Suara Kereta di Ibu Kota

Setahun lalu, ketika menaiki kereta api dari Surabaya menuju Jakarta, seorang teman menanyakan bagaimana kira – kira rasanya tinggal di dekat lintasan kereta. Alangkah beruntungnya, angan teman saya itu jadi kenyataan, karena usai mengikuti JILFest (Jakarta International Literary Festival) di kawasan Kota Tua Batavia, kami menginap di sebuah museum milik Taufik Rahzen, seorang budayawan. Museum yang beralamat di Jalan Veteran I itu tepat berada di seberang rel kereta. Hampir tiap saat kami mendengar derunya, datang dan pergi. Bahkan, pada hari pertama, suara itulah yang membangunkan kami. Teman saya memang tak menceritakan perasaannya ketika itu. Namun, dari pandang matanya, sepertinya kami memikirkan hal yang sama ketika memandang gerbong demi gerbong yang menjauh.

Deru kereta yang melintas di seberang tempat kami menginap, kembali mengingatkan saya pada sebuah pernyataan, hari adalah kedatangan dan kepergian, perjumpaan maupun perpisahan. Di benak saya, kereta apilah yang menjadi lintas batas keduanya. Dua orang kawan lama yang tak pernah berjumpa melepas kerinduan setelah kereta tiba. Sepasang kekasih harus saling merelakan ketika seorang di antaranya mesti mencari penghidupan di kota seberang. Orang – orang yang meninggalkan tanah kelahirannya datang ke sebuah kota yang asing, berharap ada masa depan yang lebih baik di sana. Seorang pemuda yang telah begitu lama merantau, kembali ke kota di mana dia lahir dan mulai mengenal dunia. Peristiwa – peristiwa itu kurang lebih terjadi dalam waktu yang bersamaan dan bahkan berulang di dalam sebuah kereta.

Mengingat hal itu, mungkin saya tak akan tahan berlama – lama tinggal di dekat lintasan kereta. Sebab, tiap kali suaranya mendekat maka terbayang potongan kejadian – kejadian di atas. Di satu sisi ada orang – orang yang begitu berbahagia dengan pertemuan dan kedatangan sahabat atau kekasih yang mereka sayangi. Namun, di sisi lain banyak pula orang – orang yang berduka karena kepergian maupun perpisahan dengan rekan terdekat mereka.

Saya merasa ada kehampaan tersendiri di sana, di sebuah kereta. Klise memang, tapi saya jadi percaya kalau kereta dapat diandaikan sebagai saksi bisu aneka peristiwa itu. Lebih jauh lagi, saya bayangkan kereta itulah diri kita, dan lintasannya adalah hidup kita sendiri. Tiap jurusan adalah pilihan. Dan stasiun menjadi tempat mengenal ragam jalan tersebut, hingga pada akhirnya kita akan dengan mantap memasuki sebuah gerbong dan menyemangati diri sendiri untuk melalui hari – hari. Ah, sebelum saya berpikir terlampau jauh, mungkin saya hanya akan berkata pada diri saya, “Tahun baru ini, tiap kedatangan maupun kepergian harus membawa perubahan yang bermakna.”

bukan gambar kereta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s