18 Mei

isak sajakku tangis kesepian
seorang gadis
di ruang tunggu stasiun kecil

angin mendesah gelisah
di pinggir jendela
seakan membayangkan
tubuhnya genangan murung
para pecinta yang berakhir
di tiang-tiang penyaliban

di hari lain
akulah kursi-kursi itu
yang memandangi senja berlalu
berharap angin yang angkuh
membawa kabar dari seberang
walau hanya debu kumal yang sia-sia

di gerbong terakhir
hanya ringis seorang masinis
yang ragu-ragu
di tikungan mana ia hentikan keretanya

hanya aku yang paham
kemana kereta-kereta melintas bergegas
sebab di rel-rel yang lengang
kulihat jejak gemetar langkahmu
usai kautinggalkan
ciumanmu di keningku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s