Surat

Tak kan habis kuziarahi lekuk tubuhmu, penyair
Sebab celah-celah usang yang menganga itu
Bahasa bisu dalam surat-surat cinta yang tak terbalas
Entah dari seberang tempatmu
meminum anggur
Atau dari Tuhan yang kebingungan

Malam ini kembali kulihat tubuhmu, penyair
Di antara lampu-lampu biru,
Gadis-gadis yang membaca buku
Di stasiun kecil tempatmu
menunggu kata-kata
 selintas makna
 selugas cinta
 
Sesaat kusentuh rambutmu, penyair
Bau gerimis yang basah berkali kucium
Sejak kautinggalkan ciumanmu di keningku
Sampai kapan aku menunggu?

Surat cintaku memang tak pernah kaubalas, penyair
Sebab resahku belum mampu menutupi celah-celah usang
yang menganga pada sajak-sajakmu
Sampai kapan aku menunggu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s