanaanmu yang tak kunjung usai.

Tiap menit menuju jam yang sama. Aku ingin tidur, seperti waktu lalu. Membiarkan suaramu menghilang di balik situ, sampai kantuk benar – benar tak sanggup kutahankan.

Tiap menit menuju jam yang sama, malam ini, di sini. Tapi aku tak mendengar suaramu lagi. Dan aku tak ingin mendengar suara yang lain.

Hhh, ingin rasanya hari itu terulang. Andai saja mungkin, aku tak akan pernah membiarkanmu berlalu, apapun katamu.

Bukan Ini Yang Baik

Minuman, ternyata tak bisa membuat segalanya lebih baik. Sekaleng bir atau sebotol vodka, hanya memberi sekejap hangat. Buih yang bergemuruh di mulut, seakan menggigiti lidah, hanya itu sensasi sesaat yang justru semakin membuat hampa. Jadi, apa yang bisa dilakukan saat kau nelangsa. Berusaha lelap memejamkan mata, berjalan tak tentu arah, meneriaki ruang kosong di depanmu, mengumpat pada waktu, atau hanya terdiam.

Kemudian gelap pun lewat. Sudah hampir tengah malam, dan aku teringat harus pulang. Ada nyeri di kepala dan rasa kantuk yang tak biasa sedikit menggoyahkan kesadaranku. Mabukkah aku?!! Ah, mana mungkin, cuma sekaleng bir dan sebotol vodka. Tapi kenapa aku malah ingin kehilangan kesadaranku, saat ini, kesadaran atas waktu, atas ruang, atas semua orang, atas diriku sendiri.

Angin berhembus pelan, meninggalkan rasa dingin di tubuhku. Hei, hari masih pagi! Betapa senangnya aku mengasihani diri sendiri. Suara itu mendengung keras di telingaku. Aku pun teringat, Chairil mengungkap, ”Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak…. Kami sudah coba apa yang kami bisa// Tapi kerja belum selesai, belum apa – apa.” AH, malunya aku! Hanya sedikit soal di hati membuatku lupa diri, membiarkan lena pada rasa nelangsa yang percuma. Ini sungguh belum apa – apa, jika dibandingkan dengan apa yang kini tengah terjadi di sekitarku, persoalan yang tak hanya melulu perihal perasaan individu tetapi lebih pada kemanusiaan.

Huff, daripada bersibuk – sibuk bersedih hati, bukankah lebih baik aku lakukan apa yang kubisa, tetap bertahan menatap hari depan….. Semoga!

Kisah Sedih Layonsari

rainiadi manakah batas mata memandang langit
pada rapuh tangannya atau
pias pucat hatinya?

dia lelaki
dan tangisku
isak sajak kesepian

seekor kupu-kupu bersayap samar
hinggap di atas batu murung

adakah ia air mata kata-kata
yang melinang tak sengaja
atau kabar tak sampai
dari malaikat yang terusir