Antara Jumat, Sabtu, dan Minggu

Hampir setiap saat, aku selalu menantikan hari Jumat dan Sabtu. Tidak hanya karena kedua hari itu adalah saat – saat berakhir pekan, tetapi juga waktu di mana aku bisa melepas bebas dari seluruh rutinitas harian, yang seringkali melenakanku dalam siklus yang terlalu pasti ujung pangkalnya.  Rasa bosan selalu saja menggodaku untuk mengeluh bahkan merasa pasrah menjalani hal itu. Padahal, aku sadar, saat ini adalah masa masa kebebasan yang mesti dinikmati. Sebab, menurut beberapa orang yang sudah lebih dulu terjun dalam “hidup yang sesungguhnya”, hari – hari kuliah, meskipun penuh tugas dan ujian, jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan dunia kerja, yang melulu soal tanggung jawab, batasan – batasan, dan pekerjaan yang tidak mungkin diabaikan.

Yang terpenting, tentu saja, tak ada jam sekolah, jam kuliah, ataupun jam kerja, yang membatasi hal – hal yang ingin kulakuan. Jika ingin mengobrol selalu ada kawan yang dengan riang menemani, jika tak ingin pergi kemanapun, cukup berdiam diri dan membaca sepanjang hari, atau menonton film berulang – ulang pada bagian favoritku. Mendengarkan musik, menulis hingga kehabisan kata – kata, melamunkan orang yang ku suka, dan apapun yang tak terbatas waktu.

Lalu, aku pun tersadar, Senin telah tiba. Karena itulah, aku tidak menyukai hari Minggu, terutama malam hari. Sebab terbayang, betapa banyak hal yang mesti diselesaikan keesokan harinya. Dan yang paling disayangkan, semua kegiatan telah teragenda, mulai dari bangun tidur, pergi ke kampus, pulang ke rumah, mengulang materi kuliah, mengerjakan Learning Task, berpikir untuk mencari uang saku tambahan, bersih – bersih sore, malam, dan kemudian lelap. Tapi ada banyak hal yang membuatku bertahan, senyum riang Ayah dan Ibu, gurauan adik – adikku, kawan – kawan yang senantiasa berkabar, dan tentu saja puisi. Betapa beruntungnya aku, mengenal keindahan kata – kata itu. Saat begitu penat dengan perkuliahan, begitu cemas dengan bayangan dunia kerja, puisi memberi keteduhannya sendiri. Selalu hadir dan dengan tulus menemani.

Dan seketika itu pula aku sadar bahwa aku terlalu banyak mengeluh dan merasa tidak puas dengan hidupku, seketika pula terbayang masih banyak orang yang terlunta dalam nasibnya, tak berdaya dengan hari yang terus menggerogoti dirinya. Mereka yang mengenal kesenangan hanya dari sesuap nasi. Mereka yang tak henti menengadah ke langit, berharap sedikit keajaiban akan menuntun mereka pada esok pagi yang menyenangkan. Seketika pula terbayang, betapa kerasnya usaha orang orang di sekitarku untuk menjadikanku seperti sekarang. Jadi, mengapa aku merasa bosan dan tak henti mengeluh perihal hidupku. Banyak yang bisa kukerjakan, banyak hal yang tak boleh kuabaikan. Itulah sebabnya, mulai saat ini, aku berusaha menyukai Minggu. Dan tentu saja mewujudkan harapan dan doa Ayah Ibuku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s