Sua III

Seringkali kubayangkan diriku adalah waktu. Kau, kelana muda yang menyusuri jalanan dan lorong-lorong dalam ingatan dan masa silam. Biar kubacakan cerita tentang sepasang burung jatuh cinta di menara suci kota Paris. Dimana arca penuh lumut mengikrarkan cumbuan dalam diam. Keheningan milik waktu dan mungkin juga Tuhan.

Sedang puisi lahir dari peluh dan keluh. Jalanan kata-kata yang mempertemukan kita. Nyanyikanlah sajak-sajakku yang belum selesai. Kau pun akan tahu matahari sampai juga pada halaman terakhir yang kujanjikan. Riuh arus yang bermuara di hati. Sungai kecil para kelana. Langit yang mendung, layangan yang jauh. Tubuhmu, tubuhku milik waktu

Wajah di depan cermin seperti dirimu dan cahaya pagi telanjur mengekalkannya dalam kepedihan. Segalanya bagimu terlampau jenuh. Cuma sebentuk jejak yang ditinggalkan perempuan. Kau tahu, ratusan cahaya telah datang menawarkan pagi dan sebentuk mimpi. Namun, belum dapat kubuka semua pintu. Karena cahaya yang lahir dari nyanyianmu telanjur mendahului segala cahaya.

Jadi, darimanakah segalanya bermula? Kupu-kupu yang sesat di pangkuan, nyanyian riang yang terlupakan, atau aku yang sendirian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s