Musim Hujan dan Ayahku

untuk siapa batas mata terbuka
suara hujan di ujung tikungan
atau selinang embun
di ujung daun?

tak ada kunang-kunang atau bulan
di senyap hari
tak ada igauan
selain langit yang berseru
untuk nasibnya sendiri

senyum di wajahmu sederai gerimis
aku terbaring di sisian petang
masih membayangkan hari minggu
yang dijanjikan

musim hujan telah sampai
di atap rumah
kau tengadah di atas tikar
mengenang dingin
         : setapak jalan ke masa silam
         taman hijau, danau biru
         selendang kelabu yang tertinggal
di pangkuan

tak ada burung atau pelangi
di senyap hari
tak ada air mata yang melinang sengaja
selain hati kelana
yang memilih pergi

 

Dimuat di Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s