Pertemuan Sore Lalu I

Adakah sebuah jalan seandainya aku berkeras menemukanmu. Menimang lagi hari lalu, berharap ada jejakmu di situ. Akankah kau datang, menawarkan sedikit penghilang sakit untukku. Terselip ragu, kau akan berlalu seperti pagi, meniru gerak jam yang tak mungkin kembali. Kita akan saling menggenggam, berbagi hangat yang tinggal sekejap. Garis halus tanganmu, ujung jari yang lembut, semua itu lagi lagi hanya akan menjadi kenangan, hanya kenangan. Sementara langit masih saja biru, awan bergerak pelan seolah benar benar tahu kemana mereka menuju. Padahal kau pun tahu tak ada ujung perhentian di atas situ.

Masihkah nyanyian itu terdengar di antara cerita yang kau mulai dengan tanya. Padahal aku tak tahu adakah ruang untukku melepas pilu. Malam hening, bulan hilang pelan, dan kita angankan pijar bintang. Menyentuh wajah kita yang sama termangu. Entah di sudut mana kau terdiam, mencatat detik yang terlambat. Setelah pertemuan itu, kau mungkin akan beranjak, dan aku hanya mampu membayangkan hening matamu, sebab waktu beku di situ. Sedang tarianku hanyalah gerak lugu kupu kupu yang tak tahu duri mawar menusukku.

Setiap tempat seperti ruang tunggu kosong. Setiap desir angin seperti penanda untuk kembali pulang. Jadi, adakah tersisa sepenggal sore yang aku dan kau nantikan? Meski aku bukan Layla, kau bukan Majnun rupawan yang gila. Ada riang yang terkenang, ada pilu terbawa waktu. Oktober seperti jalanan yang tak selesai kita susuri, tanpa perhentian ataupun ucapan selamat datang, dari setiap orang yang melintas. Mungkin aku hanya serangga sesat yang lupa jalan pulang, berhenti di tiap tikungan, berharap ada penanda lain menuju rumah. Tapi hanya angin dingin yang kudapati menyentuh bibirku.

Kau datang begitu saja. Menepuk pundakku dan menunjukkan jalan lapang yang terang. Apakah ini hanya mimpi yang lekas pergi, begitu pagi menyentuh, dan embun jatuh pelan dari kelopak mawar. Benarkah ini ujung perhentian yang kuinginkan, atau hanya sebatas pandang dalam ingatan.

Akankah datang hari lain saat aku tak perlu bimbang melangkah ke depan. Atau, hari ini mungkin adalah kemarin yang kuangankan, bermimpi ada tikungan lain yang menyenangkan, di mana waktu tak punya usia, tak pernah punya usia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s