Hanya Cerita

Kini, setelah sampai di kampung halaman, saya tersadar betapa tak mudahnya hidup di ibukota. Bayangkan saja, di belakang gemerlap mesjid Istiqlal nan megah, sekitar sepuluh orang tidur berderet beralas kardus. Ada anak – anak, orang tua, pria dan wanita. Keindahan rumah Tuhan tersebut seakan tak sempat mereka nikmati. Di tengah suara adzan, mereka terbangun, merapikan tempat tidur dari karton dan segera memulai hari.

Siapa yang bilang mereka adalah para pemalas yang hanya mengharap belas kasih orang. Saya melihat sendiri bagaimana mereka menghadapi pagi dengan begitu gigih. Usai merapikan “rumah”, saya saksikan sekelompok orang itu memulai aktivitas mereka, meski tidak mengetahui secara pasti apa yang tengah mereka lakukan, saya melihat tak ada satupun dari mereka yang berpangku tangan, atau melamun tak karuan.

Kini setelah tahun berganti, terlintas pertanyaan dalam benak saya. Apa kiranya makna tahun baru bagi mereka. Apakah, seperti halnya kita, mereka merayakannya dengan penuh suka cita, memanjatkan doa seraya berangan tentang hari esok. Entahlah.
batavia

2 thoughts on “Hanya Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s