Ojek Sepeda, yang langka

Setiap perjalanan selalu menyimpan banyak cerita. Apalagi mengunjungi tempat – tempat baru yang sebelumnya hanya bisa dilihat lewat peta. Nah, itulah yang saya alami beberapa minggu yang lalu. Dari sekian banyak peristiwa menarik dalam perjalanan tersebut, ada satu yang cukup berkesan, yakni menyusur jalanan Kota Tua Batavia dengan menaiki ojek sepeda.

Hal ini menjadi menarik karena di Bali saya belum pernah menjumpai ojek sepeda yang seperti di kota ini. Dan menurut sang sopir, ojek jenis ini hanya ada di 2 kota di Indonesia yakni Tanjung Priok dan Batavia. Validnya pernyataan sopir yang bertubuh kurus itu mungkin tak perlu saya bahas di sini. Karena sisi menariknya justru ada pada pengalaman menaiki ojek yang menurut saya sangat langka ini.

Di halaman museum Wayang yang kesemarakannya sangat mirip dengan Renon ini, bisa dijumpai beberapa orang yang siap menawarkan ”kendaraannya”. Jika ada yang takut menaikinya, para sopir menawarkan jasa foto. Tapi bukan berfoto bersama mereka melainkan bersama sepeda tuanya. Yah, sebelumnya prosesi tawar menawar tetap harus dilakukan. Dan para sopir ini begitu lihai menentukan harga (atau mungkin saya yang tak begitu mahir menawar). Setelah sepakat soal harga jasa ojek ini, saya segera menaiki sepeda tua tersebut.

Hm, sebenarnya saya agak kasihan pada sang sopir yang bertubuh kurus ini. Umurnya mungkin sekitar 40 tahun. Kulit coklatnya benar – benar menunjukkan kalau kesehariannya dihabiskan di jalanan Batavia yang riuh. Tapi, senyum dan anggukan mantap yang ditujukannya pada saya, mengikis keraguan saya.

Fiuh, lima belas menit yang mengesankan. Sambil tetap memegang pundak sang sopir, saya rasakan tiupan angin yang pelan menerpa wajah saya. Dengan gesit sepeda tua ini meliuk di tengah keriuhan jalanan siang itu. Meski ada perasaan cemas, karena lalu lintas dan gaya berkendara ala sang sopir yang tidak begitu peduli pada suara nyaring bel dan deru kendaraan lainnya, saya tetap menikmati suasana ini.

Sampai di tempat tujuan, sang sopir agaknya kelelahan. Lalu, dengan bergegas dia kembali mengayuh sepedanya. Saya perhatikan sang sopir dan sepeda tuanya sampai mereka menghilang di tikungan. Saya kembali teringat tubuh kurus, kulit coklat, dan penampilan sang sopir yang sangat bersahaja tadi. Lalu, saya perhatikan di depan saya, berdiri megah Hotel Batavia dengan para penjaga yang berpakaian rapi dan berkulit bersih. Ah, alangkah berbeda, pikir saya.
naik ojek

Advertisements

Suara Kereta di Ibu Kota

Setahun lalu, ketika menaiki kereta api dari Surabaya menuju Jakarta, seorang teman menanyakan bagaimana kira – kira rasanya tinggal di dekat lintasan kereta. Alangkah beruntungnya, angan teman saya itu jadi kenyataan, karena usai mengikuti JILFest (Jakarta International Literary Festival) di kawasan Kota Tua Batavia, kami menginap di sebuah museum milik Taufik Rahzen, seorang budayawan. Museum yang beralamat di Jalan Veteran I itu tepat berada di seberang rel kereta. Hampir tiap saat kami mendengar derunya, datang dan pergi. Bahkan, pada hari pertama, suara itulah yang membangunkan kami. Teman saya memang tak menceritakan perasaannya ketika itu. Namun, dari pandang matanya, sepertinya kami memikirkan hal yang sama ketika memandang gerbong demi gerbong yang menjauh.

Deru kereta yang melintas di seberang tempat kami menginap, kembali mengingatkan saya pada sebuah pernyataan, hari adalah kedatangan dan kepergian, perjumpaan maupun perpisahan. Di benak saya, kereta apilah yang menjadi lintas batas keduanya. Dua orang kawan lama yang tak pernah berjumpa melepas kerinduan setelah kereta tiba. Sepasang kekasih harus saling merelakan ketika seorang di antaranya mesti mencari penghidupan di kota seberang. Orang – orang yang meninggalkan tanah kelahirannya datang ke sebuah kota yang asing, berharap ada masa depan yang lebih baik di sana. Seorang pemuda yang telah begitu lama merantau, kembali ke kota di mana dia lahir dan mulai mengenal dunia. Peristiwa – peristiwa itu kurang lebih terjadi dalam waktu yang bersamaan dan bahkan berulang di dalam sebuah kereta.

Mengingat hal itu, mungkin saya tak akan tahan berlama – lama tinggal di dekat lintasan kereta. Sebab, tiap kali suaranya mendekat maka terbayang potongan kejadian – kejadian di atas. Di satu sisi ada orang – orang yang begitu berbahagia dengan pertemuan dan kedatangan sahabat atau kekasih yang mereka sayangi. Namun, di sisi lain banyak pula orang – orang yang berduka karena kepergian maupun perpisahan dengan rekan terdekat mereka.

Saya merasa ada kehampaan tersendiri di sana, di sebuah kereta. Klise memang, tapi saya jadi percaya kalau kereta dapat diandaikan sebagai saksi bisu aneka peristiwa itu. Lebih jauh lagi, saya bayangkan kereta itulah diri kita, dan lintasannya adalah hidup kita sendiri. Tiap jurusan adalah pilihan. Dan stasiun menjadi tempat mengenal ragam jalan tersebut, hingga pada akhirnya kita akan dengan mantap memasuki sebuah gerbong dan menyemangati diri sendiri untuk melalui hari – hari. Ah, sebelum saya berpikir terlampau jauh, mungkin saya hanya akan berkata pada diri saya, “Tahun baru ini, tiap kedatangan maupun kepergian harus membawa perubahan yang bermakna.”

bukan gambar kereta

Hanya Cerita

Kini, setelah sampai di kampung halaman, saya tersadar betapa tak mudahnya hidup di ibukota. Bayangkan saja, di belakang gemerlap mesjid Istiqlal nan megah, sekitar sepuluh orang tidur berderet beralas kardus. Ada anak – anak, orang tua, pria dan wanita. Keindahan rumah Tuhan tersebut seakan tak sempat mereka nikmati. Di tengah suara adzan, mereka terbangun, merapikan tempat tidur dari karton dan segera memulai hari.

Siapa yang bilang mereka adalah para pemalas yang hanya mengharap belas kasih orang. Saya melihat sendiri bagaimana mereka menghadapi pagi dengan begitu gigih. Usai merapikan “rumah”, saya saksikan sekelompok orang itu memulai aktivitas mereka, meski tidak mengetahui secara pasti apa yang tengah mereka lakukan, saya melihat tak ada satupun dari mereka yang berpangku tangan, atau melamun tak karuan.

Kini setelah tahun berganti, terlintas pertanyaan dalam benak saya. Apa kiranya makna tahun baru bagi mereka. Apakah, seperti halnya kita, mereka merayakannya dengan penuh suka cita, memanjatkan doa seraya berangan tentang hari esok. Entahlah.
batavia

6 Desember II

Sedang kau memilih untuk melupakan. Biar lelahmu jauh, pergi bersama hari, melintas sendiri ke dalam ruang lain yang bukan milik siapa siapa. Bagaimana kau menolak semua pertanda kepulangan, sementara seorang bergaun biru menunggumu, jadi payung untuk semalam hujan.

Pagi berkali mencumbuku, lepas dari mimpi. Malam telah datang sebelum sempat kurasakan cahaya terakhir senja yang penuh warna jingga. Tapi, bosan mungkin sudah lebih dulu menggodamu. Menikung ke arah lain, tanpa melambai padaku ataupun meninggalkan kartu ucapan selamat tinggal. Jika saja kau datang kemarin, akan kita saksikan seruan riang burung camar, atau suara angin memanggil manggil nama kita. Tanganmu tanganku terulur ke arah waktu, menyatu bersama hari, dan sejenak melupakan masa lalu.

Ada yang ingin kusampaikan padamu. Tapi kau berdiam di ujung sana. Isyarat dariku benam dalam derai tawa, yang hanya kudengar dari tempatku ini. Makin larut kau dalam waktu milikmu, makin jauh aku menikmati sepi yang entah mulai kapan kuakrabi. Masih teringat, bagaimana malam terhampar begitu lapang, menyisakan ruang di mana aku tak mampu menyentuh wajahmu, atau membiarkan diriku bersandar, menyeruput sedikit hangat dari tubuhmu.

Baikkah bila segera saja kita lewati jalan ini, tanpa peduli lagi, apakah kita akan sesat atau tak lagi mengenali jalan kembali. Tanpa peduli, seperti apakah tempat yang kita capai nanti. Berharap lebih leluasa menggurat cerita yang kita mulai bersama.

Aku masih menatap ujung jalan ini. Berharap kau yang datang, menjemputku pergi. Bercerita tentang warna warna di luar sana. Tak ada lagi jejak lain yang dulu senantiasa kudapati tiap pagi. Mungkin waktu telah menghapusnya bersama debu jalanan dan cahaya matahari yang riang. Bersamaan akan datangnya dirimu. Namun, akankah kita berakhir seperti mereka. Satu dua orang berjabat tangan, berpisah jalan. Padahal masih kuingat jelas, jalan yang lengang selapang hati yang ingin riang, telah kautunjukkan padaku. Dan kita berjanji akan menyusurinya sekali lagi. Mengucap selamat jalan pada kenangan dan menyambut hari depan impian.

Akankah kita berakhir seperti mereka. Berpisah jalan sebelum sampai di ujung perhentian yang kita inginkan?

6 Desember

Aku  memang tak pernah tau, kemana waktu akan membawa perjalanan ini. Sepertinya ia begitu riang bermain di antara kita. Kadang aku sedih saat menyadarinya, dan kau datang membawa senyum bahagia yang tak kusadari selalu membuatku rindu. Akankah kini, aku mulai lelah sendiri. Aku ingin sekecup basah di bibirku, penghilang dahaga saat tak ada sedikit minumam pun tersisa. Aku ingin sentuhan lembut di kepalaku, atau rabaan hangat menyusur lekuk wajahku. Aku ingin nyanyian memenuhi diriku, mencium wangi yang senantiasa kurindukan

Burung Kecil

Burung di langit kecil
Untukkukah ciuman bimbang di paruhmu?

Siulmu cuma sampai atap
Dnding kamarku tak ingin gema yang dulu

Sayap sayap mu kukumpulkan satu satu
Ingin jadi lukisan
          atau sekadar hiasan
Untuk hati di lengang hari

Datanglah sebelum petang
Sebelum habis layangan terulur
Sebab aku harus tidur

 

Dimuat di Kompas