Pertemuan Sore Lalu II

Pertemuan Sore Lalu II

Hujan tak akan menghapus masa silam. Namun, biar ia basah di tubuhmu, menghapus segala pilu yang mengurungmu. Sebab aku bukanlah rumah, bukanlah payung atau tempat teduh yang indah. Kau belum sampai pada hening mataku, hanya melihat sebagian kolam biru yang penuh lumpur di dalamnya. Berteduhlah pada hari yang sungguh membuatmu rindu.

Pernah aku menganggapmu sebagai kelana, hanya mencari tempat sejenak singgah, meninggalkan langkah pasrah yang indah. Siapa yang tahu kau malah lari menghampiri masa lalu. Dan pagi akan datang lebih dulu padamu. Memberikan kecup terhening bulan, yang tergantikan. Atau setitik embun dari ujung dedaunan. Maka biarkanlah malam kali ini menemani riangmu, saat kau mencoba mengenali lagi hari ini, hari yang hanya milikmu. Kadang kau malah tampak seperti Rumi, melepas bebas dengan anganmu, gagah menengadah pada langit biru, seolah tak lagi terikat hari atau sepi yang berulang ingin kau ceritakan padaku.

Kaujanjikan angin dingin yang menyejukkan, yang tak sekadar semilir angan masa lalu yang coba kauabaikan. Sebab waktu seperti alir air dan kita ada di dalamnya, berenang tak henti, berharap menemukan muara yang kita cari. Jauh di seberang atau justru di hati. Dan aku ingin tahu arah yang kutuju, muara yang penuh pohon teduh, sungai kecil tempat melepas lelah, berkeluh kesah. Mungkin kita akan bertemu di situ, bercerita tak henti tentang apa saja yang menarik hati. Atau kita hanya akan terdiam, hanya terdiam, menerka kesendirian masing masing.

Kau punya masa lalu yang indah. Hanya karena sebuah hari, segala rindu berubah kelu. Sedang aku hanya kumbang peragu yang resah. Aku bukan pelangi yang lebih dulu memukaumu. Siapa yang tahu ia hanya ada dalam anganmu, berulang melenakanmu, tapi nyatanya ia hanya segenap warna putih yang sederhana, tak mampu menengahi gigilmu, tak mampu mengakhiri basah hari di tubuhmu. Sedang aku, tetap saja dengan lugu meniru gerak kupu kupu, atau diam jadi arca kenangan yang penuh lumut, duduk sendiri hingga bayanganku hilang di tepian kolam.

Bagaimana kau menutup pintu itu, sambil tetap menunggu seseorang datang mengetuk pelan, membuyarkan lamunanmu tentang masa silam. Bagaimana kau melupakan tiap belaian, tiap hembusan napas yang begitu akrab. Pernahkah kau menimang ulang hari yang hilang, mengenang bimbang jalan lain untuk sampai di seberang. Mungkin hanya doa yang kau panjatkan menjadi penunjuk jalan saat malam memurungkanmu dalam gelapnya yang sempurna.

Seringkali, aku hanya ingin mendengar ceritamu, bersama dengan malam yang lewat tak terasa, dan penunjuk waktu yang tiba tiba berada di angka 12. Atau hanya mendengarmu memanggil namaku. Indah terasa mengingat seseorang berulang menyebut namaku, berkata bahwa hari tak sempurna tanpa mengetahui kabarku. Tak terbayangkan, apa jadinya jika kau bosan bicara dengan diamku. Berpaling pada cahaya lain yang mirip pelangimu.

Lalu, sanggupkah aku menatap punggungmu, saat tiba tiba kau berlalu, meninggalkan sayat luka yang baru?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s