6 Desember II

Sedang kau memilih untuk melupakan. Biar lelahmu jauh, pergi bersama hari, melintas sendiri ke dalam ruang lain yang bukan milik siapa siapa. Bagaimana kau menolak semua pertanda kepulangan, sementara seorang bergaun biru menunggumu, jadi payung untuk semalam hujan.

Pagi berkali mencumbuku, lepas dari mimpi. Malam telah datang sebelum sempat kurasakan cahaya terakhir senja yang penuh warna jingga. Tapi, bosan mungkin sudah lebih dulu menggodamu. Menikung ke arah lain, tanpa melambai padaku ataupun meninggalkan kartu ucapan selamat tinggal. Jika saja kau datang kemarin, akan kita saksikan seruan riang burung camar, atau suara angin memanggil manggil nama kita. Tanganmu tanganku terulur ke arah waktu, menyatu bersama hari, dan sejenak melupakan masa lalu.

Ada yang ingin kusampaikan padamu. Tapi kau berdiam di ujung sana. Isyarat dariku benam dalam derai tawa, yang hanya kudengar dari tempatku ini. Makin larut kau dalam waktu milikmu, makin jauh aku menikmati sepi yang entah mulai kapan kuakrabi. Masih teringat, bagaimana malam terhampar begitu lapang, menyisakan ruang di mana aku tak mampu menyentuh wajahmu, atau membiarkan diriku bersandar, menyeruput sedikit hangat dari tubuhmu.

Baikkah bila segera saja kita lewati jalan ini, tanpa peduli lagi, apakah kita akan sesat atau tak lagi mengenali jalan kembali. Tanpa peduli, seperti apakah tempat yang kita capai nanti. Berharap lebih leluasa menggurat cerita yang kita mulai bersama.

Aku masih menatap ujung jalan ini. Berharap kau yang datang, menjemputku pergi. Bercerita tentang warna warna di luar sana. Tak ada lagi jejak lain yang dulu senantiasa kudapati tiap pagi. Mungkin waktu telah menghapusnya bersama debu jalanan dan cahaya matahari yang riang. Bersamaan akan datangnya dirimu. Namun, akankah kita berakhir seperti mereka. Satu dua orang berjabat tangan, berpisah jalan. Padahal masih kuingat jelas, jalan yang lengang selapang hati yang ingin riang, telah kautunjukkan padaku. Dan kita berjanji akan menyusurinya sekali lagi. Mengucap selamat jalan pada kenangan dan menyambut hari depan impian.

Akankah kita berakhir seperti mereka. Berpisah jalan sebelum sampai di ujung perhentian yang kita inginkan?

5 thoughts on “6 Desember II

  1. “Sedang kau memilih untuk melupakan” atau “Sedang memilih untuk melupakanmu”

    Hmmm..bahasa tingkat tinggi..

    Salam kenal

  2. nice sist…

    hanya waktu..
    Rasanya ingin aku kembali ke masa kecil saat semua orang mempunyai banyak waktu luang untuk berbicara dan mendengarkan.. dan aku ingin mendengar setiap celotehan bodoh dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku yang absurd. dengarkanlah.. hiduplah.. dan bernyanyilah..

  3. @untuk diri sendiri : hm, Satu dua orang berjabat tangan, berpisah jalan,,, absurd… ini memang salahku, sekarang aku yang mesti memperbaikinya, tapi usahaku sia – sia, hingga detik ini,,,aku takut aku putus asa lagi,,,SEMANGAT RASTI!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s